Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Saturday, September 1, 2018

Permainan Tradisional Anak sebagai Kekayaan Budaya Tradisional

Oleh Drs. H. Oo Rohaendi Nurhara

A. Pendahuluan

Makalah ini disusun untuk memenuhi permintaan Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI.
Hal ini disampaikan pada penyelenggaraan Festival Permainan Anak-anak yang bertemakan Revitalisasi Nilai Budaya Permainan Tradisional Anak dalam upaya membangun karakter bangsa. Kegiatan ini berlangsung di Sumedang.

Latar Belakang

Sebagaimana telah kita ketahui barsama bahwa bangsa Indonesia, khususnya orang Sunda banyak sekali budaya yang masih terpendam, seperti permainan tradisional anak atau dalam bahasa Sunda biasa disebut “Kakawihan” atau” kaulinan barudak” atau “kaulinan urang lembur”.
Permainan anak-anak tersebut pada saat ini tergerus arus globalisasi dengan hadirnya alat permainan modern, seperti video game, tontonan siaran televisi, dan lain-lain yang mengambil alih perhatian atau kegiatan permainan anak-anak secara tradisional.
Disisi lain untuk beberapa jenis permainan anak yang memerlukan lahan yang relatif luas seperti “ucing intenir”, lahannya makin sempit atau hilang sama sekali terdesak oleh pendirian perumahan, pertokoan atau pabrik.

Pokok Permasalahan

Permainan anak-anak, khususnya permainan tradisional anak merupakan salah satu aset budaya bangsa yang pada saat ini sangat menghawatirkan keadaannya. Padahal permainan tersebut lebih banyak kelebihannya dibandingkan dengan permainan modern.
Permainan tradisional anak dapat lebih mengembangkan fisik anak (olah raga), sportifitas, kesetiakawanan, keakraban dengan alam, saling membantu juga hiburan. Lebih jauh lagi dapat menimbulkan inisiatif dan kreatiafitas untuk berinovasi, ketangkasan, ketrampilan, keuletan, ketekunan dan kemahiran berbahasa, bernyanyi. Permainan anak dapat pula memberikan sumbangan yang berarti dalam pembangunan pribadi seseorang semenjak usia kanak-kanak. Hal ini merupakan kekayaan budaya yang berharga dalam rangka memelihara tata nilai kehidupan bangsa, oleh karena itu seyogyanya permainan tradisional perlu digali dan dihidupkan kembali sehingga tidak terjadi “jati kasilih ku junti”(pribumi kalah/ terdesak oleh tamu).

Tujuan

Tujuan kegiatan ini adalah:
1.      Menggali kembali permainan tradisional anak dan memperkenalkannya kepada mereka.
2.      Diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya kita.
3.      Mengungkap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam permainan anak.
4.      Menanamkan nilai-nilai budaya, norma sosial dan pandangan hidup untuk membangun kepribadian mereka.
5.      Melestarikan warisan budaya daerah dalam memperkokoh jati diri.

Pembatasan Penyajian

Dikarenakan begitu banyaknya jenis permainan tradisional anak-anak yang ada di Sumedang, apalagi di Pasundan, maka hanya 4 jenis permainan yang dipaparkan/ disajikan/ dijelaskan, yaitu:
1.      Galah Asin
2.      Jajangkungan (egrang)
3.      Sorodot Gaplok
4.      Gatrik
Mengenai jumlah peserta, pola dan aturan permainan tidak akan dibahas disininagar tidak tumpang tindih dengan penyaji yang lain. Pada kegiatan keempat jenis permainan tradisional anak tersebut lebih menekankan pada gerak, tidak pada lagu/ lirik (kakawihan).

B. Permainan Tradisional Anak Berkaitan dengan Budaya

Babasan dan Paribasa salah satu budaya Sunda

Babasan atau Pakeman basa yaitu ungkapan atau “idiom” dalam Bahasa Inggris dan Paribasa yaitu peribahasa adalah bagian kesusastraan Bahasa Sunda. Babasan dan paribasa tidak saja memperlihatkan kepandaian atau kemahiran berbahasa, tapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan mempunyai kedudukan penting bagi penuturnya, oleh karena itu keduanya merupakan kekayaan budaya masyarakat yang menggunakannya.
Hanya beberapa bahasan dan paribasa yang akan diuraikan disini yang berkaitan dengan kegiatan permainan tradisional anak:
a.  Silih asah, silih asih, silih asuh
Saling melatih otak/ pikiran, saling mengasihi, dan saling mengemong dan mendidik.
b. Ngadek sacekna, nilai saplasna
Berkata dengan benar, jujur.
c. Leuleus jeujeur, liat tali
·    Leuleus kejo poena
·    Landung kandungan laer aisan
Jadi pemimpin yang bijaksana, mengasihani rakyatnya.
d. Sareundeuk, Saigel, sabata sarimbangan saketek sahancan
·    Sauyunan
·    Sabilulungan
Bekerja bersama-sama, gotong royong
e. Sacangreud pageuh, sagolek pangkek
Perkataannya tidak berubah-ubah, dapat dipegang janjinya
f. Tata-titi, duduga prayoga
Bekerja hati-hati, sopan santun tidak menyakitkan orang lain
g. Saur kudu diukur-ukur, sabda kudu diunggang-unggang
Jangan asal bicara, harus dipertimbangkan lebih dahulu
h. Hirup kudu cageur, bageur, bener, pinter, singer, panger.
Cageur – sehat jasmani dan rohani
Bageur – baik hati, baik kelakuan
Pinter – pandai, cakap, cerdik
Singer – terampil
Panger – teguh pendirian
i. Adu telu ampar tiga
Sudah berjanji dan tidak mengingkari janji
j. Sapapait samamanis, sabagja sacilaka, kacai jadi saleuwi kadarat jadi salebak
Seia sekata, sepenanggungan.
k. Bruk brak
Terbuka, transparan.
l. Puraga tamba kadengda
Bekerja asal-asalan, ini harus dihindari/ jangan dilakukan
m. Herang caina beunang laukna
Cita-cita tercapai tanpa ada hambatan dan tidak ada pihak yang dirugikan

