Showing posts with label hasanah. Show all posts
Showing posts with label hasanah. Show all posts

Sunday, August 12, 2018

Amalan di Sepuluh Awal Dzulhijjah

Amalan di Sepuluh Awal Dzulhijjah
Di antara amalan yang dianjurkan pada bulan itu adalah ibadah haji bagi yang mampu melakukannya; shalat idul adha dan ibadah kurban bagi yang mampu.

Tidak hanya itu, pada sepuluh awal Dzulhijah juga dianjurkan memperbanyak ibadah sunnah semisal puasa dan zikir. Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar. Imam An-Nawawi menjelaskan:

واعلم أنه يستحب إكثار من الأذكار في هذا العشر زيادة على غيره ويستحب من ذلك في يوم عرفة أكثر من باقى العشر

Artinya, “Ketahuilah bahwa disunnahkan memperbanyak zikir pada sepuluh awal Dzulhijjah disbanding hari lainnya. Dan di antara sepuluh awal itu memperbanyak zikir pada hari Arafah sangat disunnahkan.”

Dalil anjuran memperbanyak zikir di sepuluh awal Dzulhijjah ini adalah:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Artinya, “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan…..” (Surat Al-An’am ayat ayat 28).

Sebagaimana dikutip Imam An-Nawawi, Ibnu Abbas, As-Syafi’i, dan jumhur ulama memahami bahwa kata ayyamam ma’lumat di sini adalah sepuluh pertama Dzulhijjah.

Selain itu, dalam hadits riwayat Ahmad disebutkan:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Artinya, “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya,” (HR Ahmad).

Berdasarkan penjelasan di atas, dianjurkan memperbanyak zikir pada sepuluh pertama Dzulhijjah. Memperbanyak zikir lebih diutamakan lagi pada hari Arafah, yaitu tanggal sembilan Dzulhijah, apalagi bagi jamaah haji. Di antara zikir yang diperbanyak adalah melafalkan tahlil, takbir, dan tahmid. Wallahu a’lam.

www.nu.or.id | Hengki Ferdiansyah

Thursday, August 9, 2018

Lebih Baik Baca Al-Qur’an dengan Suara Keras atau Pelan?

Lebih Baik Baca Al-Qur’an dengan Suara Keras atau Pelan?
Selain sebagai petunjuk manusia, membaca Al-Qur’an juga mendapatkan pahala dan keberkahan. Sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an, meskipun tidak memahami makna dan maksudnya. Karenanya, dalam hadits disebutkan:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya, “Siapa yang membaca satu huruf Al-Qur’an, maka dia mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan digandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan ‘alif lam mim’ satu huruf, tapi ‘alif’ satu huruf, ‘lam’ satu huruf, dan ‘mim’ satu huruf,” (HR Al-Tirmidzi).

Orang yang membaca Al-Qur’an diberi sepuluh kebaikan dalam setiap hurufnya. Ganjaran ini berlaku bagi siapa pun. Membacanya saja diberi sepuluh kebaikan dari setiap hurufnya, apalagi memahami, mendalami, dan mengamalkannya. Tentu pahalanya lebih besar lagi.

Di samping memperhatikan makhraj dan tajwid bacaan, volume suara juga perlu diperhatikan. Maksudnya, jangan sampai membaca Al-Qur’an dengan suara keras yang bukan pada tempatnya. Apalagi bila sampai menganggu orang lain.

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa memang ada banyak dalil yang menganjurkan baca Al-Qur’an dengan suara keras, tapi di sisi lain juga ada dalil yang menganjurkan baca Al-Qur’an dengan suara pelan. Ia mengatakan:

جاءت آثار بفضيلة رفع الصوت بالقراءة، وآثار بفضيلة الإسرار

Artinya, “Ada beberapa riwayat tentang keutamaan baca Al-Qur’an dengan suara keras, dan ada pula riwayat tentang keutamaan suara pelan.”

Lalu mana yang harus diamalkan? Imam An-Nawawi menjelaskan:

قال العلماء والجمع بينهما أن الإسرار أبعد من الرياء فهو أفضل في حق من يخاف ذلك، فإن لم يخف الرياء فالجهر أفضل بشرط أن لا يؤذي غيره من مصل أو نائم أو غيرهما

Artinya, “Ulama berkata, cara mengompromikan dua dalil tersebut adalah membaca Al-Qur’an dengan suara pelan bagi orang yang takut riya itu lebih utama. Sementara bagi orang yang tidak riya, maka mengeraskan suara saat baca Al-Qur’an lebih diutamakan dengan catatan tidak menganggu orang yang shalat, tidur, dan lain-lain.”

Dengan demikian, baca Al-Qur’an dengan suara pelan atau keras sebetulnya sama-sama baik selama diamalkan berdasarkan situasi dan kondisinya.

Kalau di hadapan orang ramai, lebih baik membaca Al-Qur’an dengan suara pelan agar tidak menganggu ketenangan orang lain, khususnya orang shalat atau sedang istirahat. Tapi bila sedang sendirian, lebih baik dengan suara yang cukup terdengar di telinga  (tidak terlalu keras) karena biasanya lebih fokus dan meningkatkan semangat. Wallahu a‘lam. 

www.nu.or.id | Hengki Ferdiansyah

Tuesday, August 7, 2018

Ada pada Tingkatan Mana Dzikirmu kepada Allah?

