Showing posts with label Temu Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Temu Tokoh. Show all posts

Thursday, June 28, 2018

Inggit Garnasih Pengabdian Seorang Perempuan

Oleh Euis Thresnawaty S.

A. Pendahuluan
Munculnya Gerakan Kebangsaan dan Nasionalisme di Indonesia mendorong kaum perempuan untuk ikut terjun dalam organisasi bersama kaum perempuan untuk ikut terjun dalam organisasi bersama kaum lelaki memperjuangkan bangsanya menjadi bangsa yang utama dan mulia. Pada saat itu perempuan telah ikut berperan , berusaha, dan bertanggung jawab atas kemajuan bangsanya.

Keikutsertaan kaum perempuan dalam organisasi, sebenarnya sudah ada sebelum zaman pergerakan, misalnya Paguyuban Pasundan Istri (PASI). Walaupun bentuk dan kegiatannya berbeda, tetapi tujuannya sama. Mereka beranggapan bahwa kaum perempuan berpengaruh besar dalam kehidupan bermasyarakat. Dahulu perempuan berperan tidak melebihi apa yang menjadi kodratnya, dan merekapun menerima keadaan tersebut. Pada zaman pergerakan, idealisme kaum perempuan mulai bangkit dan diwujudkan dalam masyarakat tanpa meninggalkan kodratnya.

Selama ini peran perempuan dalam perjuangan kemerdekaan masih jarang terungkap kepermukaan. Padahal tidak sedikit dari kaum perempuan yang turut berperan dalam kancah perjuangan, misalnya dalam perjuangan fisik: Tjut Nyak Dien, Nyi Ageng Serang, dan Tjut Muthia dapat dijadikan contoh. Tetapi ada satu peranan yang unik yang hanya dimiliki kaum perempuan dan sangat berarti bagi kelangsungan suatu perjuangan. Artinya dengan nkehadiran dan kasih sayang perempuan tersebut mampu membangkitkan semangat juang orang lain, misalnya pasangannya. Beberapa contoh perempuan yang berjasa bagi negaranya karena peranannya dalam membangkitkan semangat juang pasangannya, diantaranya Evita Peron dari Argentina yang dengan gigih membantu perjuangan suaminya, Juan Peron, atau Eva kekasih Napoleon Bonaparte dari Perancis. Kehadiran perempuan-perempuan tersebut tentu saja tidak dapat dikecilkan artinya, karena mereka telah mampu menjadikan lelaki-lelaki yang dikasihinya berhasil mengukir nama besar bagi bangsanya.

Adalah Soekarno, Sang Proklamator dan Presiden pertama RI, menuangkan pandangan dan kekagumannya tentang peranan kaum perempuan dalam kancah Revolusi Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul “Sarinah”, Soekarno menganggap kaum perempuan mempunyai peranan yang menentukan dalam perjuangan kemerdekaan. Gambaran Soekarno ini tampaknya didasari oleh pengamatan dan pengalamannya terhadap peranan kaum perempuan. Dan karena peranan tersebut dikaitkan dengan perjuangan kemerdekaan, maka bisa disebutkan bahwa kaum perempuan yang dimaksud adakah kaum perempuan Indonesia. Pandangan inilah yang menempatkan perempuan Indonesia sejajar dengan perjuangan bangsa. Disadari atau tidak, perempuan yang sesuai dengan gambarannya tersebut pernah ada dalam kehidupan Soekarno. Diantara sekian perempuan yang mendampingi Soekarno, tanpa mengecilkan arti yang lainnya, Inggit Garnasih merupakan salah satu gambaran sosok perempuan tersebut. Dengan segala ketulusannya ia mendampingi Soekarno pada langkah-langkah awal perjuangannya untuk membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan. Seperti yang diungkapkan Ramadhan K.H. dalam bukunya Kuantar Ke Gerbang bahwa perempuan Sunda ini ibarat induk ayam yang sayapnya selalu siap memberi perlindungan pada saat-saat kesulitan seorang Soekarno.

B. Riwayat Hidup Inggit Garnasih
Garnasih, demikian nama yang diberikan orang tuanya, dilahirkan di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada tanggal 17 Pebruari 1888. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Arjipan dan Amsi, dua saudara kandungnya adalah Natadisastra dan Moertasih. Sejak kecil ia telah memperlihatkan tanda-tanda kecantikannya disamping tingkah laku dan budi pekerti yang halus sehingga banyaak disukai orang.

Adapun kata Inggit yang menjadi tambahan nama depannya ternyata memiliki riwayat tersendiri. Pada saat mudanya, karena ia banyak disukai orang, kemana saja pergi baik ke pasar, ke alun-alun atau kemana saja, pulangnya ia selalu membawa sesuatu. Pemberian itu bisa berbentuk uang atau barang. Dalam bentuk uang jumlahnya tidak tanggung-tanggung bisa mencapai bilangan yang cukup besar untuk ukuran saat itu yaitu “seringgit”. Karena keadaan itulah ia dijuluki “si ringgit”, kemudian menjadi “inggit”, hingga akhirnya melekat menjadi nama Inggit Garnasih.

Sebelum menikah dengan Soekarno atau Bung Karno, ia pernah menikah dengan Kopral Nataatmadja, tetapi rumah tangganya tidak bertahan lama. Pada tahun 1961 menikah lagi dengan Haji Sanoesi seorang saudagar yang cukuip kaya dan merupakan tokoh Sarekat Islam Jawa Barat. Inggit pun tercatat sebagai anggota Sarekat Islam. Meski tidak ikut aktif berjuang tetapi ia sangat mendukung perjuangan suaminya saat itu. Bersama Sanoesi ia hidup di tengah suasana melawan berbagai aturan pemerintah Hindia Belanda. Gerakan Kebangsaan Sarekat Islam yang diikuti Inggit adalah sebuah organisasi perjuangan yang bertujuan melawan kepincangan dan ketidakadilan yang menimpa rakyat Indonesia, baik yang datang dari pemerintah kolonial Belanda, saudagar-saudagar Cina maupun dari kalangan bangsa sendiri yang bekerja sebagai pegawai pemerintah. Sarekat Islam berkembang dengan cepat karena dipimpin oleh alim ulama dan para kiyai yang dekat dengan rakyat. Keanggotaannya terbuka bagi semua lapisan masyarakat.

Pada awalnya kehidupan rumah tangga Inggit Garnasih dan Sanoesi tenang dan tentram. Tetapi sejak kehadiran pemuda Soekarno dalam kehidupan mereka pada tahu 1921, rumah tangga mereka mulai bermasalah. Ternyata pemuda Soekarno yang indekos di rumah Sanoesi telah jatuh cinta kepada induk semangnya, demikian pula sebaiknya. Saat itu Soekarno masih menjadi mahasiswa di Technische Hoogeschool atau ITB sekarang.

Ketika mengetahui terjadi ‘sesuatu’ antara Soekarno dan istrinya, dengan berbesar hati Sanoesi memilih mundur. Ia segetra menceraikan Inggit dengan syarat Inggit hanya boleh menikah dengan Soekarno, bukan dengan orang lain. Sanoesi berharap Inggit akan mampu mendampingi, mendukung, dan membangkitkan semangat perjuangan Soekarno. Tahun 1923 Inggit menikah dengan Soekarno, pemuda yang usianya 15 tahun lebih muda darinya.

Selanjutnya terjadi perubahan dalam kehidupan Inggit. Dulu ia bersuamikan Haji Sanoesi yang berpenghasilan cukup, bahkan terhitung kaya. Sekarang ia harus siap mendampingi Soekarno yang masih mahasiswa bahkan belum mempunyai penghasilan. Tetapi semuanya dihadapi Inggit dengan ikhlas. Inggit merasa hal itu merupakan kewajibannya sebagai seorang istri, ia terus mendorong semangat Soekarno suaminya untuk segera menyelesaikan sekolahnya agar bisa meneruskan perjuangan dengan lebih tenang.

Karena perkawinannya tidak dikaruniai keturunan, maka mereka sepakat mengangkat Ratna Djuami ketika usianya masih 40 hari sebagai anaknya. Ratna Djuami merupakan putri dari kakak Inggit yang bernama Moertasih yang lahir pada tanggal 4 Mei 1923. Ketika mereka berada di Endeh, Pulau Flores dalam rangka pembuangan politik mereka pun mengangkat satu anak lagi yaitu Kartika, putri dari Atmosudirdjo, yang lahir pada tanggal 28 Februari 1928. Sedangkan Fatmawati yang kelak menjadi istri Soekarno, merupakan anak angkat Ingghit ketika ketika mereka berada di Bengkulu.

Pasangan Soekarno menempati sebuah rumah kontrakan yang terletak di Jalan Jaksa, tidak begitu jauh dari alun-alun Bandung. Secara fisik rumah kontrakannya hanya rumah panggung yang sederhana, tetapi justru paling sering didatangi tamu yang tidak lain merupakan teman-teman seperjuangan Soekarno. Bahkan di antara mereka ada yang menetap di rumah Inggit. Inggit sama sekali tidak membuat peraturan ketika menampung teman-teman seperjuangan suaminya. Ia memahami betul keadaan ekonomi teman-teman Soekarno. Untuk menutupi kebutuhan rumah tangga, Inggit membuat ramuan-ramuan tradisional, bedak, atau menjahitkan baju orang lain. Kadang ia membeli bahan sendiri dan setelah menjadi pakaian lalu dijajakannya. Cara-cara itulah yang ditempuh Inggit untuk menutupi kebutuhan hidup. Sebab bila ia tidak berusaha sendiri, darimana kebutuhan rumah tangga dapat teratasi. Saat itu Soekarno memang kepala keluarga, namun sesungguhnya kemudi rumah tangga berada di tangan Inggit. Ia membebaskan suaminya untuk aktif dalam pergerakan tanpa harus banyak mencurahkan waktu untuk mencari nafkah.

Ketika Soekarno sudah menjadi insinyur dan mendirikan Biro Tehnik, Inggit tetap meneruskan usahanya dalam bidang kosmetik tradisional, yaitu jamu dan bedak. Dipihak lain, keterlibatan Soekarno dalam biro tampaknya tidak maksimal. Soekarno lebih banyak mencurahkan waktu untuk kegiatan pergerakan dan partainya daripada urusan bidang kearsitekan.

C. Pengobar Semangat
Inggit, tidak salah lagi adalah pengobar semangat pemuda Soekarno dalam perjuangan menjelang kemerdekaan Indonesia. Pada saat Soekarno lelah dan frustasi akibat tekanan Belanda, bahkan ketika Soekarno mulai ragu apakah perjuangannya akan berhasil dan diteruskan, Inggit sering mengucapkan kata-kata “jadilah lalaki lalanang jagat. Jangan kalah, jangan mundur dan jangan putus asa. Biar, tak apa sebentar dipenjara, tidak akan ada artinya penderitaan ini dibandingkan dengan cita-cita besar yang sedang diperjuangkan”. Inggit begitu yakin, Soekarno akan menjadi pemimpin bangsa Indonesia, dan memang ia mampu mengantar Soekarno sebagai pemimpin besar.

Ketika Soekarno dipenjara di Banceuy, lalu dipindahkan ke Sukamiskin, Inggit terkadang ditemani Ratna Djuami putrinya selalu rajin menengok Soekarno untuk memberi kekuatan dan dukungan berupa semangat. Demikan juga ketika Soekarno dipenjara di Sukamiskin, ia rajin menengok suaminya meskipun harus menempuh perjalanan yang jaraknya belasan kilometer, terkadang harus ditempuh dengan berjalan kaki apabila kehabisan uang. Setiap kali membesuk, Inggit selalu membawa makanan untuk suaminya. Sesuatu yang wajar dan merupakan kewajiban seorang istri untuk berbuat demikian. Namun sebetulnya dibalik makanan yang dikirim tersebut kadang-kadang tersimpan “sesuatu” yang disembunyikan.

Pada suatu saat ia memasukkan beberapa keping uang logam ke dalam kue Nagasari yang akan dikirimkan pada Soekarno, sesuai permintaannya. Pada kesempatan lain ia juga berhasil mengirimkan buku-buku dan beberapa naskah. Untuk mengelabui penjaga, Inggit menempelkan buku atau naskah tersebut pada perutnya lalu diikat dengan pending. Pledoi pembelaan Soekarno yang membuat heboh dunia internasional yaitu “Indonesia Menggugat”, kalau bukan karena Inggit yang berupaya keras mensuplai buku-buku dan bacaan lainnya pada Soekarno belum tentu terwujud. Inggit juga merupakan saksi beberapa peristiwa yang terjadi di sekitar Soekarno, diantaranya saat Soekarno merumuskan terbentuknya Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dan lahirnya Sumpah Pemuda tahun 1928.

Untuk melengkapi baktinya pada suami dan dukungannya pada perjuangan Pergerakan Indonesia, pada tahun 1934-1938 ia turut suaminya dibuang ke Kota Endeh di Pulau Flores, dan pada tahun 1938-1942 ke Kota Bengkulu di Pulau Sumatra. Menurut Profesor S.I Poeradisastra, bisa dibayangkan seandainya B.C de Jonge membuangnya ke Endeh (1934) dan A.W.C. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer ke Bengkulu (1938) sedangkan Inggit minta cerai, pasti Soekarno bagai elang rajawali yang hanya punya satu sayap.

D. Memilih Mundur
Setelah melalui perjalanan hidup yang panjang selama 20 tahun mendampingi Soekarno, akhirnya Inggit memilih mundur dari kehidupan Soekarno. Ia memilih cerai dari pada dimadu ketika Soekarno mengutarakan keinginannya akan menikahi Fatmawati yang masih anak angkatnya sendiri. Tahun 1943 Inggit Garnasih dan Soekarno resmi bercerai. Sebenarnya, Soekarno merasa berat harus berpisah dengan Inggit yang telah setia mendampinginya dikala susah. Tetapi pendirian Inggit sangat kukuh dan dengan tegas tetap memilih cerai daripada dimadu. Pada masa jayanya Soekarno pernah mengakui bahwa Inggit adalah sumber ilhamnya, pendorong dan pemberi semangat dikala dibutuhkan. Ia berperan sebagai ibu, kekasih, dan kawan setia di masa sulit tersebut.

Inggit pasrah, walau orang tahu andilnya tidak sedikit membentuk ketegaran Soekarno. Ia pasrah pula, walau pada masa masa akhir hidupnya bersama dua pembantunya terpaksa berjualan jamu dan bedak di Bandung, padahal waktu itu, bekas suaminya pemuda yang 15 tahun lebih muda dari dirinya, adalah orang yang paling berkuasa di Republik ini. Inggit tetap dalam kesederhanaannya.

Wanita berhati mulia ini pada tahun 1962 pernah dianugrahi Satya Lencana Perintis Kemerdekaan, dan Bintang Maha Putra pada tanggal 10 November 1997 sebagai buah ketulusannya mendampingi suami dan dukungannya pada perjuangan. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada Jumat malam 13 April 1984, pukul 19.10 WIB di jalan Ciateul No 8 Bandung, di usianya yang ke-96 tahun. Rumah di Jalan Ciateul adalah pemberian Soekarno, mantan suaminya. Ketika bercerai dengan Soekarno ia pernah mengalami hidup berpindah-pindah dari rumah ke rumah orang yang bersedia menampungnya. Baru pada tahun 1962 Soekarno membelikan rumah tersebut. Ia meninggal disaksikan dua pembantu setianya Mak Irah, dan Mak Ikah. Meskipun ia berkeinginan dimakamkan di Cibintinu, Cigereleng, Kabupaten Bandung, tanah yang pernah mempertemukan Soekarno dengan petani Marhaen, akhirnya keluarga memutuskan untuk memakamkannya di pemakaman Caringin, Ciparay, Bandung.