Definisi

Secara keseluruhan permainan tradisional anak di Jawa Barat dan Banten khususnya di Sumedang ada 2 macam yaitu:
1.      Kakawihan (nyanyian/ bernyanyi)
2.      Kaulinan (permainan)
Kakawihan dari kata kawih (nyanyi), kata kakawihan khusus untuk nyanyian yang dilakukan oleh anak-anak pada permainan tradisional anak. Sedangkan kaulinan dilakukan dengan gerakan dan atau diiringi kakawihan. Kakawihan adalah lirik lagu kawih tradisional yang bersifatb puisi (sastra) dengan adanya irama, purwakanti, repetisi (pengulangan kata), imajinasi (mencipta), dan diksi (memilih-milih kata, prosa).
Kakawihan tidak jelas pengarangnya (anonim) dan sejak dulu disampaikan secara lisan, kecuali sekarang telah banyak ditulis (dibuat buku). Kakawihan berbeda dengan kawih, dan tembang. Kawih biasanya dinyanyikan oleh pesinden sedangkan tembang antara lain Cianjuran dinyanyikan oleh penyanyinya (tidak disebut sinden). Kaulinan urang lembur erat sekali dengan kakawihan. Kalau boleh dibedakan kakawihan hanya dinyayikan , sedangkan kaulinan dengan gerak. Yang memakai gerakan ada 2 macam, tanpa dilombakan (“play”) dan yang dilombakan (“game”).

Penelitian

Penelitian yang penulis lakukan dititik beratkan penelitian kepustakaan, yaitu dengan membaca buku-buku permainan tradisional anak. Disamping itu ada permainan tradisional anak yang dilakukan penulis pada masa anak-anak dan ada yang pernah digelar pada waktu bermain calung.

Keterkaitan Permainan dengan budaya

Setelah kita melihat/ menyaksikan penjelasan empat jenis permainan tradisional anak tadi, dapat kiranya dianalisis sebagai berikut:
1. Galah Asin
·    Kegiatan olah raga
·    Memupuk kebersamaan
·    Memupuk sportifitas
·    Disiplin akan aturan yang berlaku
2. Jajangkungan (egrang)
·    Kegiatan olah raga dan ketrampilan atau ketangkasan
·    Memupuk percaya diri
·    Menjaga keseimbangan dan terbiasa hidup tegar menghadapi masalah
3. Sorodot Gaplok
·    Kegiatan olah raga dan ketrampilan/ ketangkasan
·    Melatih kebersamaan
·    Memupuk kejujuran dan sportifitas
·    Melatih disiplin
4. Gatrik
·    Kegiatan olah raga dan ketrampilan/ ketangkasan
·    Menumbuhkan keuletan dan ketekunan serta kecerdasan
·    Memupuk keakraban
·    Menumbuhkan kreatifitas dan percaya diri
·    Taat kepada ketentuan yang berlaku

Analisis Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan dan Tantangan


Bila dicoba dianalisis kekuatan kita sekarang terkait dengan permainan tradisional anak:
1.      Mereka yang pernah melakukan kegiatan permainan tradisional anak banyak yang masih hidup.
2.      Sarana bacaan yang membahas/ mengulas permainan tradisional anak masih banyak.
3.      Pihak pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang pada saat ini bersama tim akselerasi Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS) sedang menggebu-gebu berkeliling ke tiap kecamatan mendiseminasikan SPBS yang mencakup pendidikan pengembangan dan pelestarian kesenian tradisional anak.
Adapun kelemahannya adalah:
1.      Masih kekurangan guru kesenian terutama kesenian daerah khuususnya di SD
2.      Belum jelasnya mulok kesenian dan bahasa Sunda
3.      Tidak adanya penilik-penilik kebudayaan
4.      Keterbatasan dana, antara lain untuk pembinaan dan pagelaran
Kesempatan yang terbuka:
1.      Dengan telah dicanangkannya SPBS, kesempatan untuk menggali, menghidupkan, mengembangkan dan melestarikan permainan tradisional anak lebih baik.
2.      Media elektronik dan media cetak dapat dimanfaatkan untuk mensosialisasikan permainan tradisional anak, umumnya budaya daerah.

Adapun tantangannya adalah:
1.      Arus globalisasi yang menggerus dan menggeser budaya kita
2.      Media elektronik dan media cetak belum menunjang secara maksimal kegiatan permainan tradisional anak
3.      Masyarakat masih ada yang acuh terh      adap pembinan anak dan permainan tradisionalnya

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Setelah kita membaca paparan tadi dapat ditarik kesimpulan:
1.      Permainan tradisional anak pada saat ini keberadaannya sangat menghawatirkan.
2.      Permainan tradisional anak merupakan sarana untuk menumbuhkembangkan fisik yang sehat, dasar ketrampilan dan sikap anak yang baik ke arah kebersamaan, kemandirian, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab.
3.      Permainan tradisional anak disamping sebagai hiburan, juga sebagai kekayaan budaya bangsa yang berharga untuk memelihara tata nilai kehidupan bangsa

Saran

Atas dasar itu maka disarankan:
1.      Orang tua berusaha mengatur anak menonton tayangan media elektronik (TV) dan bacaan media masa yang menjadikan anak-anak terbius oleh hal-hal yang tidak baik.
2.      Pemerintah, khususnya para pendidik dapat membentengi pengaruh yang kurang baik bagi anak dengan melakukan kegiatan yang positif untuk menyalurkan hasrat bermain atau mengisi waktu senggang.
3.      Pemerintah mengangkat kembali penilik kebudayaan juga guru kesenian daerah din sekolah.
4.      Pemerintah memfasilitasi kegiatan pagelaran kesenian tradisional anak.

Penutup

Demikian ulasan mengenai permainan anak. Penulis menyadari bila paparan ini banyak memiliki kekurangan. Walaupun demikian mudah-mudahan ada manfaatnya sebagai stimulasi atau pendorong bagi semua pihak. Hanya kepada Allah kita berserah diri dan memohon bimbinganNya.

