Showing posts with label DKI Jakarta. Show all posts
Showing posts with label DKI Jakarta. Show all posts

Monday, July 2, 2018

Sayur Godog

Campuran sayur berbahan dasar kentang dan soun ini juga merupakan salah satu sayur yang populer di kalangan masyarakat Betawi. Paduan rasa dari kentang dan soun yang lembut, bercampur dengan petai serta kuah santan yang gurih, menghasilkan cita rasa yang khas. Bila ditambah dengan sambal godog, akan menambah rasa nikmatnya. Sayur ini kerap disajikan untuk acara hajatan dan kenduri sederhana. Bahan yang digunakan adalah kentang potong dadu, petai, rebus, lengkuas, daun salam, santan sedang, daging berlemak dipotong dadu, air, garam, gula pasir, dan minyak untuk menumis. Adapun bumbu yang digunakan adalah cabe merah, bawang merah, bawang putih, kemiri sangrai, terasi goreng. Cara membuatnya daging direbus hingga empuk dan matang. santan, daun salam dan lengkuas lalu ditambahkan. Bumbu halus ditumis hingga harum lalu tumisan bumbu dimasukkan ke dalam santan dan dimasak hingga mendidih. Terakhir, kentang, soun, dan petai dimasukkan hingga matang.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sayur Rebung

Sayur Rebung merupakan variasi sayur yang banyak dihidangkan sebagai menu makanan sehari-hari. Hidangan ini banyak terdapat pada masyarakat Betawi pinggir. Bahan yang digunakan adalah rebung di potong-potong, daging udang, blender, cabe rawit, daun salam, lengkuas, santan kental sedang, garam, gula pasir, dan petai. Bumbu yang dihaluskan adalah kunyit, bawang putih, cabe rawit merah, dan kencur. Adapun cara pembuatannya adalah semua bahan direbus sampai mendidih. Bumbu halus dimasukkan, dan dimasak hingga semua matang.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sayur Lodeh

Sayur lodeh merupakan mirip dengan sayur asem karena berbahan dasar yang sama. Perbedaannya terletak pada kuah santan yang ditambahkan ke dalam sayur, juga pemakaian petai untuk memperkuat rasa. Persebaran sayur ini merata hampir di seluruh wilayah Jabodetabek. Sayur lodeh disajikan sebagai makanan sehari-hari. Bahan yang digunakan adalah wortel, jagung muda, daun melinjo, terong, kaldu, daun salam, dan petai. Bumbu yang dihaluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe merah, garam, dan santan. Cara pembuatan sayur lodeh adalah sayur dicuci bersih lalu dipotong-potong dengan ukuran sedang, bumbu dihaluskan dan kaldu dididihkan. Bumbu dimasukkan ke dalam kaldu. Sayur yang keras seperti jagung, petai dan wortel terlebih dahulu dimasukkan. Setelah setengah matang, sayuran yang agak lunak seperti daun melinjo dan terong lalu dimasukkan. Biasanya disajikan dengan sambal dan tempe goreng.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sayur Laya

Sayur berbahan dasar kerang ini sering menjadi menu makanan sehari-hari masyarakat, terutama masyarakat Betawi yang tempat tinggalnya dekat dengan sungai. Sayur ini dimasak tanpa membuang kulit kerang terlebih dahulu, sehingga aroma dan rasa kerang sangat kuat tercampur dengan kuah bumbu yang kaya rasa. Masakan ini juga dkenal sebagai obat untuk sakit kuning. Bahan yang digunakan kerang kecil, ketumbar, kunyit, bawang merah, bawang putih, jahe, serai, daun salam, dan garam.

Adapun cara pembuatannya bumbu ditumis sampai kuning dan wangi. Kerang direbus sampai setengah matang, lalu ditiriskan. Kerang dengan bumbu dicampur, ditambah egelas air putih, daun salam, dan serai.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sayur Besan

Sesuai dengan namanya, sayur ini dipergunakan sebagai menu hantaran sewaktu calon besan hendak melamar calon menantu pada prosesi pernikahan adat Betawi. Dapat pula menjadi menu makanan sehari-hari meskipun lebih sering disajikan pada acara-acara adat tertentu. Bahan untuk membuat sayur besar adalah awang merah, bawang putih, cabe merah keriting, kemiri, minyak goreng, daun salam, santan, kol, iris persegi, telubuk, merica bubuk, gula pasir, soun, irisan seledri, dan bawang goreng. Cara membuatnya adalah bahan ditumis dengan minyak, lalu ditambah santan. Daging dan bahan ditumis, ditambahkan santan dan sedikit air, setelah itu Soun dimasukkan dan dimasak hingga kental. Terakhir, hidangan disajikan dengan bawang goreng dan seledri.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Laksa