E. Penutup
Inggit Garnasih, adalah sosok perempuan Sunda yang dengan kesederhanaannya mampu menjadi pemicu semangat Soekarno. Ia membaktikan hidupnya dalam kancah perjuangan pergerakan, mendampingi dan mengantar Soekarno menuju kesuksesan, meski kelak Inggit tidak menikmati hasilnya. Bahkan Profesor S.I. Poeradisastra menyatakan pendapatnya bahwa separuh dari semua prestasi Soekarno dapat didepositokan atas rekening Inggit Garnasih di dalam “Bank Jasa Nasional Indonesia”. Inggit merupakan sosok perempuan yang mencintai Soekarno tidak karena harta dan tahtanya, yang memberi dan tidak meminta, dan satu-satunya perempuan yang pernah menemani Soekarno di dalam kemiskinan dan kekurangan, dan mengalami hidup dalam pembuangan.

Ketika Soekarno dan kawan-kawan seperjuangannya sibuk berjuang dalam pergerakan kemerdekaan nasional, dengan keikhlasannya pula Inggit membantu. Bantuan yang Ia berikan berupa moral, yaitu dengan memberi semangat dan dukungannya, serta berupa material. Dengan kesadaran Ia membebaskan Soekarno untuk aktif berjuang tanpa harus memikirkan kewajiban sebagai seorang suami. Inggit mengambil alih kemudi ekonomi keluarganya. Barangkali pledoi pembelaan Soekarno yang menghebohkan yaitu “ Indonesia Menggugat “ tidak akan terwujud seandainya Inggit tidak nekad mensuplay buku-buku pada Soekarno saat dipenjara.

Di usia Soekarno yang ke empat puluh, lelaki yang usianya terpaut 15 tahun lebih muda dari Inggit, telah berhasil diantarkan sampai ke gerbang kemerdekaan. Inggit Garnasih menyampaikannya disana dengan selamat, tetapi Ia tidak ditakdirkan untuk memasuki Istana Merdeka bersama Soekarno. Inggit memaafkan ketika Soekarno lebih memilih menikah lagi dengan Fatmawati, anak angkatnya, karena ia menolak untuk dimadu. Disinilah Inggit membuktikan, bahwa orang tidak mutlak perlu bersekolah tinggi untuk berjiwa besar.
Perempuan kelahiran Desa Kamasan Banjaran tanggal 17 Pebruari 1888 ini meninggal di usia 96 tahun pada tanggal 13 April 1984. Ia meninggal tetap dalam kesederhanaannya di rumah pemberian orang yang sangat di cintainya, Soekarno, Jalan Ciateul No 8 Bandung. Tahun 1962 Ia dianugrahi Satya Lencana Perintis Kemerdekaan dan pada tanggal 10 November 1997 dianugrahi Bintang Maha Putra.

F. Daftar Pustaka
Buku:
K.H., Ramadhan. 1981. Kuantar ke Gerbang, Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno, Jakarta: Sinar Harapan

Nuryanti, Reni, dkk.2007. Istri-istri Soekarno. Yogyakarta: Ombak

Nuryani, Reni, dkk. 2007. Perempuan dalam Hidup Soekarno, Biografi Inggit Garnasih. Yogyakarta: Ombak

Soekarno, 1963. Sarinah, Jakarta: Panitia Penerbit Buku-buku Karangan Presiden Soekarno.

Majalah:
Ibu Inggit Garnasih, Gambar Wanoja Sunda, dalam Majalah Galura edisi November 1997.
Semut Kecil Dalam Gemuruh Kehidupan Bung Karno, dalam Majalah Kartini No. 325, April 1987.

Sumber: Makalah disampaikan pada acara Temu Tokoh yang diadakan oleh BPNB Jawa Barat di Soreang tahun 2012

Penyelataman Benda Cagar Budaya Peninggalan Ibu Inggit Garnasih

Oleh Dra. Yanti Nisfiyanti

PENDAHULUAN
Masuknya globalisasi tidak harus ditolak, namun perlu dijaga kepentingannya dan pandai memilah serta memilih agar dampak negatif dari globalisasi bisa dihindari. Salah satunya adalah dengan penyelamatan Benda Cagar Budaya (BCB) dalam upaya pelestarian nilai budaya, agar BCB tersebut terhindar dari kerusakan atau kepunahan. Hal ini penting bagi pembentukan jati diri bangsa terutama generasi muda. Kegiatan penyelamatan BCB tersebut pada dasarnya merupakan upaya untuk pelestarian nilai budaya bangsa. Pelestarian nilai tersebut adalah untuk dikembangkan dan dimanfaatkan di kemudian hari. Pengembangan dilakukan dengan meningkatkan mutu dan mempersiapkan masyarakat sebagai pendukung kebudayaan agar tanggap, tangguh, dan bertangung jawab dalam menghadapi tantangan jaman dengan upaya menanamkan dan mengukuhkan nilai-nilai budaya, pemikiran, gagasan sesui dengan perkembangan ilmu dan teknologi.

Atas dasar tersebut, maka upaya pengembangan dan pemanfaatan nila-nilai tradisi perlu dilakukan, antara lain melalui penyelamatan BCB yang memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi. Salah satu yang perlu dilakukan dalam upaya penyelamatan BCB adalah benda bersejarah milik Inggit Garnasih, yakni salah seorang istri (istri pertama) proklamator RI yakni Soekarno. Inggit Garnasih adalah sosok perempuan Sunda yang dengan kesedehanaannya mampu menjadi pemicu semangat Soekarno. Ia membaktikan hidupnya dalam kancah perjuangan pergerakan, mendampingi dan mengantarkan Soekarno menuju kesuksesannya. Dengan keikhlasan, Bu Inggit membantu memberikan dukungan moral, semangat, dan material yang tidak sedikit. Setelah menghantarkan Soekarno mencapai kemerdekaan dan memasuki Istana kepresidenan, Bu Inggit meminta cerai karena Soekarno menikah lagi dengan Fatmawati. Lalu Bu Inggit tinggal di Bandung, tepatnya di Jalan Ciateul, yang kemudian setelah beliau meninggal, rumah tersebut dibeli oleh Pemda Jabar yang akan dijadikan museum Inggit Garnasih. Sampai sekarang keinginan tersebut belum terwujud, karena cukup banyak benda koleksi Bu Inggit dan Soekarno yang belum terkumpul dan masih tersebar atau milik pribadi ahli waris Bu Inggit.

Permasalahan akan timbul jika koleksi benda-benda Bu Inggit tidak segera diselamatkan, karena dikhawatirkan akan hilang atau rusak, padahal benda ini memiliki nilai historis tinggi bagi bangsa Indonesia. Untuk itulah, perlu adanya penyelamatan benda-benda koleksi pribadi Inggit Garnasih dan Soekarno yang dikhawatirkan akan rusak atau punah jika tidak dikelola dengan baik. Adapun tujuan penyelamatan BCB ini adalah meningkatkan peran serta masyarakat untuk mengembangkan dan memanfaatkan nilai-nilai tradisi sebagai identitas jati diri bangsa dan meningkatkan pengetahuan serta pemahaman generasi muda terhadap aspek kepurbakalaan, sejarah dan nilai tradisi. Selain itu juga untuk menyelamatkan beda cagar budaya koleksi Inggit Garnasih dari kerusakan, kepunahan ataupun dari penadah barang antik yang selalu memburu dan diharapkan museum Inggit Garnasih akan semakin cepat terwujud untuk menumbuhkembangkan jatidiri kejuangan dan nasionalisme pada generasi penerus.

PENYELAMATAN BENDA CAGAR BUDAYA
Penyelamatan BCB koleksi Inggit Garnasih dilakukan dengan cara menghimpun kembali dan menyelamatkan benda-benda yang sekarang berada di ahli waris almarhumah Ibu Inggit Garnasih. Koleksi tersebut berupa meja dan kursi tamu, meja kerja, serta batu pipisan. Koleksi tersebut setelah diganti rugi oleh pihak pemerintah dalam hal ini adalah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat akan ditata kembali di rumah tinggal tempat kediaman Ibu Inggit Garnasih yang terletak di jalan Ciateul Bandung yang kini masih terawat dengan baik. Untuk itu maka akan dilakukan inventarisasi dan identifikasi barang, sehingga bisa diperoleh deskripsi dan muatan nilai yang jelas. Berikut ini terlebih dahulu akan dikemukakan secara singkat tentang apa dan siapa Inggit Garnasih.

Inggit Garnasih : Apa dan Siapa
Di kota Bandung, tepatnya di ujung Jalan Ciateul no. 8, ada sebuah rumah kecil sederhana yang sekarang jalan itu berubah nama menjadi Jalan Ibu Inggit Garnasih, sejak bulan November 1997. Pekarangan dan keadaan rumah itu memberi kesan, bahwa penghuninya suka akan kebersihan dan kerapian. Hampir semua orang Bandung mengetahui penghuni yang pernah tinggal di rumah tersebut, mereka menyebutnya dengan nama Ibu Inggit yang nama lengkapnya Inggit Garnasih.

Menurut cerita, “Inggit” adalah nama tambahan, ayahnya Mbah Arjipan memberi nama bayinya yang lahir pada tanggal 17 Februari 1888 di desa Kamasan Banjaran Kabupaten Bandung dengan nama Garnasih. Kata itu merupakan singkatan dari kesatuan kata Hegar Asih, yaitu Hegar yang berarti segar menghidupkan, Asih yang berarti kasih sayang. Mbah Arjipan sangat disegani, karena dia adalah seorang ahli silat. Menurut cerita orang, Beliau mempunyai ilmu aji yang memberi kehebatan, karena setiap orang yang mempunyai maksud jahat bila berhadapan dengannya akan menjadi lemah seperti lumpuh. Mbah Arjipan memberi nama Garnasih dengan harapan supaya anak itu memiliki sifat kasih sayang yang menyegarkan dan menghidupkan.
Waktu gadis, Garnasih adalah gadis tercantik di antara teman-temannya, di daerah lingkungan Bandung. Kecantikannya tidak ada yang menyamainya, dan para pemuda mengitari dia seperti lebah mengitari setangkai bunga yang indah dan wangi. Diantara mereka beredar kata-kata : “Mendapat senyuman dari Garnasih sama dengan mendapat uang seringgit”. Itulah asal sebutan “Inggit”. Orang-orang yang mengenal Ibu Inggit disekitar tahun 1923, akan berpendapat dia adalah seorang “Beauty”, dan waktu itu Ibu Inggit sedang menuju usia 38 tahun.

Maka tidaklah mengherankan bila pada tahun itu seorang pemuda dan mahasiswa Soekarno menyuruk bumi melangkahi langit berupaya untuk mendapatkannya. Di usia tua menjelang wafatnya, di bawah wajah yang telah keriput itu, samar-samar masih membayang kecantikannya di masa muda. Biasanya rumah di Jalan Ciateul itu setiap hari ada saja tamu, mereka datang selain bersilaturahmi, juga untuk membeli bedak dingin kasai atau lulur ningrum maupun jamu. Membuat obat tradisional adalah kerja Ibu Inggit sehari-hari yang telah dilakukannya sejak dahulu dan menjadi sumber penghasilannya.

Selain itu banyak juga yang datang padanya untuk meminta nasihat dalam kesulitan hidup. Kalau musim naik kelas dan ujian sudah dekat, banyak murid (SMP dan SMA) datang untuk meminta air yang telah diberi doa. Ibu Inggit pun mengabulkan permintaan mereka dengan memberi air yang telah diberi doa, tetapi selalu dengan penegasan : “Doa itu hanya membantu. Anak-anak sendiri yang harus memohon kepada Tuhan, Tetapi Tuhan pun hanya akan mengabulkan permohonan kita, kalau kita berusaha belajar keras”.

Ibu Inggit adalah anak rakyat jelata, tidak pernah dia menduduki bangku sekolah selain dari pesantren. Namun membaca buku masih lancar, meskipun di usia tua masih suka membaca seperti misalnya Hikayat Seribu Satu Malam, cerita berbahasa Sunda atau kisah petualangan Old Shuterhand karangan Karl May. Akan tetapi untuk menulis tidak bisa, dengan susah payah dia hanya pandai mengguratkan namanya.

Dalam hal rasa, Ibu Inggit bisa disamakan dengan Theresa istrinya Rousseau atau dengan Kasturbay istrinya Mahatma Gandhi. Theresa tidaklah memberikan sumbangan pikiran atau teori kepada Revolusi Perancis, dan Kasturbay tidak juga memberikan sumbangan pikiran atau teori kepada Revolusi India, demikian pula dengan Ibu Inggit tidak juga memberikan sumbangan pikiran dan teori kepada Revolusi Indonesia. Tetapi dengan memberikan kasih sayang kepada suami, dengan menunjukkan kesetiaan yang tiada goyah kepada suami yang sedang mengalami cobaan dan derita dalam perjuangan mereka, Theresa, Kasturbay dan Ibu Inggit mempunyai kesamaan yaitu berbakti kepada bangsanya.

Suaminya, Bung Karno mengakui sangat berhutang budi padanya , hutang budi yang tak terlunaskan seumur hidupnya. Ada beberapa kali Bung Karno mengakui hal ini di depan umum, pertama kali tanggal 31 Desember 1931, dalam suatu resepsi menyambut kebebasannya dari penjara Sukamiskin. Kedua kali, pada tanggal 2 Januari 1932, pada rapat Kongres Indonesia Raya di Surabaya. Ketiga kali dalam otobiografinya, antara lain pada halaman 193, Bung Karno mengakuinya bahwa Ibu Inggit sebagai tulang punggung dan tangan kanannya selama separuh dari umurnya. Ucapan hutang budi itu bukan hanya sekedar buah bibir atau basa-basi, memang demikian sesungguhnya. Nahkoda dalam mengemudikan rumah tangga, waktu Bung Karno menjadi pemimpin rakyat adalah Ibu Inggit dan ini bukanlah pekerjaan yang mudah, kalau diingat pada waktu itu Bung Karno tidak punya waktu untuk mencari nafkah.

Honorariumnya dari partai, sebagian besar dipergunakan Bung Karno untuk membeli buku dan menyumbang pada kadernya. Pintu rumah dan meja makan keluarga Bung Karno terbuka bagi setiap orang, dari kota dan daerah lain selalu berdatangan para pemimpin partai untuk berdiskusi. Mereka tidur dan makan di rumah itu dan memandang hal itu sebagai suatu hal yang biasa.

Ibu Inggit waktu itu memiliki beberapa perhiasan pemberian Haji Sanusi ketika mereka masih suami istri. Perhiasan itu mempunyai dua fungsi, yang pertama untuk dipakai sebagai perhiasan, yang kedua untuk digadaikan bila kantong sudah kosong sama sekali. Jadi kawan akrab keluarga itu adalah rumah gadai dan penjara.

Ibu Inggit dan Bung Karno bertemu untuk pertama kalinya pada bulan Juni 1921, ketika Bung Karno datang sebagai seorang pemuda memasuki rumah Haji Sanusi untuk indekost selama menjadi mahasiswa pada Sekolah Teknik Tinggi (THS). Ibu Inggit pada waktu itu adalah istri dari Haji Sanusi, seorang tokoh PSII dan juga seorang saudagar kaya bertempat tinggal di Kebon Jati. Pada waktu itu Bung Karno, mempunyai ikatan kawin gantung dengan Utari, puteri dari Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Pertemuan antara mereka seperti bertemunya dua awan yang mengandung listrik, menerbitkan kilat dan guntur di dalam dada masing-masing.