Sumber: Makalah disampaikan pada Festival Permainan Tradisional Anak yang diselenggarakan oleh BPSNT Bandung di Sumedang tanggal 14 Juli 2010

Monday, July 30, 2018

Meretas Eksitensi dan Regenerasi Seni Tradisi (di) Subang: Sebuah Pengantar Diskusi

Oleh : H. Edih AS

Disampaikan dalam kegiatan Festival Kesenian Tradisional yang diselenggarakan BPNB Bandung pada tanggal 28 – 29 April 2014 bertempat di Wisma Karya Jl. Ade Irma Suryani Nasution No. 2. Subang

1. Dasar Pemikiran Eksistensi dan Regenerasi
Memaknai eksistensi tentu tidak dapat dipisahkan dari cara kita menyoal kembali tentang sesuatu (realitas) atau gejala yang disebut ada, mengada (menjadi ada), sekaligus berhubungan dengan masalah-masalah mengadanya.

Cara demikian dapat dikatakan merupakan cara aktif. Memandang eksistensi sebagai sesuatu yang harus dilihat secara ke dalam sekaligus juga ke luar. Daripada memandangnya secara pasif, sekedar rekaman atau gambaran atas keadaan apa adanya. Dalam arti ke dalam, eksistensi dapat dihubungkan dengan persoalan tentang mengada di dalam dirinya sendiri maupun mengada untuk dirinya sendiri. Dalam arti ke luar, ini berhubungan dengan persoalan mengada di dalam dunia, atau mengada bersama dengan yang lain dan mengada demi yang lain.

Adapun regenerasi adalah proses alih tular atau pewarisan dari generasi pendahulu kepada generasi berikutnya yang lebih muda dan menjadi pewaris atau penerusnya. Pewarisan dimaksud bukan hanya proses mewariskan hal-hal fisik tetapi mencakup proses penularan atau alih kemampuan yang berhubungan dengan unsur pemikiran (kognitif), perilaku (motorik), dan rasa (afektif).

2. Menyoal Eksistensi Seni Tradisi (di) Subang
Saya pikir memaknai eksistensi seni tradisi di Subang, akan lebih jelas persoalannya apabila dimaknai dengan lebih aktif. Sebab, kenyataan dan gejalanya serta aneka masalahnya dapat tertangkap lebih gamblang. Kedua, sikap demikian tidak bertentangan dengan hakekat tradisi sebagai sesuatu kebudayaan yang dinamis. Tradisi atau seni tradisi adalah gambaran dinamis, dibuat dan selalu diperbaharui sebagai respon atas situasi atau jamannya.

Apakah kita bisa memastikan bahwa pantun, sisingaan, lais, kiliningan, genjring ronyok, dan toleat yang ada sekarang merupakan warisan masa lalu yang tidak pernah berubah? atau sebaliknya, selalu diubah-suaikan oleh masyarakat (seniman) Subang tempo dulu hingga sekarang?

Dalam kurun waktu penyaksian yang telah saya alami, kesenian (di) Subang, termasuk enam jenis kesenian tersebut, menampilkan dinamika kehidupan seni yang berbeda-beda. Tentu saja disertai dengan perkembangan, perubahan dan ciri-ciri yang menyertainya.

Pantun merupakan jenis seni buhun yang mengakar dalam budaya tani orang Sunda. Tanpa menanggalkan kehasannya, pantun menggunakan alat petik kecapi sebagai musik untuk mengiringi vokal bercerita. Digunakan umum untuk acara-acara yang berhubungan dengan upacara adat kelahiran, perkawinan, perayaan hasil panen, pembuatan rumah baru, pelaksanaan nazar, atau ruwatan. Di Subang, seni pantun ini sempat dipadukan dengan seni gamelan dan hasil perpaduannya dikenal sebagai pantun Beton. Antara Pantun biasa dan pantun beton ini akan sangat bergantung kepada hubungan permintaan antara penanggap dengan pemantun, maupun besar atau kecilnya biaya tanggapan.

Sisingaan yang pernah dialami generasi akhir abad 19, generasi abad 20, dan generasi abad 21 sangat berbeda teks dan konteksnya. Sisingaan di era Demang Ciherang, Ki Lurah Sayung Cigadung, Endik, Ukat “Robot”, hingga generasi terbaru sangat berbeda ekspresinya. Unsur teks karawitan, tari, dan rupa sisingaan telah berkembang sedemikian rupa hingga sekarang. Konteksnya pun melebar, dari model arak-arakan ritual dan simbolis yang mobile menuju model ruang pementasan yang statis dalam ajang festival, penyambutan tamu, media diplomasi budaya, hingga materi edukasi muatan lokal dan atraksi wisata.

Lais atau Laes merupakan jenis seni akrobat. Komunitas seni ini pernah berkembang di Parung. Pemeran beraktrasi, berjalan, berlari, dan menari di atas tali yang direntangkan di antara dua bambu gombong sambil diiringi torompet, kendang penca, atau bedhug.

Penggunaan istilah kliningan ibing kiwari tentu tidak dapat dipisahkan dari muara sejarah pertemuan aneka tradisi ronggeng (doger), ketuk tilu, ibing pencak, gamelan kiliningan, wayang golek, bajidoran, jaipongan, maupun jenis kesenian lain yang muncul berikutnya sekaligus turut mempengaruhi pula.

Genjring ronyok yang disaksikan sekarang mengakar pada pengaruh tradisi arak-arakan berinstrumen terbangan atau genjring dan adem ayem yang berkembang di pesisir utara. Kesenian tersebut sempat berkembang di Kampung Bonyok Pagaden. Kemudian teknik permainan dikembangkan lebih jauh oleh seniman Cidadap (Tarja Cs.), melalui pembagian pola-pola pukulan yang mengadopsi pola-pola pukulan kendang. Di era Tarja, genjring ronyok tidak sekedar digunakan sebagai media arak-arakan tetapi dikembangkan menjadi seni pertunjukan panggung. Digunakan sebagai musik tari.