Laksa adalah hidangan yang sering disajikan pada saat hari raya Lebaran. Hidangan ini mempunyai rasa yang khas dan sangat pas bila ditambahkan sambal godog sehingga memperkaya rasanya. Ada pula varian laksa yang biasanya dibuat dalam perayaan hajatan pernikahan, oleh karena itu dinamakan Laksa Penganten. Bahan pembuatan laksa adalah santan kental, santan encer, dan dada ayam dicuci dengan jeruk. Bumbu yang dihaluskan adalah serai, daun salam, daun jeruk purut, bawang merah, bawang putih, cabe merah, sdm ketumbar, kemiri, garam, gula merah, ruas kunyit, lengkuas, dan jahe diparut. Adapun cara pembuiatannya adalah bmbu ditumis halus dengan minyak goreng sampai wangi, lalu santan encer dan bumbu dimasukkan. Ayam diangkat, disuwir-suwir, dan ditambahkan santan kental sampai mendidih, dan dn ditata di mangkok, taoge dicelupkan dengan saringan ke dalam kuah laksa, dan ditambahkan bawang goreng.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Pepes Ikan Peda

Serupa dengan Ikan Peda Jagung, hanya pada makanan ini ikan peda disajikan kering, baru kemudian dipepes dan ditambahkan bahan-bahan lain sebagai pelengkapnya. Makanan ini juga merupakan makanan sehari-hari yang ’merakyat’ dan tersebar merata di wilayah kebudayaan Betawi. Bahan yang disediakan yakni ikan peda dan bumbu seperti daun salam, serai, garam, gula pasir, air asam, tomat, daun kemangi, dan cabe merah. Adapun cara membuatnya Ikan peda digoreng sampai setengah matang, kemudian dikukus sebentar. Bahan pelengkap seperti cabe, bawang merah, bawang putih dan tomat ditambahkan. Terakhir, Ikan peda yang telah dikukus disiram dengan tumisan tadi dan siap disajikan.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Ikan Peda Jagung

Makanan sehari-hari ini sangat populer di kalangan masyarakat Betawi. Cara masaknya cepat dan bahan-bahannya cukup sederhana, menjadikan makanan ini ’makanan rakyat’ yang diajikan sehari-hari di kalangan masyarakat Betawi. Persebaran makanan ini merata di seluruh wilayah kebudayaan Betawi, meskipun pada beberapa tempat terdapat variasi pengolahan dan bahan-bahan yang dipakai untuk menyajikannya. Bahan yang disediakan adalah ikan peda, cabe merah, bawang merah, bawang putih, tomat kecil, daun bawang, jagung manis, dan garam. Adapun cara pembuatannya adalah bawang merah dan bawang putih ditumis, lalu dicampur dengan cabe, tomat dan jagung. Satu buah petai dimasak hingga layu, semua bumbu ditumis hingga matang dan terakhir diberi irisan daun bawang.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Pindang Bandeng

Pindang Bandeng merupakan menu alternatif untuk menemani sarapan pagi. Biasanya pindang ini dimasak sore hari, untuk kemudian disajikan pada pagi harinya setelah dipanaskan terlebih dahulu. Pada daerah tertentu seperti di daerah Tugu Jakarta Utara, banyak masyarakat menyebut makanan ini Pindang Serani. Hal ini konon karena jaman dahulu sebagian besar masyarakat di daerah ini beragama Nasrani dan sangat menyukai hidangan ikan ini. Oleh karena itu mereka mengabadikan nama sajian ini menjadi pindang serani. Adapun bahan pembuatan pindang bandeng adalah ikan bandeng, bawang merah, bawang putih, cabe merah, minyak goreng, terasi, air, kunyit, jahe, lengkuas, daun salam, daun jeruk, serai, belimbing sayur, cabe rawit, dan garam. Ikan dibersihkan, lalu dibuang sisik dan isi perutnya. Ikan lalu dipotong menjadi 3 atau 4 bagian. Bawang merah dibakar, bawang putih diiris tipis. cabe merah bakar dibelah dua memanjang. Semua bumbu ditumis hingga harum lalu diberi air dan ikan bandeng, cabe rawit dan garam lalu dimasak hingga bumbu meresap.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Gabus Pucung

Sayur dengan bahan dasar ikan gabus ini dimasak dengan menggunakan keluwak yang oleh masyarakat Betawi disebut pucung. Oleh karena itu kuah yang dihasilkan berwarna kehitaman seperti rawon. Sayur ini cocok dimakan dengan lalap dan sambal kencur. Gabus pucung ini banyak terdapat di daerah pinggiran Jakarta seperti perbatasan Bekasi, Depok maupun Bogor. Pada masyarakat Betawi pinggir, sajian ini merupakan menu wajib pada setiap kenduri dan acara ritual adat yang diadakan. Bahan yang dipersiapkan adalah ikan gabus, gabus, cuka, garam, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, daun bawang dipotong kasar, bawang goreng, keluwak, daun salam, ketumbar bubuk, kemiri, Lengkuas dan kunyit. Sebagai pelengkap disajikan juga sambal kencur yang terbuat dari cabe merah keriting, kencur, bawang merah, kemiri disangrai, cabe rawit, gula merah, garam, dan terasi bakar. Adapun cara membuatnya adalah ikan gabus dibersihkan dan dikerat-kerat punggungnya, lalu dilumuri dengan cuka dan garam selama 30 menit. Ikan lalu digoreng hingga kering dan matang. Sementara itu bawang merah, ketumbar, kemiri, lengkuas, kunyit, dan keluwak dihaluskan dan ditumis hingga harum bersama daun salam. Lalu air didihkan diberi bumbu gula merah dan garam. Setelah itu Potongan wortel dan daun bawang dimasukkan. Untuk sambal kencur, semua bahan dimasukkan ke dalam cobek lalu diulek hingga halus.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sunday, July 1, 2018

Pesor

Pesor adalah sejenis lontong khas Betawi yang banyak terdapat di daerah Mampang dan sekitarnya di wilayah Jakarta Selatan. Makanan ini banyak disantap dengan sayur lelawar sebagai kuahnya, maupun teman sarapan yang disantap bersama nasi uduk untuk sarapan pagi. Bahan untuk membuat pesor adalah beras kualitas baik yang dicuci bersih, air, dan daun pandan. Beras dicampur dengan air dan daun pandan, lalu dimasak setengah matang hingga air habis terserap. Selembar daun pisang digunakan untuk meletakkan adonan, dan tiap 2 bungkus ditumpuk diikat menjadi satu. Adonan yang sudah dibungkus, lalu dikukus selama 1 jam hingga matang.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Nasi Goreng Kambing

Nasi goreng kambing mempunyai rasa yang khas karena digoreng memakai minyak samin. Makanan ini merupakan makanan yang tersebar merata di Jabodetabek. Nasi goreng ini termasuk makanan yang disantap sehari-hari, terutama menjadi menu praktis pada malam hari karena banyaknya pedagang yang menjual makanan ini di pinggir jalan maupun di tempat-tempat tertentu. Bahan yang digunakan antara lain nasi putih, minyak untuk menumis, daging kambing muda, daun bawang iris halus, tomat merah, kecap manis, acar mentimun, dan emping goreng. Adapun bumbu yang dihaluskan adalah bawang putih, bawang merah, cabe merah keriting, kemiri, merica, terasi udang, goreng, dan garam secukupnya. Sebagai pelengkap diberi acar yang terbuat dari mentimun, wortel, cuka, dan gula pasir.

Adapun cara membuat nasi goreng kambing adalah minyak dipanaskan, bumbu ditumis halus hingga harum. Lalu Tomat, daun bawang, daging kambing dimasukkan dan diaduk rata, terakhir adalah kecap manis dan taburan bawang goreng serta emping goreng. dan acar.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Nasi Kebuli

Nasi ini banyak mendapat pengaruh dari Arab, biasanya disajikan khusus untuk kenduri maupun dalam menyambut perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pada masyarakat Betawi keturunan Arab. Persebaran makanan ini terdapat di daerah yang banyak terdapat komunitas Arab seperti Tanah Abang, Pekojan, Condet, Lagoa dan sebagainya.