Jiwa mereka menyala dengan api cinta birahi setelah Ibu Inggit bercerai dari H. Sanusi dan Bung Karno dari Utari. Pada tanggal 24 Maret 1923 mereka menikah. Setelah menikah mereka menyewa rumah tinggal di Gang Jaksa, di situlah Ratna Juami yang baru berusia beberapa bulan diangkatnya sebagai anak yang juga masih keponakan Ibu Inggit, Ibu Ratna Juami bernama Murtasih yakni kakak kandung dari Ibu Inggit. Tidak lama mereka tinggal di situ, kemudian pindah ke Jalan Pungkur No. 6 (sebelah barat terminal Kebon Kelapa), orang menamakan tempat itu dengan sebutan Gedong Dalapan. Di situpun mereka tidak tinggal lama, pindah lagi ke Regentsweg (sekarang jalan itu bernama jalan Dewi Sartika). Di tempat itu berdiri sebuah bangunan Gereja Rehoboth. Baru sekitar tahun 1926, mereka menetap di Jalan Ciateul Asatana Anyar sampai pertengahan tahun 1934, sebelum dikirim ke tempat pembuangan di Flores, di Kota Ende.

Pada tanggal 25 Mei 1926 setelah Bung Karno lulus dari THS dan menjadi Insiyur, bersama dengan Ir. Anwari yang masih sepupunya mendirikan Biro Arsitek. Meskipun Ibu Inggit tahu bahwa minat Bung Karno pada politik sangat besar, menguasai alam pikirannya, Mula-mula ada juga harapannya, dengan ke-insinyurannya itu akan dapat mencari dan mengumpulkan uang, sehingga mereka bisa memiliki rumah dan pekarangan. Kalau Insinyur lain bisa, mengapa Bung Karno tidak.

Antara Banjaran dan Pangalengan, di desa Cimaung Ibu Inggit memiliki sebidang tanah pemberian H. Sanusi, luasnya kurang lebih 400 Meter persegi. “Disana kita nanti akan mendirikan sebuah rumah tempat istirahat”, demikianlah Bung Karno sering menghibur Ibu Inggit. Begitu pula waktu dalam pengasingan di Ende, masih sering mereka melamun, “Kelak kalau kita sudah kembali ke Bandung, kita akan membangun rumah di Cimaung”. Tanah itu, hingga masa tuanya masih milik Ibu Inggit, tapi mimpi tentang rumah itu tidak menjadi kenyataan.

Pada tanggal 4 Juli 1927, PNI yang didirikan Bung Karno menjadi motor utamanya, seluruh jiwanya diserahkan pada perjuangan. Hanya sisa waktu dan sisa tenaga yang dapat diberikannya pada biro arsiteknya. Hampir pada setiap rapat dan perjalanana propaganda, Bu Inggit menemani Bung Karno. Semakin besar pergerakkan itu semakin kecil pula harapan Ibu Inggit untuk memiliki harta benda, karena Ir. Anwari pun aktif di dalam partai, maka usaha Biro Arsitek itu semakin lama menjadi mundur dan akhirnya mati. Untuk mendapatkan penghasilan Ibu Inggit menerima orang untuk indekos, menerima jahitan kutang dan kebaya di samping membuat bedak dingin kasai, lulur dan beras kencur.

Pada tanggal 29 Desember 1929 Bung Karno dan beberapa temannya ditangkap polisi Belanda, karena setiap langkah dan gerak aktifitasnya selalu diawasi oleh Komisaris Polisi Albreght dan Djanakoem, yang kemudian dalam pengadilan dijatuhi hukuman penjara. Berkaitan dengan kejadian tersebut, beberapa pandai besi di Ciwidey memberikan sebagian dari hasil kerjanya kepada Ibu Inggit untuk dijual, dengan hasil keuntungan dibagi dua. Dari hasil keuntungan itu oleh Ibu Inggit dijadikan modal usaha membeli daun kawung (enau) dan tembakau, yang kemudian dibuatnya rokok lintingan dalam bungkusan. Setiap bungkus berisi 10 batang, dan pada bungkusan itu diberi tulisan “Rokok Kawung Ratna Juami bikinan Ibu Inggit”. Ratna Juami adalah anak angkat mereka, di kalangan rakyat, rokok tersebut sangat laku, karena rakyat tahu dengan membeli rokok itu berarti mereka membantu rumah tangga pemimpinnya yang sedang mengalami prihatin.

Selain usaha tersebut, bantuan juga datang dari Mr. Sartono, Thamrin, Sukartono (kakak dari Ibu Kartini) dan Ibu Werdoyo kakak kandung Bung Karno, Tan Tjoei Gien seorang pemilik toko kain di Jalan Raya Barat. Sering dalam menjenguk Bung Karno, karena tidak mempunyai ongkos mereka terpaksa harus berjalan kaki, Ibu Inggit dan Ratna Juami yang saat itu masih berusia 6 tahun belum mengetahui akan kesulitan hidup ibunya, Ratna kecil terus merengek bila melihat delman yang lewat. Dengan hati yang sedih melihat anaknya kelelahan, terpaksa Ibu Inggit membuat alasan dengan mengatakan : “Entong Nyai, karunya kudana keur gering, tuh ku kusirna ge rek dibawa mulang ka kandangna” (Jangan, kasihan kudanya sedang sakit, oleh kusirnya akan dibawa pulang ke kandangnya).

Begitu pula untuk membantu Bung Karno yang membutuhkan buku dari Mr. Sartono, Bu Inggit menyuruh Encon pembantunya untuk mengambilnya. Untuk bisa menyelundupkan buku tersebut ke dalam penjara, Ibu Inggit harus berpuasa selama 3 (tiga) hari, agar buku yang ditaruh diperutnya dibalik kain kebayanya itu tidak mencurigakan dan ketahuan oleh sipir penjara. Buku itu sangat diperlukan Bung Karno dalam pembelaannya menyusun tulisan “Indonesia Menggugat”. Keluar dari penjara, Bung Karno mendirikan partai. Sibuk mengurusi partai, dari segi keuangan makin menipis. Ibu Inggit harus lebih giat lagi mencari rejeki, karena dengan kembalinya Bung Karno dari penjara berarti kegiatan pergerakan politik bukan hanya dilakukan di rumah tapi juga di luar rumah, itu semua membutuhkan biaya. Dengan keikhlasan hati, perhiasan Ibu Inggit keluar dan masuk rumah gadai, bahkan sebidang tanah miliknya harus dijualnya, untuk menutupi kebutuhan rumah tangga dan membantu suami melakukan kegiatan politik. Seringkali Ibu Inggit mendampingi Bung Karno melakukan perjalanan ke daerah mengadakan rapat partai atau kursus politik dengan memakai mobil pinjaman dan yang mengemudikan adalah seorang kenalan. Seringnya kenalan tersebut mengantar, oleh Ibu Inggit namanya diganti menjadi Sagir kependekan dari kata “sagigireun” yang berarti selalu berada di samping.

Semua itu ia lakukan atas dasar kasih dan sayangnya pada Bung Karno, dan ia pun tahu apa dan untuk siapa Bung Karno melakukan itu semua, semua itu bersumber cintanya Bung Karno kepada rakyat, apalah artinya pengorbanan itu bila dibandingkan dengan kemerdekaan. Pada bulan Agustus 1933, Bung Karno ditangkap dan diasingkan oleh Belanda, Pada pertengahan tahun 1934, . keluarga Bung Karno diberangkatkan ke Ende, Flores, diangkut dengan kapal laut “Van Riebeeck” dari pelabuhan Surabaya. Rombongan terdiri atas Bung Karno, Ibu Inggit, Ratna Juami, Ibu Amsi (Ibunya Ibu Inggit), Encon seorang pembantu yang sangat setia, dan Karmini adik Encon. Beberapa bulan kemudian, menyusul Asmara Hadi murid Bung Karno yang kemudian hari menjadi suami Ratna Juami.

Dari pemerintah Belanda, Bung Karno menerima tunjangan sebesar Rp. 75,- jumlah ini sangat jauh dari mencukupi. Kepandaian Ibu Inggit mencari uang dipengasingan kurang bisa membantu, sekali-kali datang juga sedikit bantuan dari Ibu Werdoyo. Untunglah di Endeh itu ada beberapa orang kawan yang agak mampu menolong..Untuk menghilangkan rasa sepi dan kejenuhan, Bung Karno mendirikan group tonil (sandiwara) yang diberi nama Kelimutu yang diambil dari nama sebuah danau yang airnya bisa berubah warna. Salah seorang pemainnya adalah Palindih yang dikemudian hari menjadi wartawan dan pemimpin redaksi HU Pikiran Rakyat di Bandung menggantikan Asmara Hadi.

Di tempat pengasingan itu pula Ibu Amsi meninggal dunia, pada hari Jum’at tanggal 11 Oktober 1935. Dengan tangannya sendiri Bung Karno membangun dan menembok makam, sebagai ungkapan rasa sayang terhadap mertuanya. Awan kesedihan menggantung di pengasingan, tapi Bung Karno dapat melupakan semua itu ke dalam buku-buku yang dibacanya, dan Ibu Inggit mendapat kekuatan dari cinta dan setia dari suami. Dalam kesunyian dan keheningan malam, Soekarni mempelajari semua agama terutama agama Islam, terlihat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada A. Hasan pemimpin Pesantren Persatuan Islam di Bandung. Semangat religi telah merasuki dan dirumah penganjur Islam yang besar HOS Tjokroaminoto kembali bangkit dengan dahsyat yang kemudian menjadi jiwa bagi keyakinan politiknya.

Pada tahun 1939 atas desakan berbagai pihak, Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu bersama keluarga yang terdiri dari Ibu Inggit, Ratna, Sukarti (Puteri dari Manteri Ukur Atmo, untuk teman bagi Ratna) dan seorang pembantu bernama Riwu, pemuda kelahiran Sabu.Di Bengkulu, Ratna mendapatkan beberapa kawan anak-anak gadis, di antaranya adalah Fatmawati.

Fatmawati sering datang ke rumah keluarga Bung Karno dan kadang-kadang menginap, karena itu Ratna meminta supaya dia tinggal saja di rumah itu sebagai temannya dan atas persetujuan orang tuanya Fatmawati menerima tawaran itu. Waktu itu Ibu Inggit telah berusia 52 tahun dan Bung Karno sendiri berusia 40 tahun. Setelah beberapa lamanya Fatmawati tinggal di rumah itu, Ibu Inggit merasa bahwa antara Bung Karno dan gadis itu ada sesuatu yang lain. Perasaan itu kian lama kian menjadi kuat, naluri seorang istri terhadap suami.

Pada suatu malam, karena tak tertahan lagi dan harus ada penyelesaian di antara mereka, Ibu Inggit membukakan kandungan hatinya kepada Bung Karno. Bung Karno mengakui bahwa dia memang menaruh hati pada Fatmawati, dan cinta inipun berbalas. Bung Karno hendak mengawininya dengan alasan dia ingin mempunyai anak dari darah dagingnya sendiri. Memang sangat wajar dan manusiawi bila seseorang ingin mempunyai anak dari darah dagingnya sendiri, sedangkan Ibu Inggit setelah belasan tahun tidak mendapatkannya. Lalu dipanggilnya Asmara Hadi yang berada di Jawa untuk segera ke Bengkulu. Sambil berjalan di tepi Pantai Panjang, Bung Karno mengemukakan masalah rumah tangganya, Asmara Hadi tidak bisa menyalahkan Bung Karno yang ingin mempunyai anak kandung darah dagingnya sendiri, namun mengingatkan Bung Karno akan Ibu Inggit yang telah sekian lama mendampingi dengan setia tidak boleh dicampakkan begitu saja.

Tapi walau bagaimana pun setiap manusia akan bisa memahami perasaan apa yang menyayat hati Ibu Inggit, dia tidak sudi dimadu. Atas nasihat dari beberapa kawan, Bung Karno berjanji tidak akan menceraikan Ibu Inggit dan tidak akan kawin lagi selama berada dalam pengasingan. Suasana di dalam rumah tangga itu penuh dengan kesedihan. Semua penghuni rumah menderita, terutama sekali Ibu Inggit. Tidak mengira sama sekali kalau Fatmawati yang selama ini dianggap sebagai anak, bisa berbuat demikian dengan Bung Karno, suami yang selama ini diikutinya dengan setia. Kini dalam batin sudah terluka, mentari tergores duri mawar, langitpun memerah darah, terbitlah luka di hati Ibu Inggit. Dia menderita karena masyarakat Bengkulu masih menganggap poligami sebagai suatu hal yang sangat wajar, yang harus diterima oleh setiap wanita. Ibu Inggit menderita, sebab tidak ada tempat untuk mencurahkan perasaan hatinya, Ratna waktu itu berada di Yogya tinggal di rumah Ki Hajar Dewantoro untuk meneruskan sekolah di Taman Siswa, Sukarti masih terlalu muda untuk diajak berbicara tentang hal yang demikian. Tapi hidup harus dilakoni terus meskipun hati dan jiwa berdarah dan masa depan rumah tangga suram nampaknya.

Kemudian menyusul peristiwa meletusnya Perang Pasifik, yang sudah lama ditunggu dengan harap cemas oleh setiap patriot Indonesia. Armada Kerajaan Jepang mendekati Indonesia, Bung Hatta dan Bung Syahrir dikembalikan pemerintah Belanda ke Pulau Jawa tepatnya di Sukabumi. Begitu takutnya pemerintah kolonial akan pengaruh Bung Karno di Jawa, sehingga Gubernur Jendral Tjarda Van Straikenborg menolak permintaan Residen Bengkulu supaya Bung Karno dipindahkan ke Jawa. Setelah Palembang beberapa kali mendapat serangan Jepang dari udara, dan harapan Belanda untuk menang sudah patah. Bung Karno sekeluarga (Bung Karno, Ibu Inggit, Sukarti, Riwu) digiring ke Padang melalui Muko-muko.

Perih dan pedih hati Ibu Inggit, pikirannya kacau, nasib apalagi yang akan mereka alami. Bagaimana nasib denga Ratna dan Asmara Hadi yang baru dua bulan mereka menikah, kabar terakhir tentang anak-anaknya, mereka ditangkap Belanda dikurung di dalam kamp di Garut kemudian Cilacap termasuk diantaranya Wikana dan S.K. Trimurti dan akan diangkut ke Australia.

Bung Karno pernah mempersamakan Ibu Inggit dengan Drupadi, seorang hero di dalam Hikayat Mahabrata, yang mengisahkan Drupadi dalam mendampingi suaminya Yudistira menjalani pembuangan akibat perlakuan pihak Kurawa yang dikenal dengan cerita Pandawa Samrat. Memang sangat sedap untuk didengar persamaan itu, tetapi alangkah beratnya dan sedih bila dialaminya sendiri.Jarak antara Bengkulu – Padang itu sebagian ditempuhnya denga berjalan kaki, di Muko-Muko mereka tertahan adanya banjir besar. Di pelabuhan Padang, sudah menunggu kapal yang akan membawa Bung Karno sekeluarga menuju Australia, meskipun akhirnya dibatalkan.

Pada tahun 1942, Bung Karno menginjakkan kakinya di pasar ikan sebagai orang bebas, dijemput oleh Ibu Sudirman, Sundoro dan Asmara Hadi. Di Jakarta mereka tinggal di Pegangsaan Timur no 56. Pada tahun 1943 Bung Karno menikah dengan Fatmawati. Ibu Inggit bukanlah wanita kalau hatinya tidak merasa seperti dibakar karena mengalami nasib seperti pepatah : “Habis manis sepah dibuang”. Tetapi waktu pulalah yang akan menyembuhkan segala luka. Perpisahan pun tidak dapat dihindarkan, setelah dua puluh tahun mereka hidup bersama dan berumah tangga saling asih dan saling asuh. Walaupun dalam berumah tangga mendampingi Bung Karno, lebih banyak duka daripada suka, lebih banyak tangis daripada tawa, namun semua itu dilakoni dengan tabah dan ikhlas dan menganggapnya sebagai misi dan dharma hidupnya yang telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Perceraian itu dituangkan dalam surat perjanjian atas saran dan pertimbangan dari Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan Kyai Haji Mas Mansoer yang sekaligus sebagai saksi perjanjian tersebut. Didalam surat perjanjian itu, antara lain disebutkan bahwa Bung Karno akan membelikan sebuah rumah dengan pekarangan serta isinya di Kota Bandung. Kedua, Bung Karno akan memberi uang kepada Ibu Inggit sebesar Rp. 6.280,- dengan cara : memberi uang kontan sebesar Rp. 2.000,- dan sisanya dicicil. Ketiga, Bung Karno akan memberikan nafkah kepada Ibu Inggit seumur hidup sebesar Rp. 75,- (tujuh puluh lima rupiah). Keempat, barang-barang yang ditinggalkan di Bengkulu, semua buku-buku diberikan pada Bung Karno, dan selebihnya diberikan kepada Ibu Inggit.

Tapi sayang, janji tinggal janji tidak ada satupun terlaksana, tidak tahu mengapa karena Ibu Inggit sendiri tidak pernah menagih janji itu. Setelah Ibu Inggit bercerai dengan Bung Karno pada tahun 1943, dia menetap di Bandung ditampung oleh kenalannya, Haji Anda yang bertempat tinggal di Jalan Lengkong Besar. Tidak lama tinggal di sana kemudian pindah menyewa rumah di Tuindorf, yang sekarang bernama Jalan Lengkong Tengah.

Pada waktu perang kemerdekaan melawan Belanda, seperti kebanyakan penduduk Bandung, Ibu Inggit pun pergi mengungsi. Mula-mula mengungsi ke Banjaran, kemudian ke Garut . Sewaktu Garut diduduki Belanda, beliau bersembunyi di desa dekat Leles dan rakyat yang setia kepada pemerintah RI melindungi dan membantunya. Kemanapun beliau pergi, dua buah batu ceper selalu dibawanya, karena itulah alat produksi tempat beliau menggiling ramuan tradisional yang akan dijadikan bedak dingin dan lulur. Pulang dari pengungsian di Garut, Ibu Inggit harus menumpang tinggal di rumah di Jalan Gang Bapa Supi.

Sepuluh tahun kemudian setelah perpisahannya dengan Bung Karno, Bung Karno sudah menjadi Presiden Republik Indonesia dan mendiami Istana Negara. Sedangkan Ibu Inggit pada saat jaman Belanda dengan setia ikut menanggung semua derita yang menimpa Bung Karno, bertempat tinggal dengan menempati sebuah kamar yang kecil pada seorang kenalannya di Gang Bapa Supi. Pada suatu saat, datang seorang sparatis yang ingin menghancurkan Negara kesatuan RI kepada Ibu Inggit yang berusaha untuk membuat hati Ibu Inggit menjadi benci kepada Bung Karno dan Negara Kesatua RI. Namun dengan bijaksana Ibu Inggit menolak secara halus hasutan orang tersebut dengan menjawab : “ Ibu sudah lama memaafkan Bung Karno, Ibu tidak menaruh sakit hati kepada Fatmawati, Ibu merasa bangga kepada Bung Karno yang telah menjadi Presiden RI. Bung Karno adalah tanaman Ibu, dan Ibulah yang selalu mendoakan semoga Bung Karno selalu dibimbing dan dilindungi Tuhan”.

Salah satu keinginan Bu Inggit yang belum terkabul saat itu adalah kembali ke rumah di Jalan Ciateul, sebab di tempat itulah Ibu Inggit dan Bung Karno hidup bersama sebelum dibuang ke Ende. Di tempat itulah rupanya masih terdapat ikatan batin yang mendalam, penuh dengan kenangan indah, antara mereka berdua. Demikain juga banyak dari para pejuang kemerdekaan dan rakyat Indonesia mempunyai ikatan batin dengan tempat tersebut. Karena ditempat itu pernah menjadi dapurnya perjuangan untuk menuntut Indonesia merdeka, tempat berkumpulnya para pendekar kemerdekaan antara lain Suyudi, Agus Salim, Ki hajar Dewantoro, H.O.S. Cokroaminota, Kyai Mas Mansur, Sartono, Moh. Hatta, Ali Sastro amijoyo, Asmara Hadi, Ibu Trimurti, Oto Iskandardinata, Dr. Soetomo, M.H. Thamrin dan lain-lain.

Atas Prakarsa Asmara hadi, dan dengan bantuan dari kawan-kawan seperjuangan lainnya, seperti Winoto, Supardi, Ibu SK Trimurti, Ibu Rusiah Sarjono, Gatot Mangfkupraja, A.M. Hanafi, terkumpulah dana untuk membangun sebuah rumah tempat tinggal yang pembangunannya dipercayakan kepada Sugiri seorang kawan lama.

Di masa jayanya pernah dua kali Bung Karno datang mengunjungi Ibu Inggit di rumahnya di Jalan Ciateul. Pada pertemuan mereka yang pertama setelah berpisah hampir dua puluh tahun, dengan suara lembut Bung Karno meminta maaf kepada Ibu Inggit atas sebuah kesalahan yang telah menyakiti hatinya..Ibu Inggit pun menjawab pimpinlah negara dan rakyat dengan baik, seperti cita-cita kita dahulu. Kunjungan yang kedua di tahun 1960, waktu itu Ibu Inggit sedang sakit dan Bung Karno menjenguknya. Kedua orang yang pernah memadu kasih itu saling berpelukan dan tenggelam dalam air mata keharuan.

Menjelang dua minggu sebelum sidang MPRS, yang akan menanggalkan kekuasaan Bung Karno dari kursi kepresidenannya, datang rombongan yang dipimpin oleh almarhum Osa Maliki ke rumah Ibu Inggit. Mereka ingin mendengar langsung dari “akarnya” (istilah ini datang dari rombongan itu sendiri dan yang dimaksud adalah Ibu Inggit) sendiri, bagaimana sesungguhnya watak Bung Karno. Mereka ingin mengetahui kebenaran tulisan seorang wartawan luar negri (Australia) dan mendapat sambutan dari mereka yang tidak suka dengan Bung Karno. Yang isinya bahwa Bung Karno pada waktu dipenjara Sukamiskin, pernah mengajukan permohonan minta ampunan dari pemerintah kolonial Belanda untuk tidak dibuang ke Flores dengan janji akan berhenti dari semua Kegiatan politik menetang pemerintah Belanda dan akan kembali kepada kehidupan berumah tangga seperti orang biasa. Jawaban Ibu Inggit cukup singkat:” Pak karno adalah lelaki langit lalanang jagat, tidak mungkin menghianati perjuangan bangsanya sendiri”. Hanya Tuhan yang sempurna, bersih dari kesalahan, kalau hendak mencari kesalahan dan keburukan Bung Karno jangan datang pada Ibu. Sambil menatap Osa Maliki, Ibu Inggit kembali berkata:” Bukankah anda sendiri tahu perjuangan dan pengorbanan Bung Karno?”.

Di hadapan wanita tua yang tidak punya pengetahuan politik, bahkan untuk menulis namanya sendiri sudah sangat sulit, para politisi yang akan menjatuhkan presiden pertama Republik Indonesia itu hanya bisa menundukan kepala, dan tidak mampu menjawab. Pada tanggal 21 Juni 1970, Bung Karno meninggal dunia dan baru jam 3 sore berita meninggalnya Bung Karno diterima oleh Ibu Inggit beserta anaknya. Saat itu pula dengan diantar oleh anaknya Ibu Inggit berangkat ke Jakarta. Saat itu perjalanan ke Jakarta sangat jauh dan cukup melelahkan, namun kondisi itu tidak membuat Ibu Inggit patah semangat, karena yang berpulang bukan saja bekas suami, tapi bekas kawan sejalan dan seperjuangan selam dua puluh tahun dalam suka dan duka dan juga seorang pemimpin dan pemerdeka bangsa.

Ketika sampai dan melihat jenazah Bung karno yang telah berbaring di dalam peti, terdengar suara lembut dan sayu dari Ibu Inggit:”Ngkus geuning Ngkus the mihelaan, Ku Nggit di do’akeun …. (Ngkus, kiranya Ngkus mendahului, sama Nggit didoakan…), sampai disini suaranya terputus, kerongkongannya terasa tersumbat, badan yang sudah tua dan lemah itu terhuyung diguncang perasaan sedih. Ibu Wardoyo yang ketika itu berada di samping Ibu Inggit memeluknya, dua orang yang telah kehilangan suami, akhirnya saling berpelukan dan menangis tanpa mengeluarkan suara.

Sehari setelah Ibu Inggit kembali ke Bandung, berdatanganlah orang-orang ke rumah Ibu Inggit untuk menyatakan bela sungkawa. Kebanyakan dari mereka adalah kawan seperjuangan di masa penjajahan, mereka datang dari desa-desa di sekitar Kota Bandung. Beberapa hari kemudian datang pula beberapa orang wartawan dan majalah yang menulis tentang harta peninggalan Bung Karno. Salah seorang wartawan bertanya kepada Ibu Inggit : “apa yang ibu terima dari harta pusaka peninggalan Bapak”. Ibu Inggit menjawab “Negara kita ini, untuk kita semua, untuk seluruh rakyat dan untuk semua bangsa kita”. Sejenak wartawan itu terdiam, dan kemudian bertanya :” Yang saya maksudkan adalah harta pusaka untuk ibu pribadi”. Ibu Inggit kembali menjawab: “harta pusaka dari Bung Karno adalah kenangan yang tak terlupakan yang ibu simpan di dalam hati, yang akan menemani ibu masuk ke dalam kubur”.

Ibu Inggitlah yang berjalan di samping Bung Karno sebagai satria muda masuk ke dalam gelanggang untuk membela rakyat. Mereka berdua, Bung Karno dan Ibu Inggit semasa penjajahan Belanda dapat dipersamakan dengan Rama dan Sinta yang berkorban untuk keadilan. Ketika puncak cita-cita hampir tercapai nasib menakdirkan kedua anak manusia itu harus berpisah. Para pemimpin dan pujangga nasional dan dunia memberi penilaian, Ibu Inggitlah yang menempa Soekarno menjadi pemimpin dan menemani dalam perjuangan untuk mewujudkan cita-citanya menuju Indonesia merdeka.

Pada awal tahun 1980 datanglah Ali Sadikin membawa misi “perdamaian”, untuk mempertemukan Ibu Inggit dengan Fatmawati , yang hampir 38 tahun mereka tidak pernah bertemu. Bang Ali menjajagi dan menanyakan apakah Ibu Inggit masih sakit hati, dan mau menerima kunjungan Fatmawati. Ibu Inggit menjawab : “Ibu sudah lama melupakan peristiwa itu kalau Fatmawati mau datang Ibu akan menerima dengan hati terbuka”. Beberapa hari kemudian datanglah rombongan dari Jakarta, yang terdiri dari Ibu Patmawati, Guntur bersama isterinya, Bang Ali Sadikin dan Isterinya. Pertemuan kedua orang tersebut penuh dengan rasa haru, Ibu Fatmawati bersujud dan mencium kaki Ibu Inggit memohon maaf atas tindakannya dahulu mengambil Bung Karno dari sisi Ibu Inggit. Sambil memegang pundak Ibu Fatmawti Ibu Inggit berkata : “Ibu maafkan semua kesalahanmu, dari dulu sampai sekarang kamu masih tetap anak Ibu”.

Berawal di bulan September 1982, bermula dari sakit bronchitis biasa namun karena tubuh sudah aus dimakan usia terjadilah komplikasi dengan penyakit tua. Selama dua tahun Ibu Inggit ke luar masuk rumah sakit. Pada tanggal 13 April 1984, setelah berkumandang Adzan Magrib Ibu Inggit meninggal dunia kembali ke Rahmatullah.

Di masa pemerintahan Presiden Soekarno, Ibu Inggit menerima penganugerahan tanda kehormatan “Setyalancana Perintis Pergerakan Kemerdekaan” pada tanggal 17 Agustus 1961. Kemudian setelah wafatnya, di masa pemerintahan Presiden Soeharto, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 037/TK/Tahun 1997, tertanggal 11 Agustus 1997, pemerintah Indonesia menganugerahkan Tanda kehormatan “Bintang Mahaputra Utama”, yang penyerahannya dilaksanakan pada tanggal 10 Nopember 1977 di Istana Negara.

Peninggalan Ibu Inggit Garnasih
Koleksi yang dijadikan sebagai upaya penyelamatan dari benda cagar budaya peninggalan Ibu Inggit Garnasih adalah ::
1. 2 (dua) batu pipisan
2. 2 (dua) batu gandik pelengkap/pasangan dari batu pipisan
3. 1 (satu) unit kursi tamu
4. 1 (satu) unit meja belajar
Masing-masing benda tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Batu pipisan
Batu pipisan merupakan salah satu bentuk peralatan tradisional yang digunakan oleh masyarakat masa lalu untuk keperluan rumah tangga. Tinggalan ini sebenarnya sudah dikenal oleh masyarakat sejak masa prasejarah dan kemudian penggunaannya masih berlanjut pada masa sejarah bahkan hingga masa sekarang. Batu pipisan peninggalan Ibu Inggit Garnasih terbuat dari bahan batu andesit, berbentuk persegi. Batu pipisan pertama memiliki ukuran panjang 31,5 cm, lebar 15 cm, tebal 5,5 cm. Memiliki bidang permukaan yang agak halus dan rata. Batu pipisan kedua memiliki ukuran panjang 39 cm, lebar 35,5 cm, dan tebal 8 cm, memiliki bentuk permukaan yang tidak rata penuh dengan tatakan. Mungkin hal ini terkait erat dengan fungsi kedua batu tersebut dalam penggunaannya di masa lalu. Kedua batu pipisan ini saat sekarang masih dalam keadaan utuh dan terawat dengan baik.

Batu Gandik
Batu gandik merupakan bongkahan batu yang kadangkala berbentuk sederhana (tanpa pengolahan bentuk) dan juga ada yang sudah dibentuk sedemikian rupa, diantaranya ada yang berbentuk bulat, persegi dan lain sebagainya. 2 batu gantik sebegai pelengkap dari batu pipisan peninggalan ibu Inggit Garnasih, berbentuk persegi, masing-masingnya memiliki ukuran sebagai berikut. Batu gandik 1 memiliki ukuran panjang 18,5 cm, lebar 6 cm, tebal 5 cm. Batu gandik 2 memiliki ukuran panjang 17 cm, lebar 6 cm, tebal 6 cm.

Kedua peralatan batu ini di masa lalu dari hasil wawancara dengan Bapak Tito Asmara Hadi (salah seorang pewaris keluarga Ibu Inggit Garnasih) disebutkan bahwa batu gandik dan batun pipisan ini semasa hidup Ibu Inggit Garnasih dan Bung Karno dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari juga mampu mengantarkan Bung Karno menyelesaikan pendidikannya sampai menjadi insinyur bahkan sampai merebut kemerdekaan, Bu Inggit adalah pemerhati kesehatan perempuan (menghaluskan dan memutihkan kulit), tiap hari sejak masih gadis membuat lulur dan bedak wangi untuk dijual. Selain itu juga untuk membuat obat atau jamu dari dedaunan dan rempah untuk kesehatan organ wanita, keputihan, dan sariawan. Hasil penjualan ini lalu untuk membiayai Bung Karno sekolah, makan sehari-hari, dan membiayai perjuangan Bung Karno. Diperkirakan batu pipisan ini ada sejak Bu Inggit berumur 17 tahun, yang dibuat dari batu yang ada di Sungai Cikapundung, Jadi usianya kira-kira sudah mencapai sekitar 104 tahun.

Jam meja kuno.
Jam meja kuno ini terbuat dari kayu jati dengan bidang permukaannya dilapisi dengan lapisan imitasi berwarna coklat dengan bentuk serat kayu. Jam berbentuk bulat dengan diameter 19 cm. Jam ini dilengkapi dengan jarung penunjuk jam dan menit, saat sekarang sudah dalam keadaan rusak. Berdasarkan informasi yang diterima dari Bapak Tito asmara Hadi, diketahui bahwa jam itu dimasa lalu di Ibu Inggit dari Bengkulu kira-kira tahun 1938, saat Bung Karno dan Bu Inggit diasingkan di sana. Jadi usia jam duduk ini diperkirakan 71 tahun. Dari cara penempatannya, kemungkinan di masa lalu jam ini dapat diperkirakan merupakan pelengkap dari meja belajar milik Bung Karno.

Meja belajar
Meja belajar terbuat dari kayu Jati yang diperkirakan dari Jawa Tengah dan masih bagus kondisinya, Meja ini memiliki nilai sejarah yang tinggi, karena sebagai tempat Bung Karno yang digunakan untuk bembaca buku dan menulis konsep-konsep politik dan menghasilkan buah pemikiran yang hebat. Tempat ini pula yang melahirkan semangat perjuangan dan buah pikiran Bung Karno. Meja ini ada sejak Bung Karno indekos di rumah H. Sanusi. Jadi usianya diperkirakan sudah lebih 90 tahun. Dari teknik pembuatannya, meja ini dapat dikatan sudah dilakukan dengan begitu rapi, bagian bawah meja belajar dilengkapi dengan dua laci panjang yang tersusun secara horizontal sebanyak tiga susunan, dan di bagian atas dari tiga susunan laci tersebut diakhiri dengan dua laci lagi yang terpisah. Laci-laci ini, masing-masingnya memiliki pegangan tunggal dan dilengkapi dengan kunci pengaman. Bagian atas dipergunakan sebagai bagian untuk kegiatan menulis, bagian ini dilengkapi dengan bagian yang dapat dibuka dan berfungsi sebagai meja. Di bagian tengah bagian ini ditempatkan hiasan pahatan dengan motif tumbuhan yang dibuat secara natural. Di bagian atas meja ini juga dilengkapi oleh laci-laci kecil dan sekat-sekat kecil yang yang berfungsi untuk menempatkan alat-alat tulis dan buku.

Meja tamu
Meja tamu terbuat dari kayu jati, dengan 4 kursi masih terawat dengan baik. Bagian anyaman dari bahan rotan sudah rusak , kemudian diganti dengan bahan dan motif yang sama sekitar 5 tahun yang lalu. Menilik fungsinya di masa lalu, berdasarkan dokumentasi foto yang dimiliki oleh Bapak Tito Asmara Hadi, dapat diketahui bahwa meja ini digunakan oleh para tamu penting serta teman-teman seperjuangann Bung Karno di masa lalu. Dapat disimpulkan meja tamu ini memiliki nilai sejarah yang tinggi karena merupakan saksi sejarah perjuangan Bung Karno, karena sering sebagai tempat duduk para tamu penting seperti Ki Hajar Dewantoto, HOS Cokroaminoto, Hatta, Thamrin, dan lain sebagainya. Sebagai tempat diskusi, tentu saja menghasilkan pemikiran-pemikiran penting untuk perjuangan bangsa, Mungkin meja ini di masa lalu bukan hasil pemberian Bung Karno kepada Ibu Inggit Garnasih, tetapi merupakan pemberian dari H. Sanusi, saat Bu Inggit menikah lagi dengan Bung Karno. Jadi usia dari meja tamu ini diperkirakan 90 tahun.

Harapan Ahli Waris Inggit Garnasih
Bu Inggit selama mengarungi pernikahan dengan Bung Karno mengangkat seorang anak bernama Ratna Juami. Ratna Juami kemudian menikah dengan Asmara Hadi dan memiliki 6 anak, yakni Iskandar, Rizal, Kemal, Tito, Rosa, dan Nina. Salah satu ahli waris yang bernama Tito inilah yang sangat aktif memperjuangkan keinginan atau harapan Bu Inggit untuk memiliki sebuah Klinik Bersalin.

Semasa hidupnya, Bu Inggit mempunyai keinginan besar untuk membuat klinik bersalin dengan alasan untuk menolong kaum perempuan dalam melahirkan anak. Suatu misi yang sangat mulia jika keinginan ini terwujud. Cita-cita luhur Bu Inggit ini sangat disadari oleh Bapak Tito, dan perjuangan keras pun dilakukan untuk mewujudkan keinginan tersebut yakni dengan menghubungi pejabat pemerintah seperti Bapeda, dan Diknas, namun tidak membuahkan hasil. Namun demikian, perjuangan tetap dilakukan yakni dengan membeli sebidang tanah di Desa Citalitik (Soreang- Banjaran) pada tahun 2002, tapi baru dibayar dimuka (DP) 20 juta. Tanah tersebut kelak akan didirikan klinik bersalin, karena letaknya cukup strategis dan ramai. Akan tetapi karena tidak kunjung dilunasi, akhirnya tanah tersebut dijual kembali pada pemiliknya.

Pak Tito yang menikah dengan Etty Thahariah dan memiliki 3 anak yakni Tiara Yoga Pranata, Aditya Loka Mahesvara, dan Galuh Mahesa, terus berjuang untuk mewujudkan cita-cita Bu Inggit. Tak jarang harus berhadapan dengan saudara kandungnya sendiri yang berbeda pemikiran. Sebagai contoh saat 5 saudara kandungnya hendak menjual rumah Bu Inggit, oleh Bapak Tito dilarang dengan alasan bangunan yang bersejarah tersebut akan hilang berganti dengan Mall. Akhirnya, dengan upaya keras rumah tersebut dibeli oleh pemerintah, meskipun harga tersebut dirasa masih rendah. Menurut Bp, Tito, rumah tersebut akhirnya bisa diselamatkan dan kemudian menjadi BCB, warisan bagi bangsa Indonesia, sesuai dengan Undang-Undang RI No. 5 tahun 1992. BCB harus dilindungi dan dilestarikan karena memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi bangsa dan negara Indonesia. Berfungsi bagi pemahaman, pengembangan dan pemanfaatan sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan pariwisata, demi pemupukan kesadaran jati diri bangsa dan kepentingan nasional. Rumah ini kelak ingin dijadikan sebagai museum Bu Inggit.

Keinginan Pemerintah untuk menjadikan sebagai museum inilah yang kemudian disambut gembira oleh keluarga ahli waris Bu Inggit, dalam hal ini Bapak Tito. Ada beberapa peninggalan Bu Inggit yang masih dimiliki, antara lain :
- Surat pernikahan Bung Karno dengan Ibu Inggit Garnasih
- Surat Perceraian Bungkarno dengan Ibu Inggit Garnasih
- 2 (dua) Lemari kuno dari bahan kayu jati
- 1 satu) bufet dari bahan kayu jati
Benda-benda ini memiliki nilai sejarah tinggi yang mengikuti perjuangan Bung Karno saat masih mahasiswa sampai merebut kemerdekaan. Benda-benda ini saat sekarang masih disimpan di rumah salah satu ahli waris Bu Inggit yakni Bapak Tito Asmara Hadi. .

PENUTUP
Berasarkan hasil penelitian lapangan yang dilakukan terhadap tinggalan Benda Cagar Budaya peninggalan Ibu Inggit Garnasih yang terdiri dari 2 batu gandik, 2 batu pipisan, 1 unit meja belajar dan jam meja, dan 1 unit kursi tamu, dapat disimpulkan bahwa benda-benda tersebut merupakan peninggalan yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan pariwisata.

Dikarenakan benda-benda tersebut memiliki nilai sejarah yang terkait erat dengan perjuangan Ir. Soekarno semasa hidup dengan Ibu Inggit Garnasih, perlu disegerakan penyelamatan dengan penyatuan tinggalan tersebut di Museum Ibu Inggit Garnasih. Dengan demikian nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yang terkandung dalam masing-masing tinggalan tersebut dapat tersampaikan kepada masyarakat generasi penerus bangsa. Di samping itu, terdapat tinggalan lain yang perlu diselamatkan, antara lain surat nikah, surat perceraian antara Ibu Inggit Garnasih dengan Bung Karno, serta dua unit lemari kuno yang tentunya memiliki kaitan sejarah dengan kedua tokoh bangsa ini. Dalam gerak langkah penyelamatan peninggalan Ibu Inggit Garnasih ini, ada secercah harapan dari para ahli waris untuk mewujudkan sumbangsih keluarga kepada masayarakat Bandung khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya, berupa klinik bersalin yang akan dibangun di Kabupaten Bandung.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kansil dan Yulianto SA, 1982, Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Erlangga, Jakarta.
2. Kosoh, S, 1979, Sejarah Daerah Jawa Barat. Depdikbud : Jakarta

Sumber: Makalah disampaikan pada acara Temu Tokoh yang diadakan oleh BPNB Jawa Barat di Soreang tahun 2012

Tuesday, April 10, 2018

Sejarah Perjuangan Perempuan Sunda dalam Membangun Bangsa

Oleh: Prof Dr. Hj.Nina Herlina Lubis, M.S

Pengantar
Berbicara tentang perjuangan perempuan Sunda dalam membangun Bangsa, berarti berbicara tentang peran perempuan Sunda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, tentu saja hal ini sangat luas. 0leh karena itu, tulisan hanya akan difokuskan pada bagaimana pasang surut status sosial kaum perempuan Sunda sebagaimana terefleksikan dalam historiografi Sunda dan juga bagaimana usaha untuk lebih memberdayakan peran perempuan Sunda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perempuan dalam Historiografi Indonesia
Dalam perkembangan penulisan sejarah (historiografi) modern di Indonesia, hingga saat ini belum ada penulis yang secara khusus menulis sejarah perempuan. Meskipun ada biografi tentang tokoh-tokoh perempuan, pada umumnya tidak ditulis oleh sejarawan. Sebagai perbandingan, di Amerika, sejak tahun 1980-an kajian sejarah perempuan sudah merupakan spesialisasi tersendiri sebagai bagian dari sejarah sosial.(Kuntowijoyo, 1988) Tulisan-tulisan sosiologi yang membicarakan perempuan sebagai penyumbang dalam sektor¬sektor sosial memang sudah cukup banyak, bahkan akhir-akhir ini di beberapa universitas sudah ada Pusat Kajian Wanita (bukan: perempuan). Sejarah perempuan yang dikaitkan dengan masalah gender, yang dalam dua dekade terakhir ini banyak dibicarakan orang di Indonesia, baru menyentuh kulit luarnya saja.

Mengapa perempuan jarang sekali dijadikan tokoh sentral dalam historiografi (penulisan sejarah)? Bila melihat perkembangan historiografi di dunia, juga di Indonesia, dapat dikatakan bahwa sejarah adalah milik kaum laki-laki. Tema-tema sentral dalam sejarah dipenuhi dengan tema sejarah politik dan militer yang erat kaitannya dengan masalah kekuasaan dan keperkasaan, yang dapat dikatakan milik kaum laki-laki (Kuntowijoyo, 1988). Corak sejarah yang androsentris seperti ini, menempatkan perempuan hanya sebagai figuran. Keadaan ini memang tidak adil karena sesungguhnya perempuan dapat dipandang sebagai pribadi yang mandiri, yang bisa menggerakkan sejarah.

Selain itu, tulisan sejarah pada masa lalu, pada umumnya bersifat elitis, hanya membicarakan orang besar, membicarakan kelompok penguasa. Jadi, tidak ada tempat bagi rakyat kecil. Tidak mengherankan bila dalam historiografi tradisional pun perempuan yang hanya disebut-sebut sedikit itu, hanya menyangkut perempuan kalangan atas.

Gambaran tentang perempuan Indonesia pada masa lalu secara tersirat maupun tersurat dapat di fahami melalui historiografi tradisional. Yang dimaksud dengan historiografi tradisional adalah tulisan sejarah yang dibuat berdasarkan tradisi yang sudah berlangsung selama berabad-abad dan ditulis oleh para pujangga, para empu, atau penulis-penulis khusus yang ada di istana-istana atau pendopo-pendopo kabupaten. Historiografi tradisional ini dikenal dengan sebutan wawacan, babad, sejarah, serat, lontarak, hikayat, tambo, dll. Historiografi tradisional dapat dibedakan dengan historiografi modern, karena dalam historiografi tradisional, selain fakta sejarah, juga dimuat unsur-unsur sastra dan mitos. Seringkali kebenaran historis tidak dibedakan dari kebenaran mitis. (Ricklefs, 1987). Meskipun demikian, historiografi tradisional sangat penting artinya bagi sejarah karena di dalamnya terkandung nilai-nilai budaya masyarakat yang menghasilkan karya tersebut (Kartodirdjo, 1988). Oleh karena itu, dari historiografi tradisional yang banyak memuat aspek non-historis sekalipun, kita dapat menangkap bagaimana citra perempuan Indonesia dalam sejarah masa lalu.

Masalah citra perempuan berkaitan dengan dua hal. Pertama: masalah sex dan gender. Yang dimaksud dengan masalah sex adalah masalah penampilan fisik yang membedakan perempuan dari pria secara kodrati sedangkan masalah gender adalah masalah sosio-budaya, yang didasarkan atas simbol-simbol. Perempuan diberi simbol-simbol: lemah-lembut, keibuan, cantik, emosional; sedangkan laki-laki dilekati simbol-simbol: kuat, perkasa, jantan, rasional. Dilihat dari perbedaan simbolis ini bisa muncul anggapan bahwa perempuan dianggap lebih lemah dari pria. Kedua, masalah status sosial . Kita mengetahui bahwa dalam stratifikasi sosial masyarakat di Indonesia, pada umumnya dikenal tiga lapisan masyarakat yaitu: kaum bangsawan (kelompok aristokrat) yang menempati lapisan atas, dan kaum yang lebih rendah yaitu wong cilik (Jawa), rakyat biasa, atau cacah (Sunda). Di beberapa kalangan etnis tertentu ada juga strata di antara keduanya, misalnya dalam masyarakat Sunda dikenal strata santana. Jadi, ada perempuan yang termasuk kaum bangsawan dengan segala hak istimewanya, dan ada perempuan wong cilik yang harus menerima statusnya sebagai rakyat kecil.

