Showing posts with label 2017. Show all posts
Showing posts with label 2017. Show all posts

Sunday, July 1, 2018

Pemanfaatan Tumbuhan dalam Pengobatan Tradisional Masyarakat Baduy dan Sekitarnya

Seiring pesatnya perkembangan kemajuan zaman, ketika teknologi mulai merambah ke penjuru dunia, begitu pula pesatnya perkembangan medis dan pengobatan moderen, ternyata keberadaan pengobatan tradisional tidak dapat lenyap begitu saja. Sampai sekarang masyarakat masih menggunakan dan memanfaatkannya, baik di kota maupun di pedesaan seperti halnya pada masyarakat Banten khususnya masyarakat Baduy dan sekitarnya.

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu mudahnya mendapatkan bahan-bahan obat tradisional karena berada di lingkungan sekitar rumah seperti halaman, kebun, dan hutan. Pengobatan tradisional tidak memiliki efek samping, sehingga aman dikonsumsi oleh siapapun termasuk ibu hamil, orang tua dan anak-anak. Pengobatan tradisional sangat mudah untuk diramu atau dibuat baik sendirian maupun oleh orang lain, karena pembuatannya tidak rumit dan dapat dikatakan sangat sederhana. Pengobatan tradisional dapat dijadikan sebagai tindakan pertolongan pertama, artinya jika seseorang terkena penyakit maka dibuatlah obat tradisional kemudian diminumkan. Namun jika tidak mengalami perubahan dan sakitnya tidak kunjung sembuh, barulah memanfaatkan pengobatan medis.

Berdasarkan pengkajian dan pengamatan dalam pemakaian obat tradisional di Banten khususnya di tiga tempat yang dijadikan sampel penelitian ini yaitu masyarakat Baduy Panamping (Baduy luar), Baduy Dangka, dan masyarakat sekitar pemukiman Baduy yakni masyarakat Desa Bojong Menteng, pertama, di ketiga tempat tersebut masih memanfaatkan pengobatan tradisional khususnya masyarakat Baduy, Baduy Panamping dan Baduy Dangka. Sedangkan pengobatan tradisional baik cara penggunaannya maupun bahan-bahannya walaupun ada perbedaan namun tidak terlalu mencolok. Artinya pengobatan tradisional di ketiga sampel tersebut tampak saling mempengaruhi walaupun tidak semuanya sama dan berbeda.

Persamaan dan perbedaan pengobatan tradisional di antaranya dapat dilihat dari bahan yang digunakannya misalnya pengobatan batuk pada masyarakat Baduy Panamping dan Baduy Dangka menggunakan bahan tuak awi tepus, sedangkan masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan daun igohgoran dan jahe beureum. Pengobatan demam (muriang) pada masyarakat Baduy Panamping sama dengan masyarakat Bojong Menteng yaitu menggunakan daun kaca piring. Sementara itu pengobatan sakit gigi pada masyarakat Baduy Panamping menggunakan bahan tangkal kadu/duren dan tangkal gintung sedangkan masyarakat Baduy Dangka mengunakan bahan daun cocok roman dan getah angsana. Begitu pula pengobatan saki mata pada masyarakat Baduy Panamping mednggunakan tuak akar randu, kayu kigeulis, daun sirih, dan bunga korejet sementara masyarakay Baduy Dangka menggunakan bahan tuak leuksa (areuy), tak harendong, dan kicimbang areuy. Pengobatan untuk mengatasi kurangnya Air Susu Ibu (ASI) pada masyarakat Baduy Panamping dan masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan sayur pepaya muda, sedangkan masyarakat Baduy Dangka menggunakan daun seuhang. Pengobatan penyakit tipes pada masyarakat Baduy Panamping dengan masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan tuak bumi (cacing kalung). Pengobatan mencret/diare pada masyarakat Baduy Panamping sama dengan masyarakat Bojong Menteng menggunakan daun jambu batu yang masih muda dan kulit manggis. Pengobatan sakit maag (lambung) pada masyarakat Baduy Panamping sama dengan masyarakat Bojong Menteng mengunakan laja goah, sementara masyarakat Baduy Dangka menggunakan kunir (koneng). Pengobatan susah Buang Air Besar (BAB) menggunakan buah peundeuy (lamtorogung) baik pada masyarakat Baduy Panamping, Baduy Dangka maupun masyarakat Bojong Menteng. Selain itu, obat lainnya menggunakan bahan buah pepaya digunakan masyarakat Baduy Panamping dengan masyarakat Bojong Menteng. Pengobatan susah Buang Air Kecil (BAK) menggunakan bahan daun pecang beling baik pada masyarakat Baduy Panamping, masyarakat Baduy Dangka maupun masyarakat Bojong Menteng. Pengobatan sakit panas badan pada masyarakat Baduy Panamping dengan masyarakat Baduy Dangka menggunakan daun kaca piring. Begitupun sakit pusing pada masyarakat Baduy Panamping dengan masyarakat Baduy Dangka menggunakan obat daun kanyere. Pengobatan sakit darah tinggi pada masyarakat Baduy panamping dengan Baduy Dangka menggunakan bahan obat dari buah mengkudu, sementara itu masyarakat Baduy dangka dengan masyarakat Bojong Menteng menggunakan buah belimbing untuk menyembuhkan darah tinggi.