Adapun bahan yang digunakan adalah daging sapi/kambing/ayam, minyak samin, susu encer, air rebusan bumbu kasar, dan garam secukupnya. Bumbu-bumbu yang ditumis adalah bawang merah dan bawang bombay diiris, bawang putih diparut, jahe diparut, dan tomat dipotong, dan tomat dipotong kecil. Selain bumbu di atas terdapat bumbu tambahan seperti garda munggu, kembang pala, kayu manis, cengkeh, ketumbar dan jinten. Adapun cara pembuatannya adalah beras dibersihkan, direndam, ditiriskan, lalu dikukus sampai setengah matang. Setelah itu digoreng dengan minyak samin, lalu dimasukkan ke dalam rebusan bumbu kasar yang telah disaring di dalam panci. Daging serta air daging dimasukkan ke dalam panci. Bumbu tumis yang telah ditumis dengan samin lalu dimasukkan, berikut susu, bumbu halus dan garam. Kemudian dimasak dengan api besar terlebih dahulu sambil diaduk sampai air mengering, kemudian api dikecilkan menunggu sampai matang.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Nasi Uduk

Nasi uduk adalah makanan yang mudah ditemukan di segala tempat, dimana persebaran makanan ini sangat merata di seluruh wilayah budaya Betawi. Varian dari nasi uduk amat beragam. Dari mulai cara pengolahan, sampai pada ’teman makan’ nya seperti ayam goreng, empal, tempe, bahkan yang spesial seperti semur jengkol, semur tahu dan semur kentang. Biasanya penyajian nasi uduk dilengkapi dengan sambal kacang sehingga rasa gurihnya bercampur dengan rasa pedas dari sambal tersebut.

Di masyarakat Betawi, nasi uduk sering disajikan sebagai menu untuk sarapan pagi, selain juga difungsikan sebagai pelengkap menu pada kenduri sederhana maupun hajatan-hajatan lainnya. Adapun bahan pembuatannya antara lain : beras, santan, jahe, lengkuas, daun salam, daun pandan, bawang merah, biji pala, kencur, dan garam.

Cara pembuatannya adalah beras dicuci bersih dan direndam selama 30 menit lalu ditiriskan. Beras dikukus selama 30 menit, lalu diangkat dan ditiris. Pala dan kencur dihaluskan dan dimasukkan ke dalam santan bersama jahe, lengkuas, daun salam dan daun pandan, lalu dididihkan. Setelah santan mendidih, diberi garam dan diangkat, kemudian beras dan santan dimasak selama 30 menit.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Saturday, June 30, 2018

Sayur Lelawar

Menu makanan ini serupa dengan sayur godog, karena berbahan dasar kentang. Sayur Lelawar merupakan makanan yang biasa dimasak sehari-hari. Bahan yang digunakan adalah daging ayam, buncis, kentang, santan, dan minyak. Bumbu yang dihaluskan adalah bawang merah, kencur, cabe merah, laos, kunyit, daun salam, jahe, dan air jeruk nipis. Adapun cara membuatnya kunyit diiris tipis lebar, digoreng, lalu bawang merah, jahe, kencur diiris tipis ditumis, cabe merah diiris, lalu dimasukkan ayam, kentang, buncis, buncis, dan santan direbus sampai masak berwarna kuning.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Soto Betawi

Aneka macam soto khas Betawi memiliki variasi isi, bahan, dan pengolahannya. Meskipun bahan utamanya tetap memakai daging sapi, di sebagian lokasi ada yang menggunakan kaki sapi, di sebagian lokasi lain ada yang menggunakan daging, babat, paru. Ada soto yang memakai kuah susu, ada pula yang memakai kuah santan. Pada masyarakat Betawi, hidangan berbahan dasar daging ini disajikan dengan campuran santan. Agar lebih menggugah selera, soto Betawi biasanya disajikan bersama emping melinjo sehingga dapat melengkapi rasa gurih kuahnya. Bahan yang digunakan adalah daging sapi, paru, usus, babat, santan kental, dan minyak sayur. Bumbu rebusan antara lain lengkuas, sereh, daun salam, cabe merah, bawang merah, bawang putih, jahe, daun salam, dan cengkeh bubuk. Adapun cara membuatnya adalah daging sapi, paru, usus, babat direbus dengan api sedang. Lengkuas, sereh, salam, garam dimasukkan lalu dimasak sampai daging empuk. Semua bumbu ditumis dengan minyak sayur, lalu bumbu dimasukkan ke dalam rebusan daging dan ditambah santan.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Nasi Kuning

Makanan yang biasanya ditata dalam bentuk tumpeng ini, sering disajikan untuk acara kenduri sederhana seperti selamatan, acara ritual adat seperti pindah rume (pindah rumah) dan sebagainya. Nasi kuning biasanya dilengkapi oleh lauk pauk seperti ayam goreng, sambal goreng ati, perkedel, udang goreng, telur dadar iris, kentang kering dan urap sayuran. Meskipun demikian, dewasa ini sudah banyak terdapat varian pelengkap tumpeng nasi kuning yang lain seperti udang goreng, telur puyuh, ayam panggang dan lainnya. Bahan yang digunakan adalah beras, kunyit, daun serai, daun salam, pandan, air jeruk nipis dan santan secukupnya. Adapun cara pembuatannya adalah Beras dicuci sampai bersih, direndam dan dikukus. Lalu santan yang dimasak dengan serai dan daun salam, dimasukkan dalam kukusan beras yang sudah setengah matang. Sementara itu jeruk nipis diperas ke dalam kukusan beras yang telah menguning, kemudian dimasak sampai campuran beras dan santan mengering. Nasi kuning ini digunakan sebagai pelengkap upacara


Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sayur Asem

Merupakan menu makanan sehari-hari yang sangat populer di masyarakat. Oleh sebagian kelompok masyarakat Betawi pinggir, sayur asem yang disajikan sering divariasikan dengan penambahan jengkol dan dilengkapi oleh sambal godog sehingga memperkuat rasa. Bahan yang digunakan adalah kacang panjang, nagka muda, jagung muda, daun melinjo, terong, kacang tanah, kaldu, daun salam, asam muda, dan belimbing wuluh. Bumbu yang dihaluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe merah, dan garam. Adapun cara pembuatannya adalah sayuran dicuci bersih lalu dipotong-potong dengan ukuran sedang. Bumbu dihaluskan dan kaldu didihkan dan bumbu dimasukkan ke dalam kaldu. Sayur yang keras seperti jagung, asam muda, nangka dan kacang tanah terlebih dahulu dimasukkan. Setelah setengah matang, sayuran yang agak lunak seperti daun melinjo, terong, dan belimbing wuluh dimasukkan.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sayur Bebanci

Sayur ini banyak dibuat pada acara kenduri tradisional seperti khitanan, pernikahan, dan sebagainya. Disamping itu juga sering dipakai sebagai lauk pada menu makanan sehari-hari. Pada sebagian masyarakat Betawi, sayur ini sering dimakan dengan menggunakan ketupat, oleh karena itu makanan ini dikenal juga dengan nama Ketupat Bebanci. Adapun bahan pembuatan sayur bebanci adalah sandung lamur sapi, air, kelapa parut, bawang merah, bawang putih, cabe merah, kunyit, lengkuas, temu mangga, temu kunci, kemiri, terasi bakar, minyak goreng, ketumbar bubuk, jintan bubuk, daun salam, kelapa muda, dikeruk, santan, garam, dan gula pasir.

Adapun cara pembuatannya adalah Sandung lamur dicuci dan direbus hingga lunak lalu diangkat dan dipotong. Kelapa parut disangrai hingga berwarna kuning kecoklatan. Bumbu ditumis hingga harum, lalu ditambah dengan ketumbar, jintan dan daun salam. Setelah itu daging sandung lamur dimasukkan, lalu kelapa sangrai dan kelapa muda, dibiarkan hingga mendidih sambil diaduk. Terakhir, garam, gula, dan merica dibubuhi dan diaduk hingga merata.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Soto Tangkar

Beda soto Tangkar dengan soto Betawi adalah penggunaan daging brisketnya, yaitu bagian daging sapi di bagian dada bawah. Menurut sejarahnya, pada jaman penjajahan Belanda, masyarakat Betawi hanya mampu membeli tangkar berupa potongan iga yang berdaging sedikit, karena bagian daging sapi yang lain sudah diambil oleh masyarakat penjajah Belanda.

Serupa dengan soto Betawi yang menjadi menu sehari-hari, soto Tangkar ini pun biasanya menjadi santapan sehari-hari, meskipun persebarannya tidak seluas soto Betawi karena hanya terdapat di wilayah tertentu seperti di daerah Kota, Tanah Abang, Kemayoran dan sebagainya. Bahan prmbuatan Soto Tangkar adalah serai, kelapa, peras santan, daun salam, air, sandung lamur, dan daging iga sapi. Bumbu yang dihaluskan adalah jahe, kunyit, lengkuas, gula merah, bawang putih, bawang merah, dan kemiri. Adapun cara pembuatanntannya Daging iga dan sandung lamur direbus hingga empuk, bumbu ditumis halus hingga harum. Daun salam dan serai dimasukkan ke rebusan daging, lalu ditambahkan santan dan dimasak hingga mengental.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).