Peran Perempuan Sunda dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Peran perempuan Sunda dalam berbagai aspek kehidupan sangat menarik untuk dicermati. Di dunia pendidikan, jumlah sarjana perempuan, bukan persoalan, malah yang duduk menjadi guru besar, balatak (istilah Sunda yang menunjuk pada jumlah banyak dan tersebar). Perubahan sosial yang deras terjadi pada pergantian abad ke-19 menuju abad ke¬20. Seiring dengan bergulirnya roda sejarah, status sosial kaum wanita perlahan-lahan berubah. Perubahan terjadi antara lain karena adanya tokoh-tokoh penggerak emansipasi yang membuka jalan bagi pendidikan kaum wanita. Tokoh-tokoh penggerak emansipasi ini antara lain Raden Dewi Sartika (dari Bandung), R.Ayu Lasminingrat (dari Garut), serta R. Siti Jenab (dari Cianjur). Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, keadaan berubah secara drastis. Kebebasan terbuka lebar bagi bangsa Indonesia untuk berkiprah di segala bidang. Jelas pula perubahan yang terjadi. Sekarang wanita sudah setara dengan pria untuk mendapatkan hak atas pendidikan. Namun di sisi lain, masih banyak wanita yang sarjana, terpaksa mengikuti ke kota mana suami pindah tugas (jarang ada suami yang ikut ke mana isteri pindah tugas).

Sebagai bandingan, kita lihat, bagaimana peran perempuan Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara atau dalam dunia politik. Yang dimaksud dengan urusan politik di sini adalah urusan bagaimana memperoleh kekuasaan dan bagaimana menyelenggarakan kekuasaan/ pemerintahan. Kita bisa memperhatikan data ini: Jumlah menteri perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 (2009-2014) ada 5 orang dari 34 menteri (dan baru bulan ini dikurangi satu orang tinggal 4 orang), sedangkan pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 1 (2004-2009), hanya 4 orang dari 36 menteri. (indocashregister com/../daftar-menteri-kabinet-indonesia-bersatu-jilid-2-pengumuman -resmi/). Jadi, semula ada kenaikan sebesar 25%, namun setelah Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan diganti oleh Agus Martowardoyo pada tanggal 20 Mei 2010, berarti persentase ini menurun kembali.

Sementara itu, anggota DPR perempuan periode 2009-2014, ada 101 orang dari 560 anggota DPR, atau 18,03%, sedangkan pada periode 2004-2009, anggota DPR perempuan hanya 62 orang dari 550 orang, jadi hanya. 11,6 %. Berarti ada peningkatan sebesar enam persen dibanding periode sebelumnya. Bandingkan dengan periode 1992-1997 yaitu 60 anggota perempuan atau 12,15% dan periode 1999-2004 dengan 44 anggota perempuan atau 8,80 % (Prastya, 2010 dalam gagasanhukum.wordpress.com/.../implikasi-putusan-mk¬terhadap keterwakilan- perempuan/, 22 Mei 2010). .Sementara itu, gubernur perempuan hingga hari ini, hanya ada satu orang (yaitu Gubernur Banten) dari 33 gubernur yang ada di Indonesia, atau hanya 3%. Sementara itu kaum perempuan yang menjadi bupati/ walikota, hanya 8 orang dari 440 kepala daerah di seluruh Indonesia, atau 1,8 persen; dan yang menjadi wakil bupati/walikota, hanya 18 orang dari 440 wakil kepala daerah di seluruh Indonesia (http://www. menegyp. go. id/index. php?opti on=com content&view—artic le&: kontribusi-perempuan-di-pemerintah-minim&catic1=38:artikel-perempuan &Itemid=114 21 Mei 2010)

Masih terasa ada ganjalan, ketika seorang wanita menjadi menteri, sementara suami bukan apa-apa. Keadaan seperti itu "kurang enak dirasakan, kurang bisa diterima". Hal ini menunjukkan bahwa cara pandang masyarakat kita masih androgynus (menganggap dunia adalah milik laki-laki). Sekarang itu sebenarnya sudah bukan zamannya lagi bicara soal emansipasi antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Namun, kenyataannya di kalangan masyarakat kita sekarang masih saja terdengar ungkapan, "awewe mah dulang tinande", secara ironis juga masih ada yang mengatakan, perempuan itu kodratnya hanya "di dapur, di sumur, di kasur". Adanya ungkapan-ungkapan seperti ini, secara implisit menunjukkan betapa status sosial kaum perempuan, belum bisa meningkat secara ajeg. Ada lagi sebuah kasus yang terasa ironis. Pada tahun 2004, ada tujuh orang perempuan yang mendaftarkan diri untuk menjadi walikota Bandung. Ini menggembirakan, meski tak usah dipertanyakan mengenai kans untuk bisa menjadi walikota. Ada orang yang sinis berkata "ah, itu sekedar meramaikan". Tentu saja ucapan ini tidak menggembirakan, dan menyisakan pertanyaan yang hams dipikirkan jawabannya.

Dengan memperhatikan capaian yang diperoleh kaum perempuan Indonesia di bidang politik dewasa ini , memang masih belum mencapai sasaran yaitu 30 % dari yang ditargetkan. Mengapa begitu sulit untuk meningkatkan peran perempuan dalam bidang politik di Indonesia (termasuk perempuan Sunda tentunya)? Apakah benar keterlibatan perempuan dalam dunia pemerintahan/dunia politik, sekedar "meramaikan"? Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, marl kita menengok ke masa lalu.

Perempuan dalam Sejarah Politik di Indonesia
Dalam perjalanan sejarah Sunda, kita mengenal beberapa tokoh perempuan yang menduduki posisi tinggi.. Di Sumedang, pada abad ke-18 pernah ada seorang perempuan yang menjadi bupati dan dikenal sebagai Dalem Isteri Raja Ningrat (1744-1759). Puteri sulung Pangeran Kusumahdinata ini diangkat menjadi bupati karena ketika ayahandanya meninggal, ketiga adik laki-lakinya belum dewasa, cucu sulungnya yang laki-laki juga masih kecil. Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk memerintah sebuah kabupaten yang wilayahnya cukup luas. Sebenarnya juga, leluhur Bupati Isteri ini, ada yang pernah menjadi ratu di Kerajaan Sumedanglarang (bawahan Kerajaan Sunda), yaitu Nyi Mas Ratu Patuakan yang kemudian digantikan oleh puterinya yaitu Nyi Mas Ratu Inten Dewata atau Ratu Pucuk Umun. Jadi, setidak-tidaknya di Sumedang pernah ada dua orang Ratu (Raja puteri) dan seorang bupati perempuan. Ini menunjukkan bahwa ada perempuan (kebetulan dari kalangan atas) Sunda yang memiliki kedudukan sejajar dengan pria, meski tentu ini hanya bersifat kasuistis (Lubis et al., 2008). Jangan lupa pula, bahwa dalam mitologi Sunda dikenal tokoh Sunan Ambu, tokoh utama di kahyangan, yang memiliki para pembantu, para bujangga, yang jelas-jelas laki-laki. Apabila ada permasalahan di buana pancatengah, maka para bujangga ini diutus ke bumi untuk menyelesaikan masalah. Ada juga pembantunya perempuan yaitu Pohaci (Sanghyang Sri), yang kadang dikenal sebagai Dewi Sri, Dewi padi. Apabila menghadapi persoalan di buana pancatengah, maka para bujangga mengadukan persoalan kepada Sunan Ambu, pemilik solusi yang segala bisa. Setidaknya Sunan Ambu adalah simbolisasi "indung" (ibu), yang memiliki kedudukan sangat terhormat dalam tatanan nilai masyarakat Sunda lama. Kepadanyalah segala persoalan diadukan (Sumardjo, 2003:234- 243).

Demikianlah sekelumit peran perempuan Sunda dalam dunia politik masa lalu. Namun di balik gambaran status sosial yang tinggi di dunia politik tradisional itu, kita juga akan mendapat gambaran sebaliknya. Citra perempuan sebagai mahluk kelas dua, dapat kita kenali dari berbagai historiografi tradisional yang ada di Indonesia. Penulis mengambil contoh dari historiografi tradisional yang ada di Tatar Sunda, yang sudah penulis dalami selama ini.

Status sosial perempuan Sunda pada abad ke-19 antara lain tersirat dalam salah satu historiografi tradisional yang berjudul Sajarah Sukapura . Karya yang ditulis pada tahun 1886 oleh Raden Kanduruan Kertinagara (1835-1915) alias Haji Abdullah Soleh, mantan Wedana Manonjaya.ini berisi kisah para leluhur Sukapura, ceritera Dipati Ukur, dan pemerintahan para bupati Sukapura, sejak yang pertama hingga bupati ke-12, yaitu Bupati R. A. A. Wirahadiningrat (1875-1906).

Ada bagian yang menarik dalam karya ini yang berkaitan dengan perempuan, yaitu pada bagian VIII. Pada bagian ini dikisahkan tentang tiga orang anak buah Dipati Ukur, yang bernama Wirawangsa, Samahita, dan Astramanggala. Ketiga orang ini dianugerahi kebebasan dari tugas dan kewajiban oleh Sultan Mataram, karena mereka dianggap berjasa dalam penangkapan Dipati Ukur yang dianggap berkhianat kepada Sultan Mataram. Akan tetapi ketiganya merasa tidak puas atas anugerah itu. Lalu ketiga orang itu sepakat untuk mempersembahkan tiga orang gadis cantik kepada Sultan Mataram. Ternyata sultan merasa senang atas persembahan itu, dan sebagai imbalan atas kesetiaan mereka, ketiganya kemudian diangkat menjadi "mantri agung" (setingkat bupati). Jelaslah bahwa di sini perempuan dianggap sama dengan benda yang bisa dipersembahkan sebagai upeti.

Kaum menak (pria) hingga perempatan ketiga abad ke-19, mempunyai suatu tradisi yang disebut nyanggrah. Bila menginginkan seekor kuda milik rakyat (somah), sang menak cukup menggunting bulu suri kuda tersebut, maka kuda tersebut sudah beralih pemilik. Bila mereka mengadakan perjalanan ke desa (turne), kemudian melihat seorang gadis cantik, cukup baginya mengatakan: "Anak gadis siapa itu?". Maka sejak saat itu si gadis sudah bisa dipastikan akan menjadi miliknya. Hal ini mencerminkan betapa besar kekuasaan kaum menak dahulu, sekaligus mencerminkan betapa rendahnya kedudukan perempuan yang dianggap sama dengan kuda atau ternak lainnya. Ada kisah tragis berkaitan dengan kebiasaan nyanggrah ini. Bupati Cianjur, yang kemudian dikenal sebagai Dalem Dicondre, mengalami nasib buruk karena ia menginginkan seorang gadis desa yang cantik tapi sudah punya tunangan. Tunangan si gadis, tidak mau menerima perlakuan Dalem-nya, dan ia nekad membunuh Sang Dalem dengan menggunakan condre (sejenis badik) hingga tewas. Akhirnya bupati tersebut dikenal sebagai Dalem Dicondre. Kisah ini bisa dibaca dalam Sajarah Cikundul.

Dalam Wawacan Carios Munada dikisahkan tentang salah seorang Bupati Bandung pada abad ke-19 yang memiliki begitu banyak selir. Konon, jumlahnya ratusan. Asisten Residen Bandung waktu itu, meminta kepada bupati agar salah seorang selirnya dipinjamkan untuk tinggal bersamanya. Tanpa susah-payah. Sang Bupati meminjamkan salah seorang selirnya. Ketika si selir itu hamil, mudah saja Sang Asisten Residen menyerahkan kembali si selir ke kabupaten. Tidak pula menjadi masalah ketika si anak lahir dengan wajah indo, ia dianggap anak oleh bupati tersebut. Dalam kasus ini, sangat jelas betapa seorang perempuan di-alung--boyong- bagai mainan belaka. Kisah semacam ini juga bisa dibaca dalam Wawacan Sajarah Galuh. Dalam historiografi tradisional, yang salinannya diperkirakan dibuat antara tahun 1889-1894 ini, dikisahkan tentang Nyi Tanduran Gagang, seorang puteri keturunan Pajajaran yang mengalami nasib tragis. Mula-mula ia dinikahi Sultan Cirebon, tak lama kemudian diceraikan., karena bagian badan sang puteri mengeluarkan api. Tak lama kemudian ia dinikahi Sultan Banten, dan perkawinan berakhir segera karena alasan yang sama. Akhirnya sang puteri dinikahi Sultan Mataram. Pernikahan pun berakhir tidak lama kemudian. Ketiga Sultan sepakat menjual Nyi Tanduran Gagang kepada pemerintah Inggris (pada bagian lain kepada pemerintah Belanda). Akhirnya pemerintah asing itu bersedia menukar Nyi Tanduran Gagang dengan tiga pucuk meriam,. Tiap sultan mendapat sepucuk meriam. Meskipun kisah ini memiliki latar belakang politis, tetapi secara tersurat perempuan digambarkan sebagai piala bergilir, yang dengan mudah di-alung--boyong (dilempar ke sana ke mari).

Dalam carita-carita pantun ataupun dalam historiografi tradisional seperti Babad Pajajaran, Cariosan Prabu Siliwangi, dsb., diceritakan bahwa Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang legendaris itu, beristri 151 orang. Salah seorang isteri kesayangannya adalah Nyai Rajamantri. Dalam hal ini, tanpa melihat apakah jumlah 151 orang itu faktual atau tidak, setidak-tidaknya menyiratkan bahwa perempuan hanya dianggap komoditi politik atau barang jaminan karena perkawinan Prabu Siliwangi dengan kebanyakan perempuan ini lebih bersifat politik yaitu untuk menjaga loyalitas elite-elite dari wilayah yang dikuasainya.(Lubis, 1998:232).

Mengapa kedudukan perempuan Sunda seperti digambarkan dalam historiografi tradisional itu begitu rendah, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat? Apakah tidak ada pilihan bagi mereka? Tidak mudah menjawabnya, karena keadaan ini merupakan masalah struktural. Salah satu contoh, orang tua perempuan somah sangat menginginkan anak gadisnya dijadikan selir oleh kaum menak, (tidak peduli apakah dinikahi atau tidak nantinya) sebab keturunannya nanti bisa menjadi menak, sehingga status sosial mereka meningkat.

Perempuan tidak Punya Pilihan.
Dalam sejarah Sunda kaum menak pria, terutama para bupati, biasanya beristeri dan berselir banyak. Para isteri ataupun para selir, selain berasal dari kalangan menak, banyak juga yang berasal dari kalangan santana, bahkan dari kalangan somah. Garwa padmi (isteri yang kedudukannya setara dengan permaisuri) seorang bupati biasanya berasal dari kalangan menak tinggi (umumnya puteri bupati), sedangkan isteri-isteri lainnya bisa dari kalangan bukan menak tinggi, sedangkan selir, banyak yang berasal dari kalangan somah. Misalnya saja, Bupati Sumedang yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sugih, memiliki empat orang isteri ( tiga orang di antaranya puteri bupati) dan 27 selir, dan hanya seorang selir saja yang berasal dari kalangan menak, sisanya berasal dari kalangan yang berstatus sosial lebih rendah.(Lubis, 1998: 226).