Ada pada Tingkatan Mana Dzikirmu kepada Allah?
Secara hakikat, tingkatan dzikir seorang dijelaskan dari hanya mengharapkan imbalan Allah hingga pada level fana’ dan baqa'.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor ini, tingkatan dzikir manusia pertama, dzikir makhluk pada makhluk.

Kiai Luqman menuturkan, orang ini ketika berdzikir merasa bisa dzikir dan tujuannya makhluk bukan Khaliq. Contoh biar laris dagangan, biar dapat surga, biar naik derajat dunia atau biar disebut ahli dzikir.

“Dzikir model ini tidak akan bertemu Sang Khaliq,” tegasnya dikutip redaksi, Sabtu (4/8) lewat twitternya.

Kedua, dzikir makhluk kepada Khaliq. Menurut Kiai Luqman, tingkatan dzikir orang ini merasa bisa berdzikir dengan tujuan  pada Sang Khaliq. Ia merasa bahwa dzikirnya telah sampai pada Sang Khaliq.

“Dzikir model ini juga tidak akan bertemu Sang Khaliq,” ungkap Direktur Sufi Center Jakarta ini.

Ketiga, dzikir khaliq kepada makhluk. Level ini berdzikir dengan menyadari bahwa dzikir seorang hamba akibat Allah mengingatnya. Karena ia tidak pernah merasa mampu berdzikir.

“Inilah tahap fana' dalam berdzikir. Allah yang menjadi Penyebab dia berdzikir. Bukan dia yang mampu berdzikir,” jelas Kiai Luqman.

Keempat, Allah Maha Berdzikir kepada Diri-Nya Sendiri. Kiai Luqman menerangkan, sang hamba ketika berdzikir hanyalah efek dari Dzikirnya Allah pada DiriNya. Ini merupakan tahap baqa' dalam berdzikir.

“Minimal kita ini berdzikir sebagai akibat dari Dzikir-Nya kepada kita hingga Dia-lah Yang Esa dalam dzikir,” ucap penulis buku Filosofi Dzikir ini.

Empat tingkatan tersebut menurut Kiai Luqman tidak perlu terlalu dipikirkan. Yang terpenting manusia harus selalu berdzikir sembari meningkatkan kesadaran dan keshalehan dzikir.

“Yang penting apa pun bacaan yang kita dzikirkan, hatimu tetap Allah, Allah, Allah. Dari Allah, menuju Allah, bersama Allah, dan hanya bagi Allah,” tandas Kiai Luqman. 

www.nu.or.id | Fathoni

Monday, August 6, 2018

Memahami Hadits Akhir Zaman

Memahami Hadits Akhir Zaman
Hadits akhir zaman termasuk tema yang cukup sering dibahas belakang ini. Ada beberapa media online dan ustadz kerap kali mengangkat topik hadits yang berkaitan dengan tanda kiamat atau akhir zaman.

Sebagian kelompok radikal menjadikan hadits-hadits itu untuk menguatkan dan menunjukkan kepada khalayak bahwa apa yang mereka lakukan itu dilegitimasi oleh hadits Nabi.

Perlu diketahui, tidak semua hadits akhir zaman itu benar atau shahih. Sebagian dari hadits tersebut ada juga yang lemah dan tidak bisa dijadikan pedoman. Kemudian, hadits akhir zaman sebagian besar hanya berupa informasi (khabar), bukan perintah yang harus diikuti ataupun larangan yang harus ditinggalkan.

Karena itu, Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan:

ليس كلُّ ما أخبر صلى الله عليه وآله وسلم بكونه من علامات الساعة يكون محرمًا أو مذمومًا؛ فإن تطاولَ الرعاء في البنيان وفُشُوَّ المال وكونَ خمسين امرأة لهنَّ قَيِّمٌ واحد: ليس بحرام بلا شك، وإنما هذه علاماتٌ، والعلامة لا يُشتَرَطُ فيها شيءٌ من ذلك، بل تكون بالخير والشر، والمباح والمحرم، والواجب وغيره

Artinya, “Setiap informasi dari Nabi tentang tanda-tanda kiamat tidak mesti itu haram dan tercela. Misalnya, meninggikan bangunan, banyak harta, dan situasi di mana perempuan lebih banyak dari laki-laki (50 perempuan dan laki-laki hanya satu), tidak diragukan lagi bahwa itu bukanlah keharaman. Ini hanya sebatas tanda. Tanda tidak mensyaratkan (berimplikasi pada) apa pun. Tanda bisa jadi baik dan bisa juga buruk, bisa boleh dan bisa juga haram, bahkan wajib.”

Tanda-tanda kiamat dalam pandangan Imam Nawawi hanya sebatas tanda dan tidak berimplikasi pada larangan. Karena belum tentu setiap tanda kiamat itu buruk atau haram. Misalnya, meninggikan bangunan, banyak harta, atau situasi di mana perempuan lebih banyak dari laki-laki, pada dasarnya boleh dan tidak haram.

Menghiasi masjid atau membuat masjid lebih bagus misalnya, sebagian orang melarang karena merujuk pada hadits akhir zaman. Salah satu hadits yang dirujuk adalah:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya, “Kiamat tidak akan terjadi hingga manusia bermegah-megahan dalam membangun masjid,” (HR Abu Dawud).