Perbedaan pengobatan pada ketiga sampel penelitian terjadi ketika mengobati penyakit bisul (abses), masyarakat Baduy panamping menggunakan daun emes, masyarakat Baduy Dangka menggunakan Kacang hijau dan kacang merah, sementara masyarakat Bojong Menteng menggunakan buah bangban. Pengobatan sakit kulit seperti kurap/panu pada masyarakat Baduy Panamping dan masyarakat Baduy Dangka menggunakan bahan obat laja/laos, sementara itu masyarakat Baduy Dangka dan masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan obat kunir (koneng). Pengobatan asma pada masyarakat Baduy panamping menggunakan kukusan aseupan sementara masyarakat Baduy Dangka menggunakan daun singhub, begitu pula pengobatan sakit perut pada masyarakat Baduy panamping menggunakan kulit durian sedangkan masyarakat Baduy Dangka menggunakan daun konyal dan daun hantap. Pengobatan sakit kuning (lever) pada masyarakat Baduy panamping dan masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan obat tuak areuy dan daun kikoneng.

Pengobatan sakit rheumatik pada masyarakat Baduy Panamping menggunakan bahan obat jahe beureum, sedangkan pada masyarakat Baduy Dangka dan masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan obat daun kiencok. Pengobatan sakit kencing manis (diabeteus melitus) pada masyarakat Baduy Panamping dan masyarakat baduy Dangka menggunakan bahan obat pete yang sudah tua, sementara itu masyarakat Bojong Menteng menggunakan bahan obat siki kiudar dan undur-undur. Pengobatan untuk vitalitas pada masyarakat Baduy Panamping dan masyarakat Baduy Dangka menggunakan bahan obat akar tangkur.(Irvan)

Dikutip dari Yuzar Purnama dkk, “Pengetahuan Masyarakat tentang Pengobatan Tradisional Banten”, Laporan Pengkajian Pelestarian Nilai Budaya, Bandung: BPNB Jabar, 2017

Thursday, March 22, 2018

Curug Dago, Penyimpan Jejak Raja Thailand

Bandung - Curug Dago di Kecamatan Coblong, Bandung, Jawa Barat, sebenarnya tak sulit ditemukan. Melewati Punclut lalu masuk Jalan Dago Pojok akan menemukan pertigaan, berbeloklah ke kiri. “Terus entar jalan bentar, ada belokan ke kiri. Dari situ tinggal nyusurin (mengikuti) jalan aja,” kalau kata Tyas, salah seorang teman saya.

Memasuki gerbang Curug Dago setelah melewati jalan kecil sejauh 200 meter yang hanya bisa dilalui motor, pengunjung bisa menyaksikan potongan aliran Sungai Cikapundung yang mengalir dari Maribaya ini.

Turun dari kendaraan sambil menghirup udara dataran tinggi membuat lelah saya di perjalanan dari perkotaan pun menguap. Setelah membayar tiket seharga sekitar Rp15.000, saya turun menyusuri tangga menuju tempat lebih rendah. Taman bermain kecil-kecilan menyambut mata saya. Saat saya lewati, seorang balita tengah duduk di ayunan sedang ibunya ada di dekatnya.

Hati-hati adalah kunci utama saat wisata di alam. Tangga agak curam dan licin—mungkin akibat jejak hujan semalam.