Kaum perempuan menak dapat dikatakan lebih beruntung daripada kaum perempuan santana ataupun somah . Misalnya saja: ketika seorang perempuan somah dinikahi seorang Bupati Garut, pernikahan dilangsungkan diam-diam, tanpa pesta, cukup dengan membagi-¬bagi berekat, lain dengan pesta pernikahan seorang puteri Bupati Galuh yang diselenggarakan selama 40 hari 40 malam dengan segala kemewahan dan kemegahannya. Seorang perempuan bukan menak dengan mudah diceraikan tanpa kesalahan apapun, selain kesalahan karena ia menyandang status sosial yang lebih rendah dari menak. Ada sebuah kasus yang terkenal pada awal abad ke-20 di Bandung : Aom Ogog, putera Bupati Bandung, yang akan dipromosikan menjadi bupati, dipaksa oleh keluarganya untuk menceraikan isteri tercintanya, Oma, karena sang isteri bukan puteri seorang dalem. Kisah tragis ini, digambarkan dalam sebuah tembang berjudul Ceurik Oma yang menyayat hati. Lain halnya, ketika garwa padmi Bupati Garut minta cerai (bukan diceraikan), karena tidak setuju suaminya menikah lagi. Ketika ke luar kabupaten, harta-benda berlimpah didapatkannya (Lubis, 1998: 231-237).

Demikianlah gambaran betapa rendah kedudukan perempuan Sunda dalam masyarakat tradisional. Meskipun gambaran di atas menyangkut perempuan bangsawan, namun kedudukan perempuan dari kalangan rakyat biasa, agaknya tidak akan jauh dari itu.

Stigma tentang perempuan sebagai warga kelas dua itu, yang ditanamkan sejak beraba-abad lalu, ternyata cukup mengakar dan belum bisa diatasi oleh gerakan emansipasi yang sudah dicanangkan seabad yang lalu. Itulah jawaban mengapa hingga kini peran perempuan di dunia politik sekarang ini masih belum mencapai target.

Usaha untuk memberdayakan perempuan Sunda dalam dunia politik
Dengan mengamati perjalanan sejarah kaum perempuan Sunda di atas, agaknya urusan kehidupan berbangsa dan bernegara atau bidang politik masih dianggap sebagai urusan laki-laki. Meskipun dalam sejarah Sunda sebelum kemerdekaan, ada beberapa perempuan yang pernah menjadi penguasa, atau duduk dalam satu jabatan tinggi di suatu negeri, itu belum mewakili secara representatif untuk mengatakan bahwa kaum perempuan mitra sejajar dengan kaum laki-laki.

Ketika kemerdekaan sudah diraih, ternyata jumlah kaum perempuan yang duduk dalam jabatan politik, masih belum bisa mencapai jumlah minimal yaitu 30%. Padahal, ada harapan bahwa apabila kaum perempuan duduk di sana, di lembaga-lembaga politik, akan dapat mewakili kepentingan kaumnya, dalam arti mengurusi mulai dari mengangkat persoalan, membincangkan, menegosiasikan solusi yang ditawarkan, hingga melegitimasikan (bila perlu), dan mewujudkan dalam bentuk peraturan, kebijakan, atau bentuk-bentuk aksi lainnya. Dengan cara beginilah, kaum perempuan yang tentunya sepenuhnya bisa menghayati persoalan-persoalan perempuan, diharapkan mampu mengisi lowongan yang ditawarkan itu. Dinamika sejarah yang dikemukakan di atas, menunjukkan bahwa kaum perempuan Indonesia belum memiliki posisi politik yang optimal. Oleh karena itu harus lebih diberdayakan lagi. Lalu bagaimana caranya?

Menurut penulis, kunci jawabannya adalah :
Pemerintah harus melakukan rekayasa politis dengan membuat peraturan-perundang¬undangan, yang "memaksa" agar kaum perempuan diberi kuota sesuai target, jadi tidak bisa dengan hanya memberi kesempatan bebas berkompetisi.

Mengubah sikap mental masyarakat yang menomorduakan kaum perempuan, dengan membuang mitos-mitos lama yang kontraproduktif, dan diganti dengan etos kerja yang positif. Misalnya:
a. Perempuan yang selama ini dianggap konco wingking diganti dengan anggapan bahwa "perempuan itu tiang negara"
b. Dunia politik itu adalah dunia keras, (mungkin juga "kotor"), mengandung potensi konflik yang tinggi, memancing kekerasan, yang semuanya ini tidak disukai kaum perempuan; cobalah anggapan ini diubah: "dunia politik adalah dunia yang menantang kaum perempuan untuk bisa berenang di dalamnya dengan segala sikap keluwesan perempuan". Langkah nyata dalam hal jangan ragu-ragu untuk terjun ke dunia politik, menjadi anggota partai. Namun bukan sekedar untuk memenuhi target 30%, kaum perempuan masuk ke sana karena memang memiliki kapabilitas. Untuk itu, dibutuhkan persiapan: pendidikan formal maupun informal. Yang bersifat formal: pendidikan di bidang terkait (Ilmu politik misalnya) sedangkan yang bersifat informal: aktif dalam organisasi pemuda, LSM atau organisasi yang memberikan bekal di bidang hubungan-hubungan sosial-politik. Kita bisa mempelajari latar belakang para politisi perempuan terkemuka di negeri ini.
c. Tanamkanlah sejak di Taman Kanak-kanak, bagaimana anak perempuan bisa mengaktualisasikan dirinya sebagaimana anak laki-laki, tentu tanpa mengabaikan etika dan nilai-nilai agama dan budaya. Anak-anak usia TK bagai kertas kosong yang siap ditulisi apa saja. Jadi, bila sejak usia dini itu, ditanamkan di dalam pikirannya bahwa mereka bukan anak yang selalu harus mengalah, harus menomorduakan dirinya sendiri dan menomorsatukan anak laki-laki, maka itu akan terbawa seumur hidupnya. Bagi anak-anak beragama Islam harus ditanamkan bahwa semua manusia itu sama kedudukannya di depan yang Maha Kuasa, yang membedakannya adalah ketakwaannya. Meskipun harus pula dijelaskan bahwa secara kodrati ada perbedaan fisik, kekuatan fisik antara anak perempuan dan anak laki-laki, namun ia akan siap berkompetisi dengan anak laki-laki di bidang ilmu pengetahuan misalnya.

Daftar Pustaka
De Graaf, H.J. 1974. Kerajaan-kerajaan Islam Pertama di Jawa (transl.) Jakarta: Grafitipers.
Ekadjati, Edi S (ed.). 1991. Wawacan Carios Munada. Bandung: Unpad.
Lubis, Nina H.. 1998. Kehidupan Kaum Menak Priangan. Disertasi. Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda. 2004. Banten dalam pergumulan Sejarah; Sultan, Ulama, Jawara.
Lubis, Nina H. et al., 2008. Sejarah Sumedang dari Masa ke Masa. Sumedang: kerjasama Pusat kebudayaan Sunda Fak. Sastra Unpad dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumedang.
Hermansoemantri, Emuch. 1979. Sajarah Sukapura. Disertasi. Jakarta: Universitas Indonesia.
Kartodirdjo, Sartono. 1988. Modern Indonesia; Tradition & Transformatin. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kuntowijoyo. 1988. Sejarah Wanita: Dari Sejarah Androsentris ke Sejarah Androgynous. Makalah dalam Seminar Wanita. Yogyakarta: MSI Cabang Yogyakarta.
Ricklefs, M.C. 1991.Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soedarpo, Mien. 1994. Reminiscences of the Past. Jakarta: Sinar Harapan.
Soekmono. 1995. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jilid 2. Yogyakarta: Kanisius.
Sofyan, Ismail et al.1994. Wanita Utama Nusantara ; dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: Jayakarta Agung.
Sumardjo, Jakob. 2003. Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda; tafsir-tafsir Pantun Sunda. Bandung: Kelir.
Van Niel, Robert. 1960. The Emergence of the Modern Indonesian Elite. Den Haag: Van Hoeve.
Situs Internet: Indocashregister.com/../dafiar-menteri-kabinet-indonesia-bersatu-jilid-2-pengumuman — resmi, diakses 21 Mei 2010.
Prastya, Kibu Hutabri. 2010 dalam gagasanhukum.wordpress.com/.../implikasi-putusan-mk¬terhadap-keterwakilan-perempuan/, diakses 22 Mei 2010) http://www.menegpp.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=176:kontri-busi-perempuan-di-pemerintah-minim&catid=38:artikel -perempuan&Itemid=114, diakses 21 Mei 2010

Sumber:
Makalah disampaikan pada kegiatan Temu Tokoh yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung tanggal 5 Agustus 2010.

Mengenang Epoch Perjuangan ”Lasywi” Jawa Barat

Oleh: Tuti Amir

Abstrak
Gambaran tentang pahlawan baik pria maupun wanita merupakan suatu bagian yang penting di dalam sejarah setiap bangsa. Kedudukan yang penting itu acapkali menempatkan para pahlawan untuk patut diperingati. Pahlawan Nasional dilestarikan dalam wujud nama jalan, nama Perguruan Tinggi, nama Angkatan Perang/Kesatrian TNI/Polri, nama rumah sakit, nama kapal dan lain sebagainya. Pengabdian semacam itu bermaksud untuk memperkenalkan para pahlawan, melangsungkan makna pengorbanan tersebut bagi generasi-generasi yang akan datang. Makna yang dapat kita tarik dari pengabdian dalam berbagai bentuk, tergantung dari kemampuan analisis dan kecakapan mengkaitkan jasa-jasa para pahlawan dalam konteks penyelesaian masalah yang dihadapi masa kini dan masa mendatang.

Pengabdian dan usaha mencari makna seperti yang dipaparkan diatas belum cukup untuk memahami setiap insan agar menarik manfaat dari pengorbanan para pahlawan. Untuk itu diperlukan bahan bacaan yang akan memberikan penjelasan terhadap perjuangan para pahlawan. Berdasarkan pokok-pokok pikiran diatas, penulis berusaha untuk menguraikan perjuangan wanita dalam wadah LASYKAR WANITA (LASYWI) khususnya perjuangan Lasywi di Jawa Barat, bagaimana keberadaannya dulu, keberadaan masa kini dan bagaimana menjelang usia lanjut mereka keberadaannya dalam wadah organisasi KOWAVERI.

Pendahuluan

S
elama kurang lebih 3 ½ abad penjajahan atas Indonesia, Belanda terpaksa melancarkan perang kolonial sebanyak lebih dari 85 kali, guna mencegah bangsa Indonesia memerdekakan diri dari belenggu penjajahannya. Namun pengalaman pahit penjajahan itu membuahkan nikmat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah telah memberikan hidayah kepada umatnya terutama bangsa Indonesia membuka pikiran bagaimana cara memerdekakan diri. Kepada bangsa Indonesia telah dibuka pikiran jalan kemerdekaan melalui generasi-generasi sebagai berikut:
1.      Generasi perintis dengan berdirinya Budi Utomo 1908.
2.      Generasi penegas dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928
3.      Generasi pendobrak Kolonial Belanda dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang dikenal sebagai generasi Angkatan 45.
4.      Generasi pengisi kemerdekaan dengan nama Angkatan 66.
5.      Abad ke 20 adalah generasi reformasi menuju millenium ke-3 yang mempersiapkan kehidupan bernegara secara lebih demokratis (mudah-mudahan berhasil).

Pada saat memuncaknya perjuangan nasional khususnya dalam menghadapi teror tentara Inggris dan NICA (Netherland Indies Civil Administration) di daerah yang telah mereka duduki pemerintah Indonesia membentuk Tentara Kebangsaan dan meresmikian Badan Keamanan Rakyat (BKR) menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) melalui maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945. TKR mempunyai tugas untuk mengamankan negara dan rakyat dari gangguan teror tentara pendudukan Inggris dan NICA. TKR telah mempunyai unsur laut, udara dan kepolisian. Disamping TKR dibentuk juga LASYKAR RAKYAT sebagai Organisasi Perlawanan Rakyat untuk melaksanakan pertahanan dan keamanan negara R.I. Lasykar Rakyat pada garis besarnya terdiri dari dua golongan :
1.      Lasykar yang tidak dijiwai oleh sesuatu idiologi politik, tumbuh sebagai perwujudan hasrat rakyat yang meluap-luap untuk turut serta mengisi dan menegakkan Proklamasi 17 Agustus 1945, baik lasykar pria maupun lasykar wanita.
2.      Lasykar yang dijiwai oleh sesuatu idiologi politik partai, adalah lasykar yang dibentuk oleh partai-partai politik sebagai akibat Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 tentang pembentukan partai-partai dan anjuran untuk membentuk Lasykar Partai.
Dalam bab berikut akan diuraikan bagaimana dan kapan terbentuknya lasykar wanita khusus di wilayah Jawa Barat secara singkat, bagaimana keadaan LASYWI selanjutnya.

Lasykar Wanita Indonesia (LASYWI) Jabar

Lasywi terbentuk pada tanggal 12 September 1945 di Bandung dan bermarkas di gedung Mardi Hardjo Jl. Pangeran Sumedang, sekarang Jl. Otto Iskandardinata. Lasywi Mardi Hardjo langsung dibawah pimpinan dan pengawasan Ibu S. Yati Arudji Kartawinata (waktu itu bapak Arudji Kartadinata adalah Menteri Muda Pertahanan RI). Pelindung Laswi adalah Bapak Arudji sendiri sebagai Komandan Divisi III dan Bapak Oman Abdulrachman waktu itu sebagai Komandan Resimen VIII TRI. Lasywi direkrut dari para pelajar putri dari berbagai sekolah menengah yang ada di Bandung dan beberapa ibu-ibu dari Fujingkai dan beberapa yang sudah bekerja pada zaman penjajahan, mereka rata-rata selesai HIS, kelas pertama MULO dan ada juga yang sudah selesai HIK.

Pelatih-pelatih Lasywi adalah personil-personil dari Resimen VIII, Batalyon II (Yon Sumarsono), BKR, KRIS dan pemuda PTT yang melatih bidang kemiliteran, mereka juga (Lasywi) diberi pelajaran Bidang Rohani oleh Ibu Pardjaman dan Ibu Aliratman (sekarang beliau-beliau telah tiada), selain itu diberikan latihan bongkar pasang senjata, cara menembak dan bela diri. Setelah direkrut dan banyak yang bergabung, maka disusunlah organisasi yang terdiri dari : 2 Seksi (setingkat Peleton) dan tiap peleton membawahi 8 Brigade (regu). Kekuatan personil Lasywi waktu itu berjumlah 90 orang dan 10 orang tenaga administrasi pengawas asrama dan pengawasan dapur.

Di waktu senggang Lasywi mendapat pelajaran tambahan seperti :
  • EHBO (Erstehulp Voor Ongelulkken)/PPPK.
  • Baris berbaris.
  • Bongkar pasang senjata (Karabyn Mouser sampai Water Mantel).
  • Bela diri tangan kosong (PDTB).
  • Anggar (Floret, Sabel).
  • Membaca kode morse dan bendera.