Toleat memiliki gambaran agak berbeda. Kesenian ini bermula dari usaha eksperimen Maman (seniman Pamanukan) meniru sumber bunyi dengus kerbau dengan menggunakan bahan tamiang. Pengalaman Maman mengenal lagu-lagu Sunda melalui keikutsertaannya sebagai juru tarompet grup Sisingaan Ama Suta, menempatkan permainan toleat sebagai instrumen melodis yang memiliki karakter berbeda dengan suling maupun tarompet, baik bentuk, susunan lubang, lidah, maupun suaranya. Toleat dikembangkan pula oleh Dodo Wikanda dengan menggunakan instrumen kecapi untuk mengiringi melodi tunggal toleat, juga membuatkan lagu-lagu khusus untuk pertunjukan toleat. Lebih lanjut, Aep meneruskan pengembangan toleat, dijadikan karya ujian penyajian tugas akhir dan dilanjutkan hingga sekarang.

Apa yang telah dialami di masa lalu dan sedang dialami di masa sekarang apabila dicermati dengan lebih terbuka dan hati-hati, itu semua terjadi dalam relasi mengada secara ke dalam maupun ke luar. Dilakukan internal oleh masyarakat pemiliknya (pelaku seni) sendiri, maupun karena interaksi pelaku seni dengan orang lain.

3. Regenerasi Seniman (di) Subang

Meneruskan praktik mengada ke dalam dan ke luar membawa dampak terhadap keberlanjutan seni itu sendiri. Kesenian dapat bertahan, berkembang, atau sebaliknya tergeser dan punah. Salah satu faktor penentunya adalah regenerasi seniman di dalam komunitas seni tersebut terjadi atau tidak ? regenerasi yang berhasil dapat membawa pengaruh positif terhadap kehidupan lanjut kesenian. Sebaliknya, regenerasi yang terhambat dan gagal akan membawa pengaruh negatif terhadap daya hidup kesenian.

Beruntung, seni tradisi (di) Subang masih bertahan karena masyarakat seninya masih memiliki kemampuan adat. Berpengetahuan, berperilaku dan berempati atas adat sebagai salah satu acuan orientasi hidup. Praktik adat bermanfaat. Banyak seniman, dari generasi lama sampai sekarang, dapat bertahan dan diuntungkan dari mengolah adat.

Umumnya, proses alih kemampuan tersebut dilakukan melalui jalur kelisanan. Proses pembelajaran dilakukan dengan cara-cara seperti: belajar langsung melalui panggung atau praktek pentas; berlatih dengan bimbingan dan arahan dari seniman senior atau guru seni; meniru dari tontonan atau rekaman gambar-suara. Di luar jalur kelisanan, ada juga regenerasi seniman melalui jalur tulisan. Belajar menguasai seni melalui aksara huruf dan angka dalam bentuk notasi.

Idealnya regenerasi seniman tidak terperangkap sebagai proses mewariskan kepemilikan seni. Seni bukanlah benda mati. Seni itu hidup dan bergantung kepada masyarakat seni (seniman). Oleh sebab itu, mewariskan seni adalah mewariskan kemampuan seni atau berkesenian. Kemampuan dimaksud adalah kemampuan menularkan pengetahuan, ketrampilan, dan keahlian seni (kesenimanan) dari generasi seniman senior kepada seniman yunior. Targetnya, pada jangka waktu kemudian kemampuan yang pernah dimiliki seniman senior dapat dikuasai oleh seniman yunior sebagai modal keahlian meneruskan dan mengembangkan seni tersebut, atau mencipta seni baru.

Kompetensi keahlian seni merupakan keharusan sekaligus modal dasar melakukan preservasi maupun inovasi seni. Di era sekarang yang kompetitif, kecakapan atau kemahiran mengolah tradisi sebagai sumber inspirasi kreatif sangat dibutuhkan seniman. Sumber inspirasi tradisi memberi peluang dan pengayaan posisi tawar seniman terhadap dominasi pengaruh dan keseragaman konsumsi seni popular. Hal tak kalah penting, keterbukaan dan kerjasama antar keahlian di bidang produksi, distribusi, dan mediasi seni menjadi syarat yang melengkapi proses alih kemampuan seni. Dalam arti lain, kekayaan referensi, mengolah kemasan, dan kolaborasi menjadi pilihan penting sebagai pembentukan kompetensi seniman.

4. Simpulan
Sekurangnya ada dua hal yang dapat dijadikan dua simpulan diskusi ini. Pertama, dalam dinamikanya proses mengada dipengaruhi oleh berhasil atau tidaknya proses alih kemampuan keahlian seni dari seniman ke seniman. Kedua, perkembangan dan perubahan yang telah dan sedang dialami seni tradisi ini dapat dijadikan pijakan strategis untuk memandang dan mensikapi seni tradisi di masa akan datang. Dengan demikian pengalaman keterpurukan seni tradisi akibat ketakmampuan masyarakat seni (seniman dan stakeholdersnya) mengelola seni, dapat menjadi pengingat sekaligus pemacu mendayakan kembali seni tradisi dalam ruang dan waktu yang terus berkembang. Sebagaimana hakekat awalnya sebuah tradisi dibuat, dicipta dan dikembangkan. Cag, Rahayu.

Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/

Monday, July 2, 2018

Sayur Godog

Campuran sayur berbahan dasar kentang dan soun ini juga merupakan salah satu sayur yang populer di kalangan masyarakat Betawi. Paduan rasa dari kentang dan soun yang lembut, bercampur dengan petai serta kuah santan yang gurih, menghasilkan cita rasa yang khas. Bila ditambah dengan sambal godog, akan menambah rasa nikmatnya. Sayur ini kerap disajikan untuk acara hajatan dan kenduri sederhana. Bahan yang digunakan adalah kentang potong dadu, petai, rebus, lengkuas, daun salam, santan sedang, daging berlemak dipotong dadu, air, garam, gula pasir, dan minyak untuk menumis. Adapun bumbu yang digunakan adalah cabe merah, bawang merah, bawang putih, kemiri sangrai, terasi goreng. Cara membuatnya daging direbus hingga empuk dan matang. santan, daun salam dan lengkuas lalu ditambahkan. Bumbu halus ditumis hingga harum lalu tumisan bumbu dimasukkan ke dalam santan dan dimasak hingga mendidih. Terakhir, kentang, soun, dan petai dimasukkan hingga matang.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sayur Rebung

Sayur Rebung merupakan variasi sayur yang banyak dihidangkan sebagai menu makanan sehari-hari. Hidangan ini banyak terdapat pada masyarakat Betawi pinggir. Bahan yang digunakan adalah rebung di potong-potong, daging udang, blender, cabe rawit, daun salam, lengkuas, santan kental sedang, garam, gula pasir, dan petai. Bumbu yang dihaluskan adalah kunyit, bawang putih, cabe rawit merah, dan kencur. Adapun cara pembuatannya adalah semua bahan direbus sampai mendidih. Bumbu halus dimasukkan, dan dimasak hingga semua matang.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sayur Lodeh

Sayur lodeh merupakan mirip dengan sayur asem karena berbahan dasar yang sama. Perbedaannya terletak pada kuah santan yang ditambahkan ke dalam sayur, juga pemakaian petai untuk memperkuat rasa. Persebaran sayur ini merata hampir di seluruh wilayah Jabodetabek. Sayur lodeh disajikan sebagai makanan sehari-hari. Bahan yang digunakan adalah wortel, jagung muda, daun melinjo, terong, kaldu, daun salam, dan petai. Bumbu yang dihaluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe merah, garam, dan santan. Cara pembuatan sayur lodeh adalah sayur dicuci bersih lalu dipotong-potong dengan ukuran sedang, bumbu dihaluskan dan kaldu dididihkan. Bumbu dimasukkan ke dalam kaldu. Sayur yang keras seperti jagung, petai dan wortel terlebih dahulu dimasukkan. Setelah setengah matang, sayuran yang agak lunak seperti daun melinjo dan terong lalu dimasukkan. Biasanya disajikan dengan sambal dan tempe goreng.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sayur Laya

Sayur berbahan dasar kerang ini sering menjadi menu makanan sehari-hari masyarakat, terutama masyarakat Betawi yang tempat tinggalnya dekat dengan sungai. Sayur ini dimasak tanpa membuang kulit kerang terlebih dahulu, sehingga aroma dan rasa kerang sangat kuat tercampur dengan kuah bumbu yang kaya rasa. Masakan ini juga dkenal sebagai obat untuk sakit kuning. Bahan yang digunakan kerang kecil, ketumbar, kunyit, bawang merah, bawang putih, jahe, serai, daun salam, dan garam.

Adapun cara pembuatannya bumbu ditumis sampai kuning dan wangi. Kerang direbus sampai setengah matang, lalu ditiriskan. Kerang dengan bumbu dicampur, ditambah egelas air putih, daun salam, dan serai.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sayur Besan

Sesuai dengan namanya, sayur ini dipergunakan sebagai menu hantaran sewaktu calon besan hendak melamar calon menantu pada prosesi pernikahan adat Betawi. Dapat pula menjadi menu makanan sehari-hari meskipun lebih sering disajikan pada acara-acara adat tertentu. Bahan untuk membuat sayur besar adalah awang merah, bawang putih, cabe merah keriting, kemiri, minyak goreng, daun salam, santan, kol, iris persegi, telubuk, merica bubuk, gula pasir, soun, irisan seledri, dan bawang goreng. Cara membuatnya adalah bahan ditumis dengan minyak, lalu ditambah santan. Daging dan bahan ditumis, ditambahkan santan dan sedikit air, setelah itu Soun dimasukkan dan dimasak hingga kental. Terakhir, hidangan disajikan dengan bawang goreng dan seledri.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Laksa

Laksa adalah hidangan yang sering disajikan pada saat hari raya Lebaran. Hidangan ini mempunyai rasa yang khas dan sangat pas bila ditambahkan sambal godog sehingga memperkaya rasanya. Ada pula varian laksa yang biasanya dibuat dalam perayaan hajatan pernikahan, oleh karena itu dinamakan Laksa Penganten. Bahan pembuatan laksa adalah santan kental, santan encer, dan dada ayam dicuci dengan jeruk. Bumbu yang dihaluskan adalah serai, daun salam, daun jeruk purut, bawang merah, bawang putih, cabe merah, sdm ketumbar, kemiri, garam, gula merah, ruas kunyit, lengkuas, dan jahe diparut. Adapun cara pembuiatannya adalah bmbu ditumis halus dengan minyak goreng sampai wangi, lalu santan encer dan bumbu dimasukkan. Ayam diangkat, disuwir-suwir, dan ditambahkan santan kental sampai mendidih, dan dn ditata di mangkok, taoge dicelupkan dengan saringan ke dalam kuah laksa, dan ditambahkan bawang goreng.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Pepes Ikan Peda

Serupa dengan Ikan Peda Jagung, hanya pada makanan ini ikan peda disajikan kering, baru kemudian dipepes dan ditambahkan bahan-bahan lain sebagai pelengkapnya. Makanan ini juga merupakan makanan sehari-hari yang ’merakyat’ dan tersebar merata di wilayah kebudayaan Betawi. Bahan yang disediakan yakni ikan peda dan bumbu seperti daun salam, serai, garam, gula pasir, air asam, tomat, daun kemangi, dan cabe merah. Adapun cara membuatnya Ikan peda digoreng sampai setengah matang, kemudian dikukus sebentar. Bahan pelengkap seperti cabe, bawang merah, bawang putih dan tomat ditambahkan. Terakhir, Ikan peda yang telah dikukus disiram dengan tumisan tadi dan siap disajikan.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Ikan Peda Jagung

Makanan sehari-hari ini sangat populer di kalangan masyarakat Betawi. Cara masaknya cepat dan bahan-bahannya cukup sederhana, menjadikan makanan ini ’makanan rakyat’ yang diajikan sehari-hari di kalangan masyarakat Betawi. Persebaran makanan ini merata di seluruh wilayah kebudayaan Betawi, meskipun pada beberapa tempat terdapat variasi pengolahan dan bahan-bahan yang dipakai untuk menyajikannya. Bahan yang disediakan adalah ikan peda, cabe merah, bawang merah, bawang putih, tomat kecil, daun bawang, jagung manis, dan garam. Adapun cara pembuatannya adalah bawang merah dan bawang putih ditumis, lalu dicampur dengan cabe, tomat dan jagung. Satu buah petai dimasak hingga layu, semua bumbu ditumis hingga matang dan terakhir diberi irisan daun bawang.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Pindang Bandeng