Dikarenakan membuat masjid megah atau bagus itu termasuk tanda kiamat, sebagian orang melarang dan mengharamkannya. Padahal sejak dulu, selain tempat ibadah, masjid juga menjadi simbol kemajuan peradaban Islam. Semakin bagus masjid menunjukkan semakin tingginya sebuah peradaban.

Karena itu, yang dikritik sebetulnya bukanlah membangun masjid megah, tapi substansi dari pembangunan masjid itu sendiri. Membuat masjid bagus-bagus, tapi jemaahnya kosong. Percuma masjid bagus, kalau tidak ada yang shalat di dalamnya. Inilah sebetulnya yang dikritik dalam hadits di atas, bukan semata-mata karena membangun masjid megah. Sebab dalam hadits lain disebutkan:

يَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يَتَبَاهَوْنَ بِالْمَسَاجِدِ وَلاَ يَعْمُرُونَهَا إِلَّا قَلِيلًا

Artinya, “Akan datang suatu masa di mana banyak orang yang membangun masjid megah dan orang yang memakmurkannya sangat sedikit,” (HR Ibnu Khuzaimah).

Sebab itu, menurut sebagian ulama, menghiasi masjid atau membangun masjid megah dibolehkan dalam Islam. Bahkan, itu bagian dari memakmurkan masjid dengan catatan tidak hanya fokus pada bentuk formal masjid, tapi juga memerhatikan substansinya.

Al-Munawi dalam Faidhul Qadir menjelaskan:

وما كل علامة على قرب الساعة تكون مذمومة، بل ذكر لها أمورًا ذمَّها كارتفاع الأمانة، وأمورًا حمدها كزخرفة المساجد، وأمورًا لا تُحْمَدُ ولا تُذَمُّ كنزول عيسى

Artinya, “Tidak semua tanda kiamat tercela. Ada tanda yang tercela semisal hilangnya amanah dan ada juga tanda yang bagus atau terpuji seperti menghiasi masjid. Ada pula tanda yang tidak dipuji dan tidak pula dicela semisal turunnya Nabi Isa.”

Dengan demikian, kalau menemukan hadits akhir zaman telitilah terlebih dahulu kualitas haditsnya. Andaikan hadits tersebut memang shahih, perhatikan makna dan penjelasan ulama terhadap hadits tersebut. Jangan sampai semua tanda kiamat dalam hadits Nabi itu dipukul rata haram, karena tidak semua tanda kiamat berimplikasi pada keharaman. Wallahu a‘lam. 

www.nu.or.id | Hengki Ferdiansyah

Sunday, August 5, 2018

Manuskrip Kuno Berisi Pengetahuan dan Sejarah Kejayaan Islam di Nusantara

Manuskrip Kuno Berisi Pengetahuan dan Sejarah Kejayaan Islam di Nusantara
Tapi siapa sangka jika di dalamnya terdapat berbagai macam pengetahuan, termasuk sejarah kejayaan dan perkembangan Islam di Nusantara. Salah satunya seperti yang tertuang di manuskrip Tuhfat At Thullab.

Manuskrip berukuran 20,5 x 15,5 cm ini merupakan karya Al Qadhi Zainuddin Abu Yahya Zakariya ibn Muhammad ibn Ahmad al Anshari al Sunaiki Al Mishri (823-926 H). Manuskrip ini diproduksi di atas kertas dari Eropa pada abad ke-17 Masehi.

Manuskrip yang memuat ilmu fiqih ini disebut menjadi salah satu kitab favorit di seluruh lembaga pendidikan tradisional di Nusantara. Manuskrip yang merupakan bagian dari 400-an naskah kuno koleksi Tarmizi ini tergolong spesial, karena ditulis dengan tinta warna merah dan hitam. Kondisi naskah telah direstorasi dan dalam keadaan baik. Di bagian akhir manuskrip ini tertulis silsilah Tarekat Syattariyah.

Ada juga manuskrip Ash Shirat Al Mustaqim karya Nuruddin Ar Raniry. Karya ini merupakan karya fenomenal, karena ditulis dalam waktu cukup lama yakni mencapai 9 tahun. Sementara, karya lain Nuruddin Ar Raniry yang dikoleksi Tarmizi adalah Akhbar al Akhirah. Kitab ini ditulis pada tahun 1052 H (1642 M).

Naskah Akhbarul Akhirah merupakan salah satu karya perdana Nuruddin di awal periode Sultanah Tajul Alam Shafiyatuddin Syah (1641-1675 M). Teksnya ditulis menggunakan tinta hitam yang terbuat khusus dari rendaman biji besi yang dipanaskan sehingga tulisan huruf Arab Jawi-nya masih terlihat jelas dan bertahan hingga kini.

Kitab tersebut menceritakan eksistensi keberadaan alam. Diawali dengan penciptaan Nur Muhammad, penciptaan Adam, hingga mengungkapkan alam kematian yang berkaitan dengan sakaratul maut.

Karya-karya lain Nuruddin ar-Raniry yang diburu oleh negara Malaysia, Jerman dan Inggris adalah manuskrip Bustan as-Salatin fi Zikr al-Awwalin wal Akhirin (Bustan as-Salatin) dan Durar al Aqaid.

Kitab Bustan as Salatin disusun pada abad ke-16, tepatnya pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) sampai masa Sultan Iskandar Tsani (1636-1641). Kitab ini memberikan gambaran tentang Aceh dan kerajaannya pada abad ke-16 dan ke-17.

Pada masa tersebut, kitab ini merupakan kitab paling lengkap yang menceritakan kisah raja-raja Melayu secara universal. Khususnya terkait Kerajaan Aceh Darussalam, termasuk berisi rekam jejak perjalanan Istana Kerajaan Aceh dan struktural kenegaraannya.

Nuruddin ar-Raniry (adalah) seorang ulama dan negarawan yang telah berhasil memberikan sumbangsih sejarah melalui kitab Bustan as-Salatin pada saat pengabdiannya di Aceh.

Sedangkan Durar al Aqaid merupakah satu-satunya manuskrip kuno yang baru ditemukan sampai saat ini. Di dalamnya dibahas “sifat-sifat 20” pada Allah SWT. Dalam kolofon teks naskah kitab ini, diperoleh informasi bahwa kitab ditulis pada tahun 2 Jumadil Awal 1079 Hijriah (Ahad, 8 Oktober 1668 M), yang bila dirunut dalam penanggalan, maka tahun tersebut adalah di periode Sultanah Safiyatuddin Tajul Alam yang memerintah tahun 1641-1675 Masehi.

Naskah ini juga telah direstorasi dan ditutupi dengan kertas washi dari Jepang agar tetap terjaga. Menurutnya, kitab Bustan as-Salatin ini diselesaikan dalam waktu yang cukup lama. Meski tidak dapat dipastikan tahun berapa kitab ini mulai ditulis, namun perkiraan peredarannya berada pada tahun 1640 Masehi (1050 H).

Kitab Bustanus as-Salatin menjadi salah satu bacaan orang yang berada di kediaman Kerajaan Aceh. Secara psikologis, kitab ini memiliki nilai historis yang tinggi dan menjadi rujukan para sejarawan dan riset dalam melakukan berbagai kajian, dari dulu hingga kini.

Manuskrip lainnya adalah Dalail al Khairat. Manuskrip yang diproduksi di atas kertas buatan Eropa abad ke-17 Masehi ini dikarang oleh Imam Abu Abdillah al Jami’ Sayyid Muhammad ibn Sulaiman ibn Abi Bakr Al Jazuli (w.870 H / 1465 M).

Yang menarik, jika diterawang, pada bagian dalam kertas kitab ini terdapat semacam watermark (tanda air) yang menjadi kode penerbit saat itu.

Teks dan naskah Dalail al Khairat hingga saat ini masih eksis dibaca dan didendangkan oleh masyarakat Aceh, terutama pada acara-acara seremonial seperti Maulid Nabi Muhammad SAW.

Manuskrip berukuran tebal ini ditulis dengan tinta warna hitam, dipadukan dengan warna merah pada bagian rubrikasinya. Untuk membatasi teks dalam naskah, kitab ini juga ditandai dengan garis pinggir yang berbentuk persegi. Garis ditarik menggunakan tinta berwarna merah. Sedangkan di halaman tengah naskah juga tergambar mimbar Masjid Nabawi dan letak makam Nabi Muhammad SAW bersama dua sahabatnya. Kitab ini dipenuhi dengan pujian-pujian kepada penghulu nabi, doa-doa, serta kisah kehidupan para nabi.

Selain guratan-guratan tinta yang mengisahkan para nabi, ada juga kitab al Fiqh. Manuskrip ini memuat berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia sepanjang zaman.

Al Fiqh merupakan kitab paling populer dan masih digunakan oleh kalangan muslim di Indonesia. Kitab ini diproduksi di atas kertas buatan Eropa pada tahun 1806 Masehi, meski tak diketahui pasti tahun penerbitan dan penulisnya. Kitab ini memuat pengalaman keseharian masyarakat dengan dalil dan hukum-hukum syariat Islam.

Ruang lingkup fiqih pada naskah kitab ini dimulai dengan bab tentang pernikahan. Kitab ini juga membahas ruang lingkup fiqih muamalah, yang mencakup segala aspek kehidupan manusia. Dengan kata lain, bahasannya mulai dari aspek sosial, ekonomi, politik, hukum dan lain sebagainya, yang meliputi kegiatan muamalah berdasarkan hukum-hukum Islam.

Pendek kata, naskah ini merupakan bagian penting untuk pengembangan pemikiran intelektual Muslim di Aceh dan Tanah Air.

Selanjutnya, ada juga kitab Mir’at Ath Thullab. Kitab karya Syekh Abdurrauf al Jawi al Fansuri ini dikarang pada tahun 1663 Masehi. Kitab ini merupakan kitab yang diproduksi atas permintaan Sultanah, untuk menjawab persoalan keagamaan terutama di bidang fiqih pada masyarakat yang heterogen dan kontemporer.

Di pembukaan naskah (oxorodium) disebutkan bahwa Abdurrauf menerima permintaan Sultanah untuk mengarang sebuah kitab yang dapat dijadikan referensi Kesultanan Aceh dan segala wilayah di sekitarnya. Mir’at Ath Thullab memuat beberapa tema seperti persoalan qadhi, riba, khiyar, buah-buahan, iqradh, iyaul maut(pemanfaatan lahan tidur), wakaf, dan lain sebagainya.

Karya lain yang paling ternama serta dicari oleh kolektor manuskrip adalah kitab Taudhih. Kitab ini berisikan tentang tata bahasa (nahwu) yang dikarang oleh Khalid ibn Abdullah ibn Abi Bakr Al Azhari (w905 H/1500 M).

Kitab ini merupakan juga ringkasan dari kitab Alifah Syarh al-Masalik karya Ibnu Hisyam (w.761 H/ 1359 M). Manuskrip ini berisikan kumpulan karangan yang memiliki tema yang sama di bidang nahwu dan membahas tentang tata Bahasa dan menjadi salah satu rujukan utama para santri dalam mempelajari kaidah-kaidah bahasa Arab.

Itulah beberapa kitab kuno dan manuskrip peninggalan para ulama dan intelektual Nusantara pada masa awal perkembangan Islam di Tanah Air yang hingga sekarang masih tersimpan sebagai koleksi seorang warga Pidie, Aceh bernama Tarmizi.

islamindonesia.id

Thursday, August 2, 2018

200 Pengasuh Pesantren se-Indonesia Ikrar Jaga NKRI dan Pancasila

200 Pengasuh Pesantren se-Indonesia Ikrar Jaga NKRI dan Pancasila
Sebanyak 200 pendidik dari berbagai pondok pesantren membentuk organisai Perhimpunan Pengasuh Pesantren Indonesia disingkat (P2I).

Dibentuknya organisasi ini bertujuan untuk membangun kualitas pendidikan pesantren.

"Agar memiliki daya saing kuat dan setara dengan satuan pendidikan lainnya di tingkat nasional. Serta dapat menciptakan sumber daya manusia yang unggul, terampil, berakhlak mulia dan berkhidmat untuk kesejahteraan bangsa," ujar Ketua P21 HM Tata kepada Liputan6.com, Sabtu, 6 Januari 2018.

Tata mengatakan gerakan ini bermunculan atas aspirasi pengasuh pesantren sehingga dapat bergerak secara nasional dan internasional.

"Bagaimana kami bisa menghimpun para pengasuh pesantren di Indonesia, untuk menampung aspirasi pemikiran dan membahas berbagai persoalan yang muncul baik secara nasional maupun internasional, maka diperlukan adanya organisasi tersebut," ungkap Tata.

Pengasuh Pesantren (P2I) adalah organisasi yang didirikan oleh para praktisi pesantren yang terlibat langsung sebagai pengasuh pondok pesantren.

Dalam perkumpulan beberapa pimpinan pesantren pada 24 Oktober 2015 di PP Nurul Bayan Lombok Utara, mulai bergulir perlunya perhimpunan yang menyatukan para pengasuh pondok pesantren. Ide pembentukan perhimpunan ini muncul dalam diskusi beberapa pimpinan pesantren di Indonesia.

Sebagai tindak lanjut ide tersebut pada pertemuan beberapa pengasuh pesantren tanggal 28 November 2015 bertempat di PP Darunnajah Jakarta dan ditindaklanjuti dengan rapat pada tanggal 4 Maret 2016 di Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash didirikanlah Organisasi Pengasuh Pesantren Indonesia dengan nama Pengasuh Pesantren Indonesia disingkat P2I.

Tata Juga menambahkan, bahwa Perhimpunan ini rencananya akan diresmikan pada Minggu 7 Januari 2018 di Pondok Pesantren Darunnajah Ulujami, Jakarta.

"Insyaallah akan hadir Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua MUI Kyai Ma'ruf Amin, Kyai Hasan Abdullah Sahal dan 200 Pimpinan Pesantren Se - Indonesia," tutup Tata. 

Friday, July 27, 2018

Soal Islam Nusantara, Kiai Ishom: MUI Sumbar Menggambarkan Sendiri, Melarang Sendiri

Soal Islam Nusantara, Kiai Ishom: MUI Sumbar Menggambarkan Sendiri, Melarang Sendiri
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin mengatakan, pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat yang menolak konsep Islam Nusantara merupakan pandangan dan penggambaran yang tidak disertai proses tabayun dan bertanya.

Menurut kiai muda kelahiran Lampung ini, Islam Nusantara yang dimaksud Nahdlatul Ulama bukan seperti yang digambarkan sendiri oleh MUI Sumatera Barat. “Lalu dilarangnya sendiri,” ujar Kiai Ishomuddin saat dikonfirmasi NU Online, Jumat (27/7).

Dosen UIN Raden Intan Lampung ini tidak memungkiri, MUI Sumbar bukan satu-satunya orang dan kelompok yang tidak menyetujui konsep Islam Nusantara namun tidak berusaha mencari tahu dan bertanya agar paham.

Ia menegaskan, betapa banyak sesuatu yang benar disalahkan karena yang menyalahkan tidak paham atau tidak berusaha memahami dengan bertabayun.

“Contoh, MUI Sumatera Barat menyalahkan ide Islam Nusantara karena bingung dan salah paham, tetapi enggan bertanya,” tegas Kiai Ishom.

Dia menjelaskan, konsep Islam Nusantara tidak hanya sesuai dengan karakteristik Islam di Indonesia dan Asia Tenggara, tetapi konsep ini juga diterima oleh tokoh-tokoh ulama internasional.

“Konsep Islam Nusantara yang digulirkan oleh NU ternyata disambut baik, disetujui dan siap diterapkan oleh ulama moderat dari seluruh penjuru dunia Muslim yang aktif dalam International Summit of The Moderate Islamic Leadership di Jakarta pada 9-11 Mei 2016 lalu,” ungkap Kiai Ishom.

Keberhasilan NU merawat keharmonisan beragama dan wawasan kebangsaan lewat konsep Islam Nusantara ini terbukti ketika ulama-ulama di Afghanistan membentuk Nahdlatul Ulama di negerinya. Mereka berulang kali melakukan studi banding dan kunjungan ke PBNU dalam upaya tersebut.

PBNU sendiri tidak terlalu memaksakan sistem seperti apa yang harus dijalankan organisasi NU di Afghanistan. Karena hal ini bisa disesuaikan dengan kondisi Islam di sana.

Namun, konsep Islam yang mampu berdampingan dengan budaya lokal, wawasan kebangsaan, dan praktik bernegara seperti NU-lah yang terus berupaya dilakukan oleh ulama-ulama Afghanistan.

Hingga saat ini, berdirinya NU di Afghanistan diakui oleh masyarakat di sana mampu menciptakan perdamaian dan menekan aksi-aksi kekerasan. Bahkan, para menteri negara berduyun-duyun menjadi pengurus NU.

Dalam hal ini, Kiai Ishom berharap agar umat Islam Indonesia, terutama para tokohnya, tidak tergesa-gesa menolak konsep Islam Nusantara yang tidak lain adalah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah.

“Karena konsep tersebut mencita-citakan terwujudnya Islam rahmatan lil-'ālamīn melalui prinsip-prinsip keadilan, moderasi, toleransi, dan keseimbangan sebagaimana yang selalu diperjuangkan oleh para pendiri dan para kiai NU sepanjang hayatnya,” urainya.

Islam Nusantara, tegasnya, mengupayakan terwujudnya ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin. “Justru Islam Nusantara lahir karena watak Islam sendiri yang rahmatan lil 'alamin,” tukas Kiai Ishom. 

www.nu.or.id | Fathoni

Wednesday, July 25, 2018

Dua Syarat Hindari Konflik Politik Berbau Agama

Dua Syarat Hindari Konflik Politik Berbau Agama
Agama seringkali disalahgunakan untuk meraih kekuasaan dalam percaturan politik praktis. Dampak nyata dari penyalahgunaan agama dalam kampanye politik ialah konflik horisontal dan perpecahan bangsa.

Terkait hal itu, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin menjelaskan, konflik politik berbau agama bisa dihindari apabila dua syarat terpenuhi, yaitu seseorang berusaha mengerti agama dan paham wawasan kebangsaan.

Penjelaskan tersebut disampaikan Kiai Ishom saat mengisi materi dalam Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) II yang digelar Lakpesdam PBNU, Selasa (24/7) di Pesantren Asshiddiqiyah Kedoya, Jakarta Barat.

“Di negara ini mau shalat sampai jidat hitam, bebas. Kalau politik kita bisa seperti itu, kita bebas dari konflik. Ada dua syarat, yaitu ngerti agama dan wawasan kebangsaan,” ujar Kiai Ishom.

Kiai muda kelahiran Lampung ini menukil Syekh Zakiya Malik yang mengatakan bahwa orang berilmu itu apabila ilmunya luas, maka dia menjadi manusia bijaksana dan sedikit mengingkari orang yang berbeda dengannya.

“Di tangan orang yang tidak bijak, persoalan khilafiyah jadi membesar,” jelasnya.

Dosen UIN Raden Intan Lampung ini menegaskan, kalau dua hal yaitu mengerti agama dan paham wawasan kebangsaan, insyaallah akan menjadi siyasah thoyyibah.

“Bukan politik yang penuh dengan kampanye-kampanye hitam,” tutur Kiai Ishom. 

www.nu.or.id | Fathoni

TGB Zainul Majdi Bongkar Ciri Khas Khawarij di Indonesia

TGB Zainul Majdi Bongkar Ciri Khas Khawarij di Indonesia
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zainul Majdi mengatakan, Khawarij adalah salah satu kelompok dalam Islam yang selalu menggap diri atau kelompok mereka selalu benar.

Menurut TGB Zainul Majdi, hanya kelompok atau pandangan anggota kelompok itu yang tidak pernah keliru. 

Kelompok lain, kata TGB Zainul Majdi, yang tidak sepaham dengan kelompok Khawarij bukan hanya dianggap salah bahkan dianggap kafir.

"Dulu ketika ada satu kelompok yang selalu anggap selalu benar. Sendirian benar. Yang berbeda itu salah bahkan kufur," ujar TGB Zainul Majdi dalam sebuah video yang dibagikan melalui akun official instagramnya, @tgb.id.

TGB Zainul Majdi pun kemudian menunjukkan ciri yang sangat khas dari kelompok ini baik yang ada di Indonesia maupun di negara-negara lain, yang maunya menang sendiri. Ia kembali mengaitkan ciri kelompok ini dengan ayat-ayat dalam perang.

Kelompok Khawarij sering kali mengambil ayat-ayat Kitab Suci Al Quran demi kepentingan sendiri dan tidak sesuai dengan konteks ketika ayat tersebut diturunkan. 

"Nah, Khawarij ini salah satu ciri khasnya adalah mengambil ayat-ayat yang sebenarnya diarahkan untuk kafir Quraisy dalam situasi perang, lalu menerapkannya kepada umat Islam yang lain," katanya. 

TGB Zainul Majdi menambahkan, "Jadi mereka ambil, mereka cabut ayat dari konteksnya. untuk menjustifikasi kepentingan mereka."

"Nah ini salah satu karakteristik utama kaum khawarij yang dijelaskan oleh para ulama," kata pendukung Presiden Joko Widodo alias Jokowi ini. 

Ingin tahu lebih lengkap, simak video dan status TGB Muhammad Zainul Majdi berikut ini.

@tgb.idDalam sejarah Islam ada kelompok-kelompok Islam yang berbeda pandangan dengan kelompok lain.

Apakah teman-teman TGB Untuk Indonesia pernah dengar kelompok Khawarij?

Seperti apa penjelasannya? Yuk, simak ulasan Tuan Guru Bajang (TGB). _

Sumber video, @medcomid

Video TGB Zainul Majdi ini kemudian menuai komentar sejumlah netizen (warganet).

@imambukhariiTidak perlu terlalu sibuk dengan pendapat orang lain. Sehinggi dakwahnya terus mengenai itu. Tidak perlu meNuhankan pendapat orang lain tentang kita. Karena Alloh-lah Maha Pembolak-balik hati. Kalau memang kita baik, Alloh pasti tunjukan kebenaran, tapi kalau kita tidak baik.

@imambukharii"Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi)

@basiit04Sekarang ini ada kaum neo khawarij dan mu'tazilah ..nauzubillah

@bule.215Perbuatan dan ucapan jg hrs selaras pak. G boleh berbohong.biasa dlm politik itu dagang tawar menawar jabatan dan kepentingan.. Apakan ini boleh dalam islam?bukankah islam itu tegak lurus di atas alquran dan sunnah. Dilarang berdusta walaupun sepatah kata.

http://wartakota.tribunnews.com

Tuesday, July 24, 2018

Mahfud MD Tentang Islam Nusantara

Mahfud MD Tentang Islam Nusantara
Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013, Mahfud MD menegaskan Islam Nusantara artinya mengidonesiakan Islam, adalah membawa Islam ke dalam realitas-realitas yang ada di Indonesia, bukan memaksa orang lain atau suatu bangsa untuk masuk Islam.

"Kalau meminjam istilah Gus Dur adalah 'membumikan' Islam," ujar Mahfud pada Halaqah Kebangsaan Pengasuh Pondok Pesantren, Selasa (24/7) di Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.

Pada kegiatan bertema Pancasila dalam Perspektif Islam Nusantara, ia mengatakan Nabi Muhammad saja tidak pernah memaksa siapa pun untuk masuk ke dalam Islam. "Tetapi Nabi hadir untuk mengabarkan dan menawarkan agama yang hanif (lurus)," katanya.

Lebih lanjut Mahfud menjelaskan, setiap bangsa dan zaman memiliki sistem negaranya sendiri. Sistem yang bermacam-macam ini adalah produk ijtihad pada masanya. "Dari zaman Nabi, sahabat dan sampai sekarang, tidak ada namanya sistem pemerintahan Islam yang baku. Seiring zaman, selalu berubah-ubah," paparnya.

Selain itu, tujuan negara adalah untuk membangun keadilan sosial. Sehingga, setiap tindakan yang ingin mengubah atau memberontak kesepakatan sebuah bangsa dianggap radikal dan berbahaya bagi keutuhan suatu negara.

Indonesia dan Pancasila sebagai dasar negara merupakan gagasan yang dihasilkan oleh kesepakatan para pendiri melalui proses yang panjang dengan begitu banyak pengorbanan. "Dan kesepakatan ini tidak boleh dihianati oleh paham apa pun, termasuk khilafah," tegasnya.

Halaqah digelar oleh Lembaga Permusyawaratan Pengasuh  Pesantren se-Indonesia (LP3I) bekerjasama dengan Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen. Halaqah juga menghadirkan nara sumber yaitu KH Ubaidillah Shodaqoh (Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah), Muhibbin Noor (Rektor UIN Walisongo Semarang), Abdul Hadi Mutohar (Guru Besar UIN Walisongo dan Pengasuh Pesantren Darul Ma'wa Mranggen), serta dan KH Ahmad Badawi Basir (Sekretaris LP3I). 

www.nu.or.id | Muhammad Khozin - Kendi Setiawan

Friday, July 20, 2018

Nadirsyah Hosen : Hati-hati Fenomena Ustadz Dadakan

Fenomena Ustadz Dadakan
Fenomena gagal paham hakikat ustadz atau ahli agama terlihat gencar belakangan ini. Asal memakai jubah atau hijrah dan bisa ndalil di depan publik disebutlah ustadz.

Rois Syuriah PCI NU Autsralia Nadirsyah Hosen mengkritik fenomena gagal paham tersebut.


"Asal lantang mengkritik pemerintah plus kasih 1-2 ayat, langsung jadi ustadz. Mantan artis hijrah, ubah penampilan, ilmu belum mumpuni tapi sudah laris jadi penceramah,” kata Gus Nadir melalui akun Twitternya, Rabu (06/06/2018).


Menurut Gus Nadir, seorang ustadz atau ahli agama memiliki tanggungjawab dunia akhirat. Sebaliknya, bukan sekadar urusan uang atau mencari ketenaran. Gus Nadir kemudian meminta agar urusan dakwah diserahkan kepada ahlinya.


“Serahkan pada ahlinya. Urusan dakwah ini bukan mengejar recehan dan nyari panggung. Tanggungjawab dunia-akherat,” katanya.


Hati-hati, jangan mudah percaya sama ustads jadi-jadian!


www.dutaislam.com

Thursday, July 19, 2018

Cerita Kiai Said Tentang Maulid Yang Kerap Dianggap Bid'ah

Cerita Kiai Said Tentang Maulid Yang Kerap Dianggap Bid'ah
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengungkapkan, hingga kini dirinya masih kerap kali dinilai ahli bid'ah, lantaran sering menyinggung terkait Maulid Nabi Muhammad SAW.

Seseorang atau kelompok yang menganggap Maulid Nabi Muhammad adalah bid'ah, menurutnya mereka tidak paham sejarah, atau bahkan tidak pernah membaca sejarah.

Kiai Said bercerita, pada zaman Rasulullah SAW ada suatu keadaan di mana ratusan sahabat berlomba-lomba memuji Rasulullah dengan membuat syair-syair yang begitu indah. Hal itu berlangsung tanpa perintah Rasulullah sebelumnya.

"Rasulullah tidak pernah memerintahkan sahabatnya supaya dipuji dengan syair-syairnya," ungkapnya saat menghadiri puncak peringatan Haflah Kubro Madrasah dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur pekan ini.

Syair-syair tersebut lambat laun kemudian diketahui Nabi Muhammad. "Tapi apakah Rasulullah melarangnya saat itu?," jelas Kiai Said sembari bertanya.

Dalam sejarahnya, imbuh Kiai Said, Rasulullah tidak melarang saat mengetahui terkait sejumlah syair yang dibuat para sahabatnya untuk memuji dirinya itu.

"Tapi saat sahabat memuji dirinya, Nabi Muhammad tidak melarang, bahkan membenarkan. Perintah tidak, melarang tidak, tapi membenarkan," tuturnya.

Menurut Kiai Said sejarah yang demikian itu sudah sangat cukup menjadi dalil bantahan terkait seseorang yang menganggap Maulid Nabi adalah bid'ah.

Dari sejarah tersebut, paparnya, dapat dikatakan bahwa Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan bagian dari sunnah taqririyah. 

www.nu.or.id | Syamsul Arifin - Muiz

Monday, July 16, 2018

Antara Bekas Sujud dan Bekas Karpet

Antara Bekas Sujud dan Bekas Karpet
Banyak kisah di balik kemuliaan seseorang yang meninggal dalam keadaan sujud. Banyak juga dari seorang hamba yang menginginkan akhir hayatnya dalam posisi sujud, menyembah dan mengagungkan Allah SWT.

Mengakhiri hayat dalam keadaan sujud kepada Allah merupakan salah satu wujud husnul khotimah. Biasanya orang-orang yang demikian ialah orang yang mengisi hidupnya dengan akhlak mulia, selain keikhlasan dalam beramal dan beribadah.

Berbicara tentang orang-orang mulia, tentu Nabi Muhammad SAW merupakan manusia yang paling mulia di sisi Allah, selain manusia sempurna karena dia merupakan satu-satunya manusia yang pernah bertemu dan berhadapan langsung dengan Allah SWT, Sang Penguasa Alam Semesta.

Kemuliaan tersebut berusaha Rasulullah hadirkan kepada segenap sahabat dan umatnya. Para sahabat Rasulullah merupakan orang-orang terdekat yang mendapatkan pancaran kemuliaan berupa nur (cahaya) Allah yang didapat Nabi Muhammad ketika melakukan Isra’ Mi’raj.

Dijelaskan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan dalam bukunya Secercah Tinta (2012), setelah Nabi Muhammad turun dari langit dan bertemu dengan para sahabat, orang yang mendapat barakah nur nazhar ilaa wajhil karim ialah mereka para sahabat.

Dengan dasar ini, para sahabat mendapat dua nur. Pertama, nur atsar min an-nazhar ila wajhil karim. Kedua, mendapatkan nur Rasulullah SAW sendiri setiap hari. Karena mereka duduk, ruku’, sujud, dan sebagainya bersama-sama dengan Rasulullah tiap harinya.

Allah SWT menyatakan dalam Firman-Nya:

سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ 

“...Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud...” (QS Al-Fath: 29)

Ayat di atas menjelaskan kemuliaan para sahabat Nabi SAW yang mendapat nur Allah sekaligus nur Rasulullah. Kemuliaan itu tampak pada muka mereka yang ikut bercahaya. Muka bercahaya itulah bekas sujud mereka. Bukan semata bekas sujud dalam artian tanda atau simbol di jidat.

Habib Luthfi dalam buku yang sama menyebutkan, yatala’la’u nuruhum min atsaris sujud, muka mereka (para sahabat) semakin bercahaya karena sujud mereka kepada Allah. Bukan karena jidat terus menempel pada tempat sujud.

Allah SWT memberikan nuruhum min atsaris sujud karena sikap tawadhu’ para sahabat, akhlak mulianya, tauhidnya, keyakinannya, ma’rifatnya, dan dari sujudnya. Bukan min atsaril karpet, bukan bekas karpet. Wallahu’alam bisshawab. 

www.nu.or.id | Fathoni