Pengalaman terjun ke lapangan.
  • Membantu korban banjir Cikapundung.
  • Mengangkat korban pemboman di Cicadas, hantaman Howitser di Tegallega.
  • Mengangkat korban masyarakat yang kena tembakan Howitser yang ditembakkan dari gedung Dennos dan mengangkat sorban ke R.S. Imanuel.
  • Pada peristiwa Bandung Lautan APi mundur ke CIparay (Cipaku) dan membentuk dapur perjuangan.
  • 4 Brigade (Regu) dipencar dan diperbantukan ke 5 Yon I s/d Yon V waktu kembali ke induk pasukan asrama Lasywi kena sasaran Howitser yang ditembakan dari Dayeuh Kolot, asrama jadi berantakan dan seorang kena pecahan peluru Howitser.
  • Asrama pindah ke Majalaya, nasibnya sama karena dihujani bom asrama hancur dan mengakibatkan 8 anggota gugur dan 2 orang cidera.
  • 2 Regu Lasywi dipanggil oleh Ibu Arudji ke Jogja (waktu itu Bapak Arudji menjabat MENMUD Pertahanan) tugas-tugas regu itu melatih pasukan yang sudah terbentuk dan pasukan yang sudah terlatih diambil alih oleh Ibu Yos Chairul Saleh untuk dijadikan Wanita Pembantu Perjuangan (WAP) dan Lasywi Bandung tetap bersama Ibu Arudji.
  • Akhir 1948 kembali ke Bandung dengan jalan kaki, 6 orang menghadap Pak Oman Abdurahman apa tugas Lasywi selanjutnya. Pak Oman menyarankan agar melanjutkan sekolah, ada yang ke V.H.O. (Voorbreiding Loor Hoger Onderwiys) dan ada yang ke Kweek School Njemuesty sesudah itu semua Lasywi berkeluarga sampai beranak cucu. Estela dibentuk KOWAVERI (Korp Wanita Veteran RI) bersama berkumpul lagi dan dalam wadah KOWAVERI.
  •  

SUSUNAN PENGURUS LASYWI BANDUNG

Setelah didirikan tanggal 12 Nopember 1945 dan telah tersedia SDM Lasywi maka disusunlah Lasywi Jabar yang berkedudukan di Jl. Pangeran Sumedang No. 91 Bandung. Adapun sususnannya ádalah sebagai berikut :
Promotor
:
Ibu Yati Arudji Kartawinata
Pemimpin
:
Ibu Yati Arudji Kartawinata
Pelindung
:
Bp. Arudji Kartawinata


Bp. Oman Abdurahman


Ibu D. Pardjaman


Ibu Kurniasih Suranata
Ketua
:
Ibu Arudji Kartawinata
Wakil Ketua
:
Ibu Djuhaeni Maskun (Alm)
Sekretaris I
:
Tedja Setiasih (Edja)
Sekretaris II
:
Kusumatinah
Bendahara I
:
Maemudah (Alm)
Bendahara II
:
Siti Sobarian (Alm)
Pembantu Umum
:
Kustiani


Suliah
Ajudan
:
Nani Ramami


Sri Sisbandiah

Seksi-Seksi
Perlengkapan
:
Djajat / Perry
Dapur Umum
:
Rosmana
Timun Muljani
Palang Merah
:
Jatimah
Roosmini
Sosial
:
Kajati
Jootje
Intel
:
Nani Sumarni
Sisbandijah (Alm)
Penghubung
:
Atikah
Kustiani

Pasukan
Kepala Seksi I (DANTON)
Kepala Seksi II (DANTON)
Kepala Brigade I (DANRU)
Kepala Brigade II (DANRU)
Kepala Brigade III (DANRU)
Kepala Brigade IV (DANRU)
Kepala Brigade V (DANRU)
Kepala Brigade VI (DANRU)
Kepala Brigade VII (DANRU)
Kepala Brigade VIII (DANRU)
Kepala Brigade IX (DANRU)
Merangkap Ordonamns
: E. Sariah/Sartje (sekarang May Purn)
: Sisbandiah (Alm)
: Tuti Kartabrata
: Arinah
: Hermiati
: Suprapti
: Sukarmi
: Sukarningsih
: Hartini
: Hindun

: Willy

Setelah disusun kepengurusan maka Lasywi mempunyai Undang-Undang Laskar Wanita yang berbunyi :
1.      Tidak ada sembahan lain, melainkan Tuhan saja.
2.      Cinta dan sayang kepada tanah air, bangsa dan agama.
3.      Jujur ikhlas dan suci.
4.      Suka menolong dan tidak menghendaki pembalasan.
5.      Setia para perjanjian.
6.      Berani karena benar takut berbuat salah.
7.      Sabar dan rela membantu pasukan yang manapun juga.
8.      Boleh dipercaya.
9.      Teguh memegang disiplin.
10.  Menurut dan berdiri dibelakang pemimpin.
11.  Membaca kalimat syahadat.
12.  Saya sungguh-sungguh dan suci hati.
13.  Meneriakkan kata “MERDEKA”.

Selain itu Lasywi juga mempunyai lagu Mars Lasywi yang berbunyi :


MARS LASYWI

Dari Jakarta ke Semarang.
Dari Jogja dan Surabaya.
Beta cari sampai sekarang.
Hanya di Bandung ada Lasywi.

Reff :
Oh Lasykar Wanita Indonesia
Menjelma di dalam panca roba.
Dengarlah panggilan pertiwi.
Siapa yang rela tentu Lasywi.

Kegiatan yang menonjol pada peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) Lasywi digabungkan dengan MP3 dan diberi tugas mengurus dapur umum untuk para pejuang yang berada di daerah pertempuran sektor Bandung Selatan. Anggota Lasywi disebarkan ke setiap kesatuan untuk menyelenggarakan dapur umum dan Palang Merah yang berada digaris depan sektor Bandung Selatan.
1.      Tugas dapur umum pada saat itu adalah :
2.      Mencari bahan mentah makanan.
3.      Memasak dan mengantarkan ke front depan yang ditugaskan mengawal ompreng ke Pusat Dayeuh Kolot adala Sdr Nani Ramami.

Logistik diangkut dengan gerobak-gerobak milik Lasywi, apabila gerobak Lasywi mogok maka tidak segan-segan menggunakan kendaraan pribadi yang lewat, bahkan mobil Pak Nasution pun tidak luput untuk dipakai mengantar ompreng.

Korban-korban yang terjadi pada saat asrama di Majalaya dibombardir sehingga menimbulkan 10 orang luka-luka dirawat di R.S. Garut dan 4 orang meninggal yaitu 3 orang bala bantuan dari Jogjakarta dan Magelang dan 1 orang lagi dari Garut. Para korban telah dimakamkan kembali/dipindahkan ke TMP Jogjakarta 2 orang dan 1 orang lagi di TMP Madiun dan 1 orang lagi masih berada di pemakaman Majalaya yaitu Sdr. Lala. Korban cacar lainnya ialah Sdr. Djadjat dan Sdr. Euis Sariah alias Sartje menderita tromelvliesnya pecah yang mengakibatkan pendengarannya tidak normal lagi (sekarang beliau adalah May Purnawirawati NPV 09.018.770 beliau diangkat menjadi Mayor berdasarkan Kepres No. 307 Th. 1968).

Kegiatan Lasywi Lasywi di luar Kota Bandung

  1. Pada perang kemerdekaan I (Class ke-I tahun 1947) Lasywi dipecah menjadi 2 pimpinan yaitu :
a.       Lasywi pimpinan Ibu Awibowo
b.      Lasywi pimpinan Ibu Pangeran Hadinegara
Yang beroperasi diwilayah Jogjakarta.
  1. Pada perang kemerdekaan II (Class ke-II tahun 1948) Lasywi siang hari bertugas sebagai palang merah dan dapur umum, malam hari ikut bergerilya di wilayah Jawa Tengah.
  2. Inspektorat wanita biro perjuangan yang dipimpin saudari Atikah dan Saudara Edja sebagai sekretaris berkedudukan di Garut bertugas untuk membentuk kader-kader wanita untuk ditugaskan di kecamatan-kecamatan, tugas mereka adalah :
a.       Membantu jawatan sosial.
b.      Memberantas buta huruf.
c.       Membuat makanan tahan lama untuk dikirim ke front.
d.      Menjahit pakaian untuk para lasykar.
e.       Mencari dana untuk para korban di rumah sakit.
  1. Setelah penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949 lasykar resmi dinyatakan bahwa anggota Lasywi kembali ke masyarakat dengan catatan bahwa perjuangan belum selesai, dimanapun mereka berada kewaspadaan nasional tetap ditingkatkan dan akan berjumpa lagi di lain kesempatan dengan pemeo ”Walau pejuang sudah sampai pada Purna Yudha tetapi tidak mau mengenal purna bhakti”. Atau mengutip kata-kata dari Jenderal Besar Douglas McArthur yang terkenal dengan ”We ar Old Soldier but Old Soldier Never Die”.

Laswy Masa Kini (Terbentuknya Kowaveri)

  1. Dalam rangka memperingati hari proklamasi tahun 1947 para veteran wanita dan pejuang lainnya diundang oleh Ibu Tien Soeharto (Alm) menyelenggarakan reuni antar wanita anggota kelasyakaran wanita dari seluruh tanah air yang pernah ikut dalam perjuangan Kemerdekaan dan membebaskan dari cengkeraman penjajah. Gagasan tersebut ditanggapi secara positif, antara lain oleh Ibu. S.Y. Arudji Kartawinata (alm), Ibu S. Koempoel (alm) dan Ibu Sri Wulan Soejitno.
  2. Tanggal 4 Maret 1976 diadakan reuni akbar kelasyaran wanita di Sasana Langen Budaya TMII dan dihadiri kira-kira 1.500 orang.
  3. Tanggal 18 Juli 1976 diadakan sarasehan di Gedung Joang 45 Jl. Menteng Raya 81 Jakarta Pusat dengan undangan yang terbatas, masalah yang dibicarakan membahas “wadah apa yang dapat dibentuk untuk mempersatukan mereka dalam gerak langkah selanjutnya”. dalam sarasehan tersebut diundang Ketua Umum LVRI pada waktu itu yaitu Laksamana Purn O.B. Syaaf (Alm) (periode 1973-1978) yang mengajak para pejuang wanita untuk bergabung dalam LVRI, hal itu disambut baik oleh para peserta sarasehan, namun berhubung tidak semua wanita pejuang dapat memenuhi persyaratannya yang digariskan oleh undang-undang No. 7 tahun 1967 tentang keveteranan maka dalam sarasehan itu disepakati membentuk suatu yayasan Wirawati Catur Panca yang dapat mewadai/menampung aspirasi seluruh wanita pejuang baik wanita yang memenuhi syarat sebagai veteran maupun yang tidak dan diresmikan bulan Mei 1976.
  4. Berdasarkan usul/saran dari ibu-ibu peserta veteran wanita (a.l. Ibu Arudji Kartawinata dan Ibu WIlly D.P. Soekirman (dari Lampung). Munas IV LVRI tahun 1978 di Medan telah memutuskan dibentuknya anak organisasi Wanita Veteran disamping Korps CACAT Veteran, Korps Sarjana Veteran dan Korps Karyawan Veteran. Bapak Letjen (Purn) Achmad Tahir yang terpilih sebagai Ketua Umum LVRI pada Munas tahun 1978 telah menugaskan kepada Pembantu Umum Urusan Peranan Wanita LVRI yaitu Ibu Herlina Kassim untuk mempersiapkan pembentukan anak organisasi Wanita Veteran dengan membentuk panitia. Panitia yang dibentuk 7 orang yaitu :
a.       Ibu Herlina Kassim.
b.      Ibu Lieke Sadikin.
c.       Ibu Mimi Soetopo (Alm).
d.      Ibu Lies Hayati Tamin (Alm).
e.       Ibu Malindar (Alm).
f.       Ibu Moedjinah Hamy Soetoyo.
g.      Ibu Sri Wulan Soejitno.

Tanggal 5 s.d 7 Desember 1979 Panitia 7 menyelenggarakan musyawarah kerja membentuk anak organisasi bagi Veteran Wanita. Muker tersebut telah memutuskan :
a.       Terbentuknya Korps Veteran Wanita.
b.      Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
c.       Progja Kerja.

Berdasarkan S.K. MBLV Nomor : Skep-59 / MBLV / IV / 12 / 1979 tanggal 20 Desember 1979 nama Korps Veteran Wanita diubah menjadi ”Korps Wanita Veteran Republik Indonesia” disingkat ”Kowaveri” dan hari ulang tahun Kowaveri ditetapkan tanggal 26 Maret. Kini telah dibentuk PD. Kowaveri di 20 propinsi perwakilan di 3 propinsi dan cabang di 144 kabupaten yang semuanya itu merupakan anak organisasi dari MADA/MACAB LVRI yang bersangkutan.

Keadaan/situasi Kowaveri PD. Jabar saat ini

Di Bandung/Jawa Barat ketua Kowaveri pertama adalah Ibu Nani Juhro yang diresmikan tahun 1980 dan susunan pimpinan/pengurus Kowaveri sekarang periode 1995 – 2000 sebagai berikut :
Ketua
:
Ny. Hj. Tuti Amir.
Wakil Ketua
:
Ny. Djalal Asikin.
Bagrog/Umum
:
Ny. Nina Gunawan.


Ny. Hj. E. Djutifah Pakih.
Bag. Kesejahteraan
:
Ny. Hj. Kuswariyah.


Ny. Hj. Sukarningsih.
Bag Sosial/Budaya
:
Ny. Hj. Tedjaningsih


Ny. Hj. Kowarini.
Bag Ekuin
:
Ny. Hj. Empit Supita.


Ny. Hj. Euis Sariah.
Bendahara
:
Ny. Kuntarsih.


Misriadi.
Sekretaris
:
Ny. Hj. Djuariah Harun.

Setelah mengalami liku-liku perjuangan/pengabdian mantan Lsywi yang bernaung dibawah organisasi Kowaveri Alhamdulillah telah dilaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya meskipun mengalami berbagai macam tantangan selama 22 tahun berdirinya Kowaveri PD. Jabar dan cabang di propinsi Jabar dari hasil pantauan tiap muscab ternyata SDM Kowaveri mengalami penyusutan secara alamiah dan yang ada banyak mengalami uzur antara lain Macab Kowaveri Bogor dan Majalengka, dalam Muscab tidak bisa terlaksana karena SDM nya tidak ada. Hasil Kongres ke VIII LVRI di Jakarta tanggal 26 s/d 28 Maret 2002 ternyata eksistensinya Kowaveri masih dibutuhkan, perlu diketahui bahwa SDM Kowaveri/Lasywi bahwa kini sudah berusia antara 70-80 tahun dan pada tahun 2004 nanti beliau-beliau telah masuk masa Post Activity Path (masa istirahat) untuk ini wajar bila timbul pertanyaan ”QUOVADIS LASYWI”.

Kesimpulan

Kelasykaran para pejuang RI dalam perjuangan kemerdekaan tidak dimonopoli oleh kaum pria namun dalam kenyataannya ikut pula Lasykar Wanita Indonesia (LASYWI) seperti diuraikan di atas khususnya Lasywi Jawa Barat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Penulis telah berupaya menyampaikan informasi tentang lika-liku perjuangan Lasykar Wanita Indonesia khususnya Lasywi di Jawa Barat, namun karena sulitnya memperoleh data kepustakaan/referensi tentang Lasywi, tulisan ini perlu penyempurnaan.

Saran

Kepada pembaca yang budiman apabila mengetahui cerita/informasi tentang Lasywi mohon disampaikan kepada penulis dengan alamat Jl. Jawa No. 56 Bandung, untuk kesempurnaan dan perbaikan terima kasih atas partisipasinya.

Penutup

Demikianlah tulisan yang berjudul MENGENANG EPOCH PERJUANGAN LASYWI JAWA BARAT, atas kekurangannya penulis mohon maaf. semoga bermanfaat.

Sumber:
Makalah disampaikan pada kegiatan Temu Tokoh yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung tanggal 5 Agustus 2010.