Curug dalam Bahasa Sunda yang artinya air terjun akhirnya di depan mata. Air terjun yang lumayan besar—setinggi 800 meter, itu sayangnya tak bisa diselami. Saya membuang jauh-jauh harapan merasakan air segar pegunungan. Selain dalam, air pada hari itu, Sabtu (21/4), agak kecoklatan. Meski begitu, tak menyurutkan semangat melihat lukisan alam ini. Suasana yang tenang dan matahari pagi yang malu-malu dari balik tebing menambah kilau Curug Dago.

Pada tahun 2000-an, Curug Dago akhirnya resmi menjadi cagar budaya. Namun, pengelolaan dibagi menjadi dua: bagian atas oleh pengelola Tahura dan bagian bawah sampai ke sungai oleh BPCB (yang sekarang menjad BPNB atau Balai Pelestarian Nilai Budaya) Bandung.

Tak jauh dari air terjun, terdapat sebuah pos berbentuk rumah warna merah. Dari luar, pos ini tampak kosong dan usang. Ujung atapnya memiliki ornamen dan runcing di ujungnya yang mengingatkan saya dengan etnis Tionghoa. Rupanya terdapat jejak sejarah dari kerajaan Thailand di dalamnya.

Tapak Raja Thailand di Curug Dago
Ada dua buah batu tulis bekas peninggalan Kerajaan Thailand pada tahun 1818 M. Dalam pos berbentuk rumah berwarna merah, terdapat sebuah batu tulis yang kedua—yang ditulis oleh Raja Thailand ke-V. Sedangkan agak jauh lagi adalah batu tulis satunya, yang pertama—yang ditulis oleh Raja Thailand ke-VII.

Itulah yang dijelaskan Teguh, salah satu penjaga cagar budaya ini. Menurut tafsiran ahli, dua prasasti merupakan peninggalan dari Raja Rama V atau Raja Chulalonkorn dan Raja Rama VII atau Pradjathipok Pharaminthara yang berasal dari dinasti Chakri dan pernah berkunjung ke Curug Dago.

Meski begitu sedikit pengunjung yang tahu sentuhan Negeri Gajah Putih ini. Pengunjung kebanyakan berfokus pada air terjunnya saja. “Baru tahu kalau ada ini (prasasti Thailand) juga setelah ngobrol sama penjaganya,” kata Resya, salah satu pengunjung hari itu.

Bagai surga yang tak dirindukan
Beberapa orang yang saya tanya perihal Curug Dago mengaku tidak menahu soal adanya air terjun di Dago, Bandung. Padahal mereka ini yang sudah lama tinggal di Kora Kembang. Letaknya pun terhitung tak terlalu jauh dari jantung kota Bandung. Pun turis-turis sering melewati kawasan ini untuk wisata alam.

Seperti yang tertulis dalam ragamwisata.com, lokasinya yang dapat dikatakan tersembunyi karena berada di daerah Bukit Dago yang termasuk dalam kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda, Bandung, dan kurangnya promosi wisata membuat air terjun ini semakin sedikit pengunjungnya.

“Biasa aja sih soalnya airnya enggak bening dan pendek curugnya,” ungkap Zaki, salah satu warga Bandung yang pernah mengunjungi tempat wisata ini.

Air yang keruh ini disinyalir merupakan dampak dari pencemaran. Permukiman serta pabrik-pabrik pengolahan dituding pula sebagai isu penyebab hutan di Curug Dago tergerus. Pun kesan yang ditinggalkan selain airnya adalah fasilitas yang dibilang tak sebanding dengan ‘hiburan’ yang didapat. “Sekitar lima belas ribu kemahalan, sih. Kalau biaya tiket segitu, masih kurang fasilitasnya,” kata Resya.

Banyak pula dari pengunjung yang tidak tahu kalau terdapat unsur sejarah di Curug Dago. Prasasti yang jadi bukti luput begitu saja. Pos merah yang letaknya tak jauh dari air terjun terbilang tak terawat sehingga pengunjung pun malas masuk untuk tahu ada apa di dalamnya. “Pos bangunan yang merah itu juga enggak tahu buat apa. Terlihat enggak terawat. Tangga menuju ke sana pun banyak yang harus diperbaiki,” cerita Resya.