Pindang Bandeng merupakan menu alternatif untuk menemani sarapan pagi. Biasanya pindang ini dimasak sore hari, untuk kemudian disajikan pada pagi harinya setelah dipanaskan terlebih dahulu. Pada daerah tertentu seperti di daerah Tugu Jakarta Utara, banyak masyarakat menyebut makanan ini Pindang Serani. Hal ini konon karena jaman dahulu sebagian besar masyarakat di daerah ini beragama Nasrani dan sangat menyukai hidangan ikan ini. Oleh karena itu mereka mengabadikan nama sajian ini menjadi pindang serani. Adapun bahan pembuatan pindang bandeng adalah ikan bandeng, bawang merah, bawang putih, cabe merah, minyak goreng, terasi, air, kunyit, jahe, lengkuas, daun salam, daun jeruk, serai, belimbing sayur, cabe rawit, dan garam. Ikan dibersihkan, lalu dibuang sisik dan isi perutnya. Ikan lalu dipotong menjadi 3 atau 4 bagian. Bawang merah dibakar, bawang putih diiris tipis. cabe merah bakar dibelah dua memanjang. Semua bumbu ditumis hingga harum lalu diberi air dan ikan bandeng, cabe rawit dan garam lalu dimasak hingga bumbu meresap.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Gabus Pucung

Sayur dengan bahan dasar ikan gabus ini dimasak dengan menggunakan keluwak yang oleh masyarakat Betawi disebut pucung. Oleh karena itu kuah yang dihasilkan berwarna kehitaman seperti rawon. Sayur ini cocok dimakan dengan lalap dan sambal kencur. Gabus pucung ini banyak terdapat di daerah pinggiran Jakarta seperti perbatasan Bekasi, Depok maupun Bogor. Pada masyarakat Betawi pinggir, sajian ini merupakan menu wajib pada setiap kenduri dan acara ritual adat yang diadakan. Bahan yang dipersiapkan adalah ikan gabus, gabus, cuka, garam, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, daun bawang dipotong kasar, bawang goreng, keluwak, daun salam, ketumbar bubuk, kemiri, Lengkuas dan kunyit. Sebagai pelengkap disajikan juga sambal kencur yang terbuat dari cabe merah keriting, kencur, bawang merah, kemiri disangrai, cabe rawit, gula merah, garam, dan terasi bakar. Adapun cara membuatnya adalah ikan gabus dibersihkan dan dikerat-kerat punggungnya, lalu dilumuri dengan cuka dan garam selama 30 menit. Ikan lalu digoreng hingga kering dan matang. Sementara itu bawang merah, ketumbar, kemiri, lengkuas, kunyit, dan keluwak dihaluskan dan ditumis hingga harum bersama daun salam. Lalu air didihkan diberi bumbu gula merah dan garam. Setelah itu Potongan wortel dan daun bawang dimasukkan. Untuk sambal kencur, semua bahan dimasukkan ke dalam cobek lalu diulek hingga halus.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sunday, July 1, 2018

Pemanfaatan Tumbuhan dalam Pengobatan Tradisional Masyarakat Baduy dan Sekitarnya

Seiring pesatnya perkembangan kemajuan zaman, ketika teknologi mulai merambah ke penjuru dunia, begitu pula pesatnya perkembangan medis dan pengobatan moderen, ternyata keberadaan pengobatan tradisional tidak dapat lenyap begitu saja. Sampai sekarang masyarakat masih menggunakan dan memanfaatkannya, baik di kota maupun di pedesaan seperti halnya pada masyarakat Banten khususnya masyarakat Baduy dan sekitarnya.

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu mudahnya mendapatkan bahan-bahan obat tradisional karena berada di lingkungan sekitar rumah seperti halaman, kebun, dan hutan. Pengobatan tradisional tidak memiliki efek samping, sehingga aman dikonsumsi oleh siapapun termasuk ibu hamil, orang tua dan anak-anak. Pengobatan tradisional sangat mudah untuk diramu atau dibuat baik sendirian maupun oleh orang lain, karena pembuatannya tidak rumit dan dapat dikatakan sangat sederhana. Pengobatan tradisional dapat dijadikan sebagai tindakan pertolongan pertama, artinya jika seseorang terkena penyakit maka dibuatlah obat tradisional kemudian diminumkan. Namun jika tidak mengalami perubahan dan sakitnya tidak kunjung sembuh, barulah memanfaatkan pengobatan medis.

Berdasarkan pengkajian dan pengamatan dalam pemakaian obat tradisional di Banten khususnya di tiga tempat yang dijadikan sampel penelitian ini yaitu masyarakat Baduy Panamping (Baduy luar), Baduy Dangka, dan masyarakat sekitar pemukiman Baduy yakni masyarakat Desa Bojong Menteng, pertama, di ketiga tempat tersebut masih memanfaatkan pengobatan tradisional khususnya masyarakat Baduy, Baduy Panamping dan Baduy Dangka. Sedangkan pengobatan tradisional baik cara penggunaannya maupun bahan-bahannya walaupun ada perbedaan namun tidak terlalu mencolok. Artinya pengobatan tradisional di ketiga sampel tersebut tampak saling mempengaruhi walaupun tidak semuanya sama dan berbeda.

Persamaan dan perbedaan pengobatan tradisional di antaranya dapat dilihat dari bahan yang digunakannya misalnya pengobatan batuk pada masyarakat Baduy Panamping dan Baduy Dangka menggunakan bahan tuak awi tepus, sedangkan masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan daun igohgoran dan jahe beureum. Pengobatan demam (muriang) pada masyarakat Baduy Panamping sama dengan masyarakat Bojong Menteng yaitu menggunakan daun kaca piring. Sementara itu pengobatan sakit gigi pada masyarakat Baduy Panamping menggunakan bahan tangkal kadu/duren dan tangkal gintung sedangkan masyarakat Baduy Dangka mengunakan bahan daun cocok roman dan getah angsana. Begitu pula pengobatan saki mata pada masyarakat Baduy Panamping mednggunakan tuak akar randu, kayu kigeulis, daun sirih, dan bunga korejet sementara masyarakay Baduy Dangka menggunakan bahan tuak leuksa (areuy), tak harendong, dan kicimbang areuy. Pengobatan untuk mengatasi kurangnya Air Susu Ibu (ASI) pada masyarakat Baduy Panamping dan masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan sayur pepaya muda, sedangkan masyarakat Baduy Dangka menggunakan daun seuhang. Pengobatan penyakit tipes pada masyarakat Baduy Panamping dengan masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan tuak bumi (cacing kalung). Pengobatan mencret/diare pada masyarakat Baduy Panamping sama dengan masyarakat Bojong Menteng menggunakan daun jambu batu yang masih muda dan kulit manggis. Pengobatan sakit maag (lambung) pada masyarakat Baduy Panamping sama dengan masyarakat Bojong Menteng mengunakan laja goah, sementara masyarakat Baduy Dangka menggunakan kunir (koneng). Pengobatan susah Buang Air Besar (BAB) menggunakan buah peundeuy (lamtorogung) baik pada masyarakat Baduy Panamping, Baduy Dangka maupun masyarakat Bojong Menteng. Selain itu, obat lainnya menggunakan bahan buah pepaya digunakan masyarakat Baduy Panamping dengan masyarakat Bojong Menteng. Pengobatan susah Buang Air Kecil (BAK) menggunakan bahan daun pecang beling baik pada masyarakat Baduy Panamping, masyarakat Baduy Dangka maupun masyarakat Bojong Menteng. Pengobatan sakit panas badan pada masyarakat Baduy Panamping dengan masyarakat Baduy Dangka menggunakan daun kaca piring. Begitupun sakit pusing pada masyarakat Baduy Panamping dengan masyarakat Baduy Dangka menggunakan obat daun kanyere. Pengobatan sakit darah tinggi pada masyarakat Baduy panamping dengan Baduy Dangka menggunakan bahan obat dari buah mengkudu, sementara itu masyarakat Baduy dangka dengan masyarakat Bojong Menteng menggunakan buah belimbing untuk menyembuhkan darah tinggi.

Perbedaan pengobatan pada ketiga sampel penelitian terjadi ketika mengobati penyakit bisul (abses), masyarakat Baduy panamping menggunakan daun emes, masyarakat Baduy Dangka menggunakan Kacang hijau dan kacang merah, sementara masyarakat Bojong Menteng menggunakan buah bangban. Pengobatan sakit kulit seperti kurap/panu pada masyarakat Baduy Panamping dan masyarakat Baduy Dangka menggunakan bahan obat laja/laos, sementara itu masyarakat Baduy Dangka dan masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan obat kunir (koneng). Pengobatan asma pada masyarakat Baduy panamping menggunakan kukusan aseupan sementara masyarakat Baduy Dangka menggunakan daun singhub, begitu pula pengobatan sakit perut pada masyarakat Baduy panamping menggunakan kulit durian sedangkan masyarakat Baduy Dangka menggunakan daun konyal dan daun hantap. Pengobatan sakit kuning (lever) pada masyarakat Baduy panamping dan masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan obat tuak areuy dan daun kikoneng.

Pengobatan sakit rheumatik pada masyarakat Baduy Panamping menggunakan bahan obat jahe beureum, sedangkan pada masyarakat Baduy Dangka dan masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan obat daun kiencok. Pengobatan sakit kencing manis (diabeteus melitus) pada masyarakat Baduy Panamping dan masyarakat baduy Dangka menggunakan bahan obat pete yang sudah tua, sementara itu masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan obat siki kiudar dan undur-undur. Pengobatan untuk vitalitas pada masyarakat Baduy Panamping dan masyarakat Baduy Dangka menggunakan bahan obat akar tangkur.(Irvan)

Dikutip dari Yuzar Purnama dkk, “Pengetahuan Masyarakat tentang Pengobatan Tradisional Banten”, Laporan Pengkajian Pelestarian Nilai Budaya, Bandung: BPNB Jabar, 2017

Nasi Uduk

Nasi uduk adalah makanan yang mudah ditemukan di segala tempat, dimana persebaran makanan ini sangat merata di seluruh wilayah budaya Betawi. Varian dari nasi uduk amat beragam. Dari mulai cara pengolahan, sampai pada ’teman makan’ nya seperti ayam goreng, empal, tempe, bahkan yang spesial seperti semur jengkol, semur tahu dan semur kentang. Biasanya penyajian nasi uduk dilengkapi dengan sambal kacang sehingga rasa gurihnya bercampur dengan rasa pedas dari sambal tersebut.

Di masyarakat Betawi, nasi uduk sering disajikan sebagai menu untuk sarapan pagi, selain juga difungsikan sebagai pelengkap menu pada kenduri sederhana maupun hajatan-hajatan lainnya. Adapun bahan pembuatannya antara lain : beras, santan, jahe, lengkuas, daun salam, daun pandan, bawang merah, biji pala, kencur, dan garam.

Cara pembuatannya adalah beras dicuci bersih dan direndam selama 30 menit lalu ditiriskan. Beras dikukus selama 30 menit, lalu diangkat dan ditiris. Pala dan kencur dihaluskan dan dimasukkan ke dalam santan bersama jahe, lengkuas, daun salam dan daun pandan, lalu dididihkan. Setelah santan mendidih, diberi garam dan diangkat, kemudian beras dan santan dimasak selama 30 menit.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Saturday, June 30, 2018

Sayur Lelawar

Menu makanan ini serupa dengan sayur godog, karena berbahan dasar kentang. Sayur Lelawar merupakan makanan yang biasa dimasak sehari-hari. Bahan yang digunakan adalah daging ayam, buncis, kentang, santan, dan minyak. Bumbu yang dihaluskan adalah bawang merah, kencur, cabe merah, laos, kunyit, daun salam, jahe, dan air jeruk nipis. Adapun cara membuatnya kunyit diiris tipis lebar, digoreng, lalu bawang merah, jahe, kencur diiris tipis ditumis, cabe merah diiris, lalu dimasukkan ayam, kentang, buncis, buncis, dan santan direbus sampai masak berwarna kuning.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Soto Betawi

Aneka macam soto khas Betawi memiliki variasi isi, bahan, dan pengolahannya. Meskipun bahan utamanya tetap memakai daging sapi, di sebagian lokasi ada yang menggunakan kaki sapi, di sebagian lokasi lain ada yang menggunakan daging, babat, paru. Ada soto yang memakai kuah susu, ada pula yang memakai kuah santan. Pada masyarakat Betawi, hidangan berbahan dasar daging ini disajikan dengan campuran santan. Agar lebih menggugah selera, soto Betawi biasanya disajikan bersama emping melinjo sehingga dapat melengkapi rasa gurih kuahnya. Bahan yang digunakan adalah daging sapi, paru, usus, babat, santan kental, dan minyak sayur. Bumbu rebusan antara lain lengkuas, sereh, daun salam, cabe merah, bawang merah, bawang putih, jahe, daun salam, dan cengkeh bubuk. Adapun cara membuatnya adalah daging sapi, paru, usus, babat direbus dengan api sedang. Lengkuas, sereh, salam, garam dimasukkan lalu dimasak sampai daging empuk. Semua bumbu ditumis dengan minyak sayur, lalu bumbu dimasukkan ke dalam rebusan daging dan ditambah santan.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sayur Asem

Merupakan menu makanan sehari-hari yang sangat populer di masyarakat. Oleh sebagian kelompok masyarakat Betawi pinggir, sayur asem yang disajikan sering divariasikan dengan penambahan jengkol dan dilengkapi oleh sambal godog sehingga memperkuat rasa. Bahan yang digunakan adalah kacang panjang, nagka muda, jagung muda, daun melinjo, terong, kacang tanah, kaldu, daun salam, asam muda, dan belimbing wuluh. Bumbu yang dihaluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe merah, dan garam. Adapun cara pembuatannya adalah sayuran dicuci bersih lalu dipotong-potong dengan ukuran sedang. Bumbu dihaluskan dan kaldu didihkan dan bumbu dimasukkan ke dalam kaldu. Sayur yang keras seperti jagung, asam muda, nangka dan kacang tanah terlebih dahulu dimasukkan. Setelah setengah matang, sayuran yang agak lunak seperti daun melinjo, terong, dan belimbing wuluh dimasukkan.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sayur Bebanci

Sayur ini banyak dibuat pada acara kenduri tradisional seperti khitanan, pernikahan, dan sebagainya. Disamping itu juga sering dipakai sebagai lauk pada menu makanan sehari-hari. Pada sebagian masyarakat Betawi, sayur ini sering dimakan dengan menggunakan ketupat, oleh karena itu makanan ini dikenal juga dengan nama Ketupat Bebanci. Adapun bahan pembuatan sayur bebanci adalah sandung lamur sapi, air, kelapa parut, bawang merah, bawang putih, cabe merah, kunyit, lengkuas, temu mangga, temu kunci, kemiri, terasi bakar, minyak goreng, ketumbar bubuk, jintan bubuk, daun salam, kelapa muda, dikeruk, santan, garam, dan gula pasir.

Adapun cara pembuatannya adalah Sandung lamur dicuci dan direbus hingga lunak lalu diangkat dan dipotong. Kelapa parut disangrai hingga berwarna kuning kecoklatan. Bumbu ditumis hingga harum, lalu ditambah dengan ketumbar, jintan dan daun salam. Setelah itu daging sandung lamur dimasukkan, lalu kelapa sangrai dan kelapa muda, dibiarkan hingga mendidih sambil diaduk. Terakhir, garam, gula, dan merica dibubuhi dan diaduk hingga merata.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Soto Tangkar

Beda soto Tangkar dengan soto Betawi adalah penggunaan daging brisketnya, yaitu bagian daging sapi di bagian dada bawah. Menurut sejarahnya, pada jaman penjajahan Belanda, masyarakat Betawi hanya mampu membeli tangkar berupa potongan iga yang berdaging sedikit, karena bagian daging sapi yang lain sudah diambil oleh masyarakat penjajah Belanda.

Serupa dengan soto Betawi yang menjadi menu sehari-hari, soto Tangkar ini pun biasanya menjadi santapan sehari-hari, meskipun persebarannya tidak seluas soto Betawi karena hanya terdapat di wilayah tertentu seperti di daerah Kota, Tanah Abang, Kemayoran dan sebagainya. Bahan prmbuatan Soto Tangkar adalah serai, kelapa, peras santan, daun salam, air, sandung lamur, dan daging iga sapi. Bumbu yang dihaluskan adalah jahe, kunyit, lengkuas, gula merah, bawang putih, bawang merah, dan kemiri. Adapun cara pembuatanntannya Daging iga dan sandung lamur direbus hingga empuk, bumbu ditumis halus hingga harum. Daun salam dan serai dimasukkan ke rebusan daging, lalu ditambahkan santan dan dimasak hingga mengental.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Pecak Ikan Lele

Disamping sebagai makanan sehari-hari, pecak ikan lele juga digunakan sebagai pelengkap acara ritual adat, yang diadakan oleh sebagian masyarakat Betawi pinggir. Perbedaan makanan ini dibandingkan dengan pecak lele dari daerah lain adalah bahan dasar ikan lelenya yang dibakar terlebih dahulu, kemudian disiram dengan bumbu pecaknya. Selain pecak dengan ikan lele, pada beberapa lokasi terdapat pula masakan pecak dengan menggunakan ikan gabus. Bahan yang disediakan adalah ikan lele ukuran sedang, bawang merah, cabe merah, jahe, jeruk limo, kacang tanah, sereh, dan garam secukupnya.

Cara membuatnya Ikan lele dibakar dan dilumuri dengan mentega, bumbu diulek sampai halus, dan lele yang telah dibakar dilumuri dengan bumbu yang sudah dihaluskan, dan terakhir jeruk limo diperas di atas pecak lele

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).