Kekayaan alam yang letaknya dekat dengan perkotaan berpotensi sebagai wisata ‘pelarian’ dari penatnya hingar bingar kota justru kurang meninggalkan kesan ‘ingin datang lagi’ ke pengunjung-pengunjungnya. Baik masyarakat atau pemerintah kurang bersinergi membuat cagar budaya ini lestari dan kaya edukasi. “Kalau pengembangannya serius mah bisa jadi bagus dan strategis, dekat kota,” kata Zaki. (ded/ded)

Sumber:

Ada Buku-Buku Langka di Pekan Literasi Asia Afrika

Bandung - Beragam koleksi buku langka dari Perpustakaan Ali Alatas yang pengadaannya berasal dari berbagai negara sahabat, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan IKAPI Jabar dipamerkan di Pekan Literasi Asia Afrika Keempat. Kegiatan tersebut digelar pada 17-19 Maret 2017 di Gedung Merdeka Bandung.

Salah satu bukunya adalah Ensiklopedia Sastra Indonesia yang dipamerkan IKAPI Jabar. Selain itu, dipamerkan pula koleksi film dokumenter dan naskah sejarah milik Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Stan lainnya yang turut meramaikan pekan literasi tersebut yakni Pusat Bahasa Mandarin Universitas Kristen Maranatha, Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat,
Balai Penerbitan Braille Indonesia Abiyoso, dan Pusat Kebudayaan Korea Indonesia.

"Pekan Literasi Asia Afrika adalah kegiatan besar dalam rangka memperingati 62 tahun KAA. Ada misi di dalamnya yakni bagaimana agar masyarakat dapat sadar akan pentingnya membaca. Tidak hanya baca dan tulis saja, tapi diharapkan bisa mengeksplor apa yang ada di dalam buku dan koleksi lainnya," ujar Project Officer Pekan Literasi Asia Afrika keempat Deddy Mulyana, kepada Tribun, Jumat (17/3/2017).

Keberadaan pekan literasi tersebut, kata Deddy, diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan buku dan bahan pustaka. Tapi juga bagaimana buku dan bahan pustaka tersebut dapat dimanfaatkan dan digali kembali.

Di Pekan Literasi Asia Afrika Keempat, pengunjung pun bisa belajar mengenal huruf-huruf braille.

"Di perpustakaan museum KAA, mungkin hanya perpustakaan kami yang menyediakan sarana dan tempat untuk para difabel," ucapnya. (ee)

Sumber: http://jabar.tribunnews.com

Thursday, March 1, 2018

Sejarah Singkat Penyimbang Marga di Way Kanan

Adat kebiasaan suatu daerah kesukuan memiliki ciri khas masing-masing, demikian juga di wilayah Kabupaten Way Kanan yang terdiri atas lima kebuwayan. Kepala marga adalah pasirah yang dipilih dari penyimbang marga wilayah tersebut. Keberadaan marga-marga ini tidak ada kaitannya dengan sistem adat istiadat kebuwayan Way Kanan. Sistem tata cara proses pelaksanaan adat istiadat pada dasarnya memiliki varian secara praktik, antara lain pakaian, payung dan aksesori adat. Payung agung yang digunakan oleh kebuwayan pada umumnya menggunakan payung agung berwarna putih dan menggunakan payung agung berwarna kuning, akan tetapi di Buway Pemuka Bangsa hanya memakai payung agung berwarna putih.
Di Marga Buway Pemuka Pengiran Tua, Marga Buway Bahuga, Marga Buway Barasakti, dan Marga Buway Pemuka Pengiran Ilir ada strata pangkat adat Injak 18 dan Injak Selang, sedangkan di marga-marga lain tidak ada. Masih banyak lagi perbedaan-perbedaan tetapi tidak mengganggu kesatuan adat di lima kebuwayan, terutama pada saat pelaksanaan proses upacara begawi.

Hukum adat dipakai oleh penyimbang marga dalam menentukan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan adat. Pada awalnya penyimbang marga dalam satu kebuwayan atau marga hanya memiliki satu penyimbang marga. Karena pada saat itu penyimbang marga dianggap sebagai raja dalam marga lebuh atau kampungnya. Apalagi tata hubungan antarkeluarga, tata pergaulan, peraturan-peraturan dalam upacara di masyarakat seperti perkawinan, begawi diatur dan ditetapkan oleh penyimbang marga.(Irvan)

Dikutip dari T. Dibyo Harsono dkk, “Potensi Budaya di Kabupaten Way Kanan”, Laporan Pendataan, Bandung: BPNB Jawa Barat, 2017.

Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar