Showing posts with label AlaNu. Show all posts
Showing posts with label AlaNu. Show all posts

Sunday, March 4, 2018

Hari Ini, Peserta Muktamar Jatman Lakukan Registrasi

Pekalongan, Persatuan Habib Jawa Timur. Meski perhelatan Muktamar XII Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (Jatman) baru akan berlangsung Senin (15/1), akan tetapi peserta dari berbagai daerah sudah mulai berdatangan. Mereka hadir dengan menggunakan kendaraan pribadi, kereta api maupun pesawat melalui Bandara Ahmad Yani Semarang.

Koordinator penerima tamu muktamar, H. Ahmad Tubagus Surur kapada Persatuan Habib Jawa Timur mengatakan, hingga Sabtu malam sudah ada 25 persen delegasi baik dari Jawa maupun luar Jawa tiba di Kota Batik Pekalongan.




Hari Ini, Peserta Muktamar Jatman Lakukan Registrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini, Peserta Muktamar Jatman Lakukan Registrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini, Peserta Muktamar Jatman Lakukan Registrasi

Dikatakan, delegasi muktamar yang telah hadir langsung ditempatkan di pemondokan pemondokan yang tersedia. Pelayanan registrasi baru dilaksanakan hari ini di Kanzus Sholawat untuk peserta luar Jawa, dan di Carrefour Mall untuk peserta asal Jawa.

"Pembagian registrasi semata-mata untuk mempermudah pelayanan peserta yang tahun ini diperkirakan sampai 10 ribu peserta dan peninjau," ujar Tabugus Surur, Ahad (14/1).

Kiai Muhammadun, salah seorang peserta asal Propinsi Banten mengaku merasa terkesan dengan kesigapan dan pelayanan panitia untuk melayani tamu yang datang melalui jalur ketera api. "Saya sangat senang dengan pelayanan panitia, di mana di stasiun Pekalongan disediakan posko muktamar dan peserta langsung diantar ke sekretariat dan pemondokan," ujarnya.

Persatuan Habib Jawa Timur

Agenda pra muktamar XII Jatman hari ini adalah registrasi peserta dari pagi hingga malam. Sementara di Kabupaten Pekalongan ada pawai merah putih dengan hiburan drumband Akpol Semarang. Selanjutnya malam harinya ada taaruf peserta yang sudah hadir dan istighotsah kubro bertempat di Masjid Al Jami Kauman Pekalongan.

Sementara itu, beberapa Menteri Kabinet Kerja yang sudah konfirmasi hadir untuk mengisi ceramah adalah Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menkopolhukam. Selanjutnya juga hadir Menkumham, Kapolri dan Panglima TNI.

Sekretaris Panitia Muktamar KH Mohammad Masroni berharap peserta yang hadir dapat mematuhi petunjuk dengan tidak membawa peserta yang melebihi kuota. Pasalnya, hingga H-2 sudah ada beberapa daerah yang konfirmasi akan hadir dengan rombonngan besar. (Muiz/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Persatuan Habib Jawa Timur

Persatuan Habib Jawa Timur Santri, AlaNu Persatuan Habib Jawa Timur

Friday, February 23, 2018

Cara Ulama Mendamaikan Bangsa

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw. Kehidupan damai, rukun, guyub, saling membantu di masyarakat tingkat bawah antara yang anti PKI dan yang PKI sudah berjalan nyaris tanpa kikuk. Sebab, dendam di masyarakat tidak parah, mereka tidak paham politik.

Selain itu, mereka saling tahu kehidupannya sehar-hari, karena bertetangga.

Demikian disampaikan Rais Syuriyah PBNU KH Saifuddin Amsir pada Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw, Rabu (3/9), di ujung telepon. Menurutnya, "Tingkat masyarakat bawah relatif tidak bermasalah, mereka tidak banyak tahu politik."




Cara Ulama Mendamaikan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Ulama Mendamaikan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Ulama Mendamaikan Bangsa

Lalu Kiai Saifuddin bercerita bahwa jamaah pengajiannya tahun 80an sampai 90an banyak bekas anggota PKI. "Ngaji mereka. Ngurus mesjid mereka. Habis ngaji, namanya orang Betawi, ya makan bareng, ngobrol gayeng," ujar Kiai Saifuddin.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Menurut pengakuannya, ketika orang luar menyerbu PKI yang ada di kampungnya, dengan alasan kemanusiaan, warga kampung membendungnya. Kampung kiai yang sehari-hari padat dengan mengisi pengajian ini adalah Kebon Manggis-Matraman, sebelah Berlan, masuk wilayah Jakarta Timur. Di kampung itulah dirinya dilahirkan, pada tanggal 31 Januari 1955.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

"Saya masih ingat, ibu-ibu di kampung saya, ketika ada penyerbuan berteriak-teriak, jangan dilempari itu, jangan dilembari itu. Itu orang baik, itu orang baik. Terbendung juga itu orang-orang, tidak nerusin nyerbu. Terbendung oleh suara ibu-ibu. Ini suara kemanusiaan."

"Saya mau cerita lagi. Tetagga saya orang PKI, namanya Bebas Pati Mulya, aslinya Medan, agamanya Kristen, punya anak nakal ndak ketulungan. Duit orang tuanya dicuri, pulang malam. Pokoknya nakal sekali. Itu Pak Bebas ngundang kami, untuk tahlilan dan mendoakan agar anak itu jadi bener. Dan namanya diganti tuh,? jadi Muhammad Soleh. Ya kami datang."

"Yang ingin saya katakan adalah, secara kemanusiaan tanpa diminta pun para warga sudah saling memaafkan. Banyak hal yang kami lakukan. Itu upaya warga melakukan rekonsiliasi. Itu perintah agama."

Namun, Kiai Saifuddin Amsir menyatakan dengan tegas bahwa Partai Komunis Indonesia tidak bisa dimaafkan secara politik. "Sudah betul itu PKI ditumpas. Jangan sampai hidup lagi. Trauma kita. Untuk perdamaian bangsa, ubah saja pikiran, bangun satu sikap baru. Pandang ke depan, jangan ada sejarah macam begitu. Kalau saling memaafkan, jangan. Jangan sampai ada. PKI itu terjepit saja bisa berkelit, apalagi diberi jalan."

Saifuddin masih ingat, betapa pahitnya omongan Aidit yang bilang ulama itu tanpa kerjaan, kitabnya yang banyak, yang bisa buat bendung kali Ciliwung tidak berguna, Indonesia tak butuh ulama.

"Siapa yang ndak sewot dihina-hina begitu? Lha? Jangankan kite orang pesantren, kan? Mochtar Lubis saja dongkol saat Pram dianugerahi penghargaan Ramon Magsaysay tahun 1995. Mochtar kan sempat mau banting penghargaan yang sama yang lebih awal diterimanya.? Tidak main-main PKI. Mereka punya semboyan rawe-rawe rantas malang-malang putung," ujarnya.?

Bisa dipahami jika Saifuddin tidak rido pada PKI. Bagaimana tidak, partai berlambang palu-arit itu menghina para ulama yang mendidikan dirinya sedari kecil. Ia sangat dekat dan mencintai para gurunya yang antara lain Muallim Abdullah Syafi’i, Muallim Syafi’i Hadzami, Habib Abdullah bin Husein Syami Al-Attas, dan Guru Hasan Murtoha. Dan bapaknya, Amsir Naiman, sendiri adalah guru ngaji di Kebon Manggis.

Saifuddin kecil menyaksikan bahwa PKI mengancam orang-orang Islam di Jakarta secara terbuka, bahkan dia melihat sumur-sumur sudah dipersiapkan di sanggar Lekra yang ada di kampungnya.

"Kampung saya kecil, tapi itu sanggar terbesar Lekra di Jakarta dipimpin langsung Profesor Bakri Siregar. Di sanggar mereka memang membuat sumur. Saya melihat sendiri. Anak-anak muda dari pelbagai kampung dilatih secara militer."

Saifuddin mengenang, anak-anak muda, khususnya perempuan, dilatih sebisa mungkin untuk menari. Pelatihnya dari Ansor. Lagunya berjudul "Mencuci Pakaian" yang diciptakan oleh bapaknya: Amsir Naiman. Makna lagu tersebut adalah orang harus mencuci dirinya dari kotan-kotoran yang disebarkan orang-orang PKI.?

Menari merupakan kegiatan yang jauh dari kehidupan sehari-hari warga Kebon Manggis, yang biasanya hanya mengaji. Tapi mereka melakukannya agar bisa melawan tarian dan nyanyian seniman Lekra yang punya kekuatan Prof Bakri Siregar, yang seniman betulan.

Saifuddin bangga anak-anak kampungnya yang bukan seniman bisa melawan Lekra yang seniman. Dia juga senang Orde Baru mampu menyabet PKI secara tuntas. Tapi dia menyayangkan, sabetan Soeharto mengenai banyak sembarang orang.?

Lulusan IAIN Ciputat jurusan Akidah dan Filsafat itu memberi catatan, "Anak PKI yang tidak mengerti PKI mendapatkan hukuman berat juga. Orang-orang yang cuma ikut-ikutan kena juga. Kasihan mereka. Pak Harto tidak cermat. Pak Harto pakai juga tuh semboyan PKI rawe-rawe rantas malang-malang putung."

Cara Ulama

Wakil Ketua Pengurus Wilayah NU Daerah Istimewa Yogyakarta M. Jadul Maula menyatakan bahwa perdamaian bangsa ini dapat terlaksana dengan cara dan ilmu ulama.

"Jalan dengan cara ulama adalah memutus mata rantai dendam kebencian dan kekerasan. Menyiram api amarah dengan air dingin yang menyejukkan, berupa iman kepada Allah Yang Maha Kuasa. Begitulah cara dan ilmu ulama menyelesaikan konflik antarsesama," terang M. Jadul Maula, saat dihubungi Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw melalui telepon, Rabu (3/10).?

Dia menyebutkan, jalan dan cara para ulama adalah mengikuti Rasulullah.?

"Ketika beliau (Rasulullah, red.) sebagai pemimpin tertinggi umat, di dalam masjid berbicara langsung pada rakyat adakah di antara kalian yang hak-haknya telah aku ambil dan tidak rela? Silakan ambil kembali hak itu dan hukum qishos aku, supaya aku dapat menemui Tuhanku, terbebas dari belitan beban hak-hak anak Adam. Itu teladan panutan kita dalam menyelesaikan urusan dengan sesama. Kita wajib mengikutinya," papar Jadul yang juga pengasuh Pesantren Kaliopak, Bantul.

Jiwa bangsa ini, tegas Jadul, perlu dikembalikan lagi pada jalan rahmat atau kasih sayang, jiwa yang takut melanggar, dan mengambil hak-hak orang lain. "Menurut para ulama kita, tujuan mendirikan bangsa adalah juga untuk menjaga hak-hak manusia tersebut. Itu yang kita kenal dengan al-masholihul ammah, kemaslahatan-kemaslahatan umum. Inilah bagian dari khittah Indonesia 1945 yang kita suarakan di Munas Cirebon itu," tegasnya.

Khusus terkait PKI, Jadul berpendapat bahwa peristiwa 65 serta rangkaian sebelum dan sesudahnya, telah merenggut paksa keseluruhan masholih itu, dan ironisnya pemerintah tidak bisa menjaganya. "Para ulama NU yang ikut mendirikan negara ini, saya yakin menangisi keseluruhan peristiwa 65 tersebut. Karena betapapun, korban-korbannya adalah semua, NU korban, juga saudara-saudara sebagangsa," ujarnya.

"Gus Dur ketika minta maaf atas persitiwa 65, saya yakin mewakili spirit ulama, dan beliau kan ulama juga, spirit para pendiri bangsa dan ingin mengembalikan jiwa bangsa pada fitrahnya, menegakkan kembali negara atas tujuan pendiriannya. Dasarnya rahmat, tujuannya adalah kesejahteraan seluruh rakyat, terlindunginya kemaslahatan bersama,"

Ketika ditanya soal tentang para aktivis PKI, dia menjawab, "Apa PKI masih ada? Kalau masih ada, mereka juga harus meminta maaf. Jangan bilang PKI tidak bersalah. Peristiwa Madiun 1948 itu PKI. Kita harus saling meminta maaf dan memaafkan."?

"Mari, semua elemen bangsa mencontoh Gus Dur yang telah minta maaf sebagai pemimpin agama atau ulama, dan sebagai pemimpin bangsa. Dengan meminta maaf, yang tampak dari Gus Dur adalah kebenaran, kekuatan dan kebesarannya," pungkasnya.

Penulis: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw Kajian, Habib, AlaNu Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Sunday, February 18, 2018

GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi!

Subang, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar mengatakan, sudah saatnya kader GP Ansor bangkit dari segala keterpurukan.

"Ketika hari ini orang lain menilai bahwa kemiskinan itu sebuah isu, saya tegaskan bahwa kemiskinan itu sudah nyata," ujar Deni saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Subang di Pondok Pesantren Al-Istiqamah, Kebondanas, Pusakajaya, Subang, Selasa (29/11).




GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi! (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi! (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi!

Dikatakan, sebagai organisasi kaderisasi, GP Ansor harusnya tampil untuk memberikan pembinaan dan pemberdayaan bagi para anggotanya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Salah satunya dengan penguatan kapasitas dan revitalisasi pemberdayaan kader. Jika itu dijalankan, niscaya GP Ansor menjelma sebagai organisasi yang besar," katanya.

Dengan penguatan kapasitas tersebut, lanjut Deni, hendaknya bisa memanfaatkan potensi dan peluang yang ada sehingga kader Ansor tidak kesulitan lagi dalam mengembangkan kreativitasnya itu.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Terlebih, kader-kader Ansor sebetulnya memiliki skill individu yang bisa dikembangkan menjadi sebuah hasil karya yang baik. Tentu didorong dengan semangat yang tinggi," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaNu, AlaSantri, Cerita PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Monday, February 12, 2018

Pelajar Nurul Jadid Ini Ikuti Kompetisi Chinese Britke di Tiongkok

Probolinggo, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Siswa Kelas XI Bahasa SMA Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo, Muhammad Taufiqurahman akan mewakili Indonesia di ajang kompetisi Chinese Britke di Beijing, Tiongkok mulai 14 hingga 30 Oktober mendatang.?

Motivasinya berangkat ke Tiongkok karena ingin mengangkat derajat orang tuanya dan derajat santri. Sebab selama ini dirinya mengaku tidak sependapat dengan anggapan bahwa santri itu hanya bisa mengaji saja. Pasalnya santri bisa menguasai berbagai ilmu, termasuk penguasaan bahasa asing.




Pelajar Nurul Jadid Ini Ikuti Kompetisi Chinese Britke di Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Nurul Jadid Ini Ikuti Kompetisi Chinese Britke di Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Nurul Jadid Ini Ikuti Kompetisi Chinese Britke di Tiongkok

Sebelum berangkat ke negeri tirau bambu tersebut, Taufik dilepas secara khusus oleh Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo di Gedung Islamic Center (GIC) Kota Kraksaan, Selasa (4/10).

Dalam kesempatan tersebut, secara khusus anak tunggal pasangan Munawar dan Lasmiwati ini unjuk kebolehan dengan berpidato menggunakan Bahasa Mandarin. Dengan fasih dia berpidato yang intinya ingin memperkenalkan diri dan pamit. Selama kurang lebih 2 (dua) menit, dia berpidato tanpa ada rasa canggung.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Usai berpidato, Tantri meminta agar dalam yang diikuti oleh 60 negara lainnya di dunia ini Taufik juga memperkenalkan potensi dan ikon yang ada di Kabupaten Probolinggo. “Kenalkan Kabupaten Probolinggo dengan menggunakan bahasa Mandarin. Sampaikan kalau disini ada Gunung Bromo,” katanya.

Taufik bercerita bahwa dalam lomba nanti ada 4 (empat) hal yang harus diikuti selama berada di Tiongkok. Meliputi, tes tulis, pidato Bahasa Mandarin, tanya jawab dan penampilan kebudayaan daerah.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Tiga hari pertama di Beijing, nantinya akan dilakukan pengenalan lingkungan dan kunjungan ke KBRI. Selanjutnya akan diadakan lomba individu, lomba antar negara dan lomba antar benua,” jelasnya.

Sebagai persiapan ke Beijing ini, Taufik mengaku jauh-jauh hari sebelumnya sudah melakukan persiapan baik latihan maupun pemantapan. Terlebih dengan makanan yang ada di Beijing. “Tetapi disana sekarang sudah banyak makanan yang halal,” tambahnya.

Keikutsertaannya dalam lomba ini bagi Taufik adalah ingin mengangkat derajat orang tua dan santri. Sebab banyak isu beredar jika santri banyak yang kurang terampil dan tak meyakinkan, baik dari segi komunikasi maupun lainnya. “Makanya dengan ini kami ingin membuktikan kalau santri juga mampu dan tak kalah dengan lainny. Saya ingin mengangkat derajat para santri,” tegasnya.?

Sementara Kepala SMA Nurul Jadid Faizin Syamwil mengatakan bahwa saat ini sudah ada 58 anak didiknya yang sudah menjadi mahasiswa di Tiongkok. “Memang di sekolah kami sudah menerapkan program unggulan bahasa,” katanya.

Faizin mengharapkan agar keberangkatan Taufik ke Tiongkok ini bisa memberikan motivasi kepada siswa yang lain di Kabupaten Probolinggo bahwa tidak ada yang tidak mungkin kalau mau belajar dan berusaha. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan, AlaNu PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sastra Pesantren, Akhir Keterasingan Pesantren terhadap Kota

Jakarta, Persatuan Habib Jawa Timur. Kemunculan beragam karya sastra dengan latar kehidupan pesantren atau—yang kemudian disebut sastra pesantren—dalam khazanah sastra di Indonesia dewasa ini merupakan fenomena baru yang unik. Kemunculannya yang selanjutnya diikuti lahirnya penulis-penulis sastra dari kalangan remaja pesantren dinilai sebagai akhir dari keterasingan pesantren terhadap kehidupan perkotaan.

“Lahirnya penulis-penulis (sastra-Red) cilik atau remaja dari kalangan santri merupakan tanda berakhirnya alienasi (baca: keterasingan-Red) dunia pesantren terhadap kota,” kata Jamal D Rahman, Pemimpin Redaksi Majalah Horizon, saat menjadi narasumber pada acara Temu Penulis Remaja Pesantren di Kantor Wahid Institut, Jalan Taman Amir Hamzah, Matraman, Jakarta, Selasa (27/2) kemarin.

Acara yang diikuti pelajar SMU se-DKI Jakarta itu juga menghadirkan dua novelis remaja pesantren. Antara lain Penuli novel Tarian Cinta Maia Rosydah dan Penulis novel Gus Yahya: Bukan Cinta Biasa Fina Af’idatussofa.




Sastra Pesantren, Akhir Keterasingan Pesantren terhadap Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
Sastra Pesantren, Akhir Keterasingan Pesantren terhadap Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

Sastra Pesantren, Akhir Keterasingan Pesantren terhadap Kota

Jamal mengungkapkan, dalam sejarahnya, keberadaan pesantren di Indonesia muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan. Komunitas pesantren membuka ruang perlawanan terhadap pemerintah kolonial yang berbasis di kota dengan menciptakan banyak tradisi kebudayaan yang berbeda, termasuk dalam kesenian; sastra, musik, seni rupa, seni peran, dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, lanjut Jamal, pesantren selalu mengambil posisi berlawanan dengan tradisi dan kebudayaan perkotaan yang dibawa kaum kolonial. “(kaum penjajah-Red) Belanda pakai celana, santri pakai sarung. Belanda pakai dasi, santri pakai peci. Belanda membaca sastra roman, santri membaca nadhoman. Belanda memainkan musik jazz atau blues, santri memainkan musik gambus atau kasidah. Belanda hidup di kota, santri di desa. Begitu seterusnya. Semuanya dalam posisi berlawanan,” terangnya.

Oleh karenanya, munculnya penulis-penulis remaja dari pesantren yang baru terjadi dewasa ini merupakan warna tersendiri dalam dunia sastra di Tanah Air dan patut diapresiasi. “Sastra tidak lagi terbagi pada sastra serius, sastra populer, dan lain-lain. Tapi juga ada sastra pesantren,” katanya.

Persatuan Habib Jawa Timur

“Di era 1960-an sempat muncul nama Jamal Suherman, novelis dari kalangan santri, karyanya mengambil setting (latar-Red) pesantren. Namun, hal itu tidak menggejala dan seolah menjadi tren baru dalam dunia sastra seperti sekarang ini,” tambah Jamal.

Sisi positif lain dari fenomena baru tersebut, menurut Jamal, generasi muda saat ini punya tambahan referensi bacaan sastra yang lebih memiliki semangat remaja. Karya sastra yang pasarnya adalah untuk remaja, katanya, akan memilki rasa yang lebih mewakili kehidupan seputar remaja.

“Karya sastra untuk remaja yang ditulis oleh generasinya jelas lebih memiliki rasa. Berbeda dengan penulis yang lain generasi, penulis tua, tapi karyanya untuk remaja sekarang. Rasanya pasti lain,” ungkap Jamal.

Selain itu, ujar Jamal, sastra pesantren juga berjasa dalam mengenal dunia pesantren kepada masyarakat luas. Dengan demikian, hal itu juga akan membantu merubah pandangan buruk orang luar terhadap pesantren yang belakangan dinilai sebagai sarang teroris. (rif)

Persatuan Habib Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Persatuan Habib Jawa Timur AlaNu Persatuan Habib Jawa Timur

Saturday, February 10, 2018

Sekjen MUI Ajak Masyarakat Kritisi Konten Pemberitaan dan Buku Bacaan

Jakarta, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia H Anwar Abbas mengatakan perkembangan dan kemajuan teknologi informasi saat ini mampu memengaruhi pola pikir masyarakat. Walaupun suasana semangat keberislaman semakin marak diberbagai media, harus diwaspadai konten-konten negatif yang juga mengiringi fenomena ini.




Sekjen MUI Ajak Masyarakat Kritisi Konten Pemberitaan dan Buku Bacaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen MUI Ajak Masyarakat Kritisi Konten Pemberitaan dan Buku Bacaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen MUI Ajak Masyarakat Kritisi Konten Pemberitaan dan Buku Bacaan

"Kalau tidak hati-hati, masyarakat bisa terpengaruh dari apa yang dibaca dan didengar dimedia," katanya saat memberikan sambutan pada Silaturahmi Nasional Stakeholders Konten Keislaman dengan Tema Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Konten Keislaman untuk Penguatan Ukhuwah Islamiyah dan Persaudaraan Kebangsaan Ukhuwah Wathoniyah di Hotel Santika, Jakarta, Kamis (7/12).

Ia menilai saat ini ada pihak tertentu yang memiliki niatan merusak Islam dengan menjauhkan agama dari sendi-sendi kehidupan umat Islam di Indonesia. Salah satunya, menurutnya, disebarkan melalui konten-konten pemberitaan dan buku-buku bacaan.

Kondisi ini menjadi salah satu tugas MUI melalui Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI-MUI) untuk meneliti dan mengkritisi konten-konten buku dan media informasi lainnya yang akan merusak pola fikir masyarakat.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Dengan mengkritisi, diharapkan LPBKI-MUI mampu mengubah citra Islam yang saat ini ada sebagian kelompok mencoba merusaknya," ungkapnya.

Langkah-langkah ini merupakan usaha konkrit MUI dalam rangka menjaga dan berkhidmah kepada umat. Lebih lanjut ia menjabarkan tugas MUI diantaranya lihimayatiddin (menjaga agama), lihimayatil ummah (menjaga Ummat) dan lihimayatid daulah (menjaga negara).

"Bangsa Indonesia sepakat bahwa Indonesia adalah Darul Ahdi was Syahadah. Negara yang dibangun dengan kesepakatan. Oleh karenanya kita wajib menjaga Negara Indonesia, ideologi Pancasila, dan UUD 1945," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaNu PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tuesday, February 6, 2018

Pemkab Boyolali Bangun Masjid Agung

Boyolali, Persatuan Habib Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Boyolali mulai melaksanakan proyek pembangunan Masjid Agung di kompleks perkantoran Pemkab Boyolali. Hal tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama, Jumat (11/4) lalu.




Pemkab Boyolali Bangun Masjid Agung (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Boyolali Bangun Masjid Agung (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Boyolali Bangun Masjid Agung

Peletakan dihadiri Bupati Boyolali Seno Samudero beserta sejumlah tokoh agama dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Boyolali.

Menurut Bupati, selain masjid di tempat tersebut juga akan dibangun beberapa tempat ibadah lainnya, yakni gereja, pura dan wihara. “Ini mungkin yang pertama kali di Indonesia,” ujar Seno.

Persatuan Habib Jawa Timur

Pihaknya berharap dengan adanya beberapa tempat ibadah dalam satu kompleks ini, pemeluk kelima agama tersebut dapat menjalin kerukunan antar umar beragama. Sehingga akan tercipta suasana aman dan kondusif

Persatuan Habib Jawa Timur

Senada dengan Bupati, Ketua FKUB yang juga menjadi pengurus PCNU Boyolali, KH Habib Masturi berpesan agar tempat ibadah ini dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan kepada Allah swt. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Persatuan Habib Jawa Timur Kajian, AlaNu Persatuan Habib Jawa Timur

Monday, February 5, 2018

Kapolri Beri Amanat pada Apel Hari Santri 2017 di Tugu Proklamasi Besok

Jakarta, Persatuan Habib Jawa Timur. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini memastikan Kapolri Jenderal M. Tito Karnavian bakal menyampaikan amanatnya pada apel Hari Santri 2017, Ahad (22/10) besok di Tugu Proklamasi Jakarta Pusat.

Kapolri yang dahulu kakeknya pernah nyantri kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang ini akan menyampaikan beberapa amanat terkait perjuangan santri dan peran bangsa Indonesia saat ini dalam menjaga stabilitas nasional.




Kapolri Beri Amanat pada Apel Hari Santri 2017 di Tugu Proklamasi Besok (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolri Beri Amanat pada Apel Hari Santri 2017 di Tugu Proklamasi Besok (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolri Beri Amanat pada Apel Hari Santri 2017 di Tugu Proklamasi Besok

Selain Kapolri, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj juga akan memberikan sambutan pada apel tersebut. Apel yang sama juga dilakukan pada peringatan Hari Santri dua tahun lalu. Dimana Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan amanatnya.

Hari Santri 2017 yang mengangkat tema Meneguhkan Peran Santri dalam Bela Negara, Menjaga Pancasila, dan NKRI ini mengadakan pembacaan 1 miliar shalawat nariyah pada Sabtu (21/10) malam. Majelis pembacaan shalawat nariyah ini digelar di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.

Persatuan Habib Jawa Timur

Pembacaan 1 Milyar Shalawat Nariyah ini sudah dilakukan untuk kedua kalinya. Pada peringatan Hari Santri 2016 lalu, hal yang sama juga dilakukan oleh Nahdliyin di seluruh Indonesia.

"Tahun lalu kita Alhamdulillah diberi kelancaran saat melakukan pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah serentak di seluruh Indonesia. Tahun ini kita juga melibatkan teman-teman PCINU di seluruh dunia. Jadi insyaAllah Nahdliyyin akan mengguyur langit, bukan saja langit Indonesia, namun juga langit dunia, dengan lantunan Shalawat Nariyah," jelas Helmy Faishal Zaini.

Pembacaan 1 Milyar ini Shalawat ditujukan akan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang aman, makmur, adil, dan berkah. Lewat lantunan Sholawat Nariyah, segenap Nahdliyin diajak untuk mendoakan keselamatan bangsa.

Persatuan Habib Jawa Timur

Selain agenda pembacaan 1 miliar shalawat nariyah dan apel Hari Santri, PBNU juga menginstruksikan kepada seluruh warga NU untuk menggelar upacara bendera. Upacara ini ditujukan untuk menghormati para pejuang kemerdekaan Indonesia, khususnya para kiai dan santri. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Persatuan Habib Jawa Timur AlaNu, Pertandingan, Nasional Persatuan Habib Jawa Timur

Thursday, February 1, 2018

Laporan Tahunan IPPNU Tegal Dikritik dan Dipuji

Tegal, PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah 

Laporan Tahunan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahlatul Ulama (PC IPPNU) Kabupaten Tegal yang telah dilaksanakan baru-baru ini di Gedung PCNU Kabupaten Tegal nampaknya menjadikan pengurus harus sigap dan melakukan terobosan. Pasalnya sebagai organisasi yang terbuka IPPNU juga menerima kritikan dan pujian. 

“Kami dari PAC IPPNU Kramat, saya mengucapkan terima kasih kepada pengurus cabang yang telah membuka diri dalam laporan tahunan ini, yang kedua ada beberapa hal yang kami sampaikan terkait dengan agenda PC, yang telah mengeluarkan surat pengesahan kepada ranting-ranting yang belum maksimal, tetapi ini  juga bisa terobati setelah kegiatan ini banyak ilmu yang kami dapat, untuk itu dengan segenap hati kami menerima laporan tahunan ini,“ kata salah satu pengurus PAC IPPNU Kramat dalam pandangan organisasinya.




Laporan Tahunan IPPNU Tegal  Dikritik dan Dipuji (Sumber Gambar : Nu Online)
Laporan Tahunan IPPNU Tegal Dikritik dan Dipuji (Sumber Gambar : Nu Online)

Laporan Tahunan IPPNU Tegal Dikritik dan Dipuji

Lain dengan ketua PAC IPPNU Kecamatan Dukuhwaru Evi Mastuti, dia menganggap PC IPPNU Kabupaten Tegal telah melakukan kerjanya secara maksimal di tahun terakhir “Saya terus terang saja melihat pengurus cabang selama ini bisa dibanggakan karena upaya kaderisasi dan mekanisme organisasi telah dijalankan dengan baik, meski jauh dari sempurna karena tidak ada manusia yang sempurna,“ pujinya.

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementra Ketua PC IPPNU Kabupaten Tegal Lutfatun Nukhla menjelaskan bahwa adanya laporan tahunan bertujuan untuk mengevaluasi selama pertengahan periode sehingga ada jalan yang dapat dipahami secara bersama. 

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Ini merupakan wujud keterbukaan kami menerima masukan hingga kritikan agar menjadi lebih baik ke depan, mudah-mudahan dengan ini bisa memberikan makna dan transparansi dalam menjalankan roda organisasi dan yang lebih penting adalah kaderisasi ke depan,“ katanya.

Lutfah yang asal kecamatan Kedungbanteng itu juga mengatakan kegitan laporan tahunan juga dibarengi dengan pendidikan dan latihan (Diklat) kesekretariatan yang memberi materi adalah Sekretaris Pimpinan Pusat Bidang Kaderisasi Farida Faricha dan juga materi keorganisasian dengan pemateri Pimpinan Wilayah (PW) IPPNU Jawa Tengah Ni’matul Azizah.

Luftah menganggap perlunya diklat itu karena masih banyak PAC-PAC di Kabupaten Tegal belum tertib administrasi dan organisasi. Selain itu sebagai sarana mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta terhadap kinerja organisasi sehingga mendapatkan gambaran atau konstruksi yang jelas dalam menatapnya ke depan. 

Sementara dalam pembukaannya ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal H Ahmad Wasy’ari memandang IPPNU memilki potensi yang sangat luar biasa, sehingga perlu dikembangkan karena bagaimanapun IPPNU merupakan sayap yang tidak bisa dipisahkan dari Nahlatul Ulama.

“Ini saatnya kita mengembangkan dengan sungguh-sungguh hingga tercipta tatanan yang lebih baik dan terarah sehingga kita kedepan bisa disegani lawan ataupun kawan,“ pintanya singkat.  

Akhir dari kegiatan laporan tahunan itu adalah 11 dari 14 PAC menerima tanpa catatan apapun, 3 PAC dinyatakan belum menerima dikarenakan berhalangan hadir. PAC yang tidak hadir itu diantaranya adalah PAC Kecamatan Dukuhturi, PAC. IPPNU Kecamatan Warureja dan PAC Jatinegara. Kegiatan satu hari satu malam itu diikuti pengurus cabang dan pengurus anak cabang sejumlah 100 peserta.

Turut hadir dalam ksempatan itu Ketua PCNU Kabupaten Tegal H Ahmad Wasy’ari, Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Tegal Alfiyah, Pembina Cabang, Sekretris Pimpinan Pusat Farida Faricha, Ketua PW IPPNU Jawa Tengah Ni’matul Azizah.  

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz  

Dari Nu Online: nu.or.id

PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaNu, Quote PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Monday, January 29, 2018

Pelajar Indonesia di Turki Tampilkan Ragam Budaya Nusantara

Turki, Persatuan Habib Jawa Timur. Untuk kali pertama, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di kota Bursa, Turki menyelenggarakan acara perkenalan budaya Indonesia yang dikemas dalam program Endonezya ?le Bir Gün, atau "Sehari Bersama Indonesia" di Graha Budaya Prof Dr Mete Cengiz, Uludag University, Bursa, Rabu (27/4) waktu setempat.

“Acara ini merupakan implementasi dari suatu ide yang sangat brilian, juga merupakan acara perdana yang dilaksanakan di kota terbesar keempat di Turki oleh PPI Bursa. Hasilnya pun sangat memuaskan para penonton,” kata Pelaksana Konsulat Jenderal Indonesia di Istanbul, Harlan H. Hakim.

Ketua PPI Bursa Teuku Muammar Rizki mengatakan, acara ini didukung penuh oleh KBRI Ankara, KJRI Istanbul, serta Uludag University sebagai tuan rumah. ?




Pelajar Indonesia di Turki Tampilkan Ragam Budaya Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Indonesia di Turki Tampilkan Ragam Budaya Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Indonesia di Turki Tampilkan Ragam Budaya Nusantara

Sejak pukul 17.00 waktu Turki, pengunjung telah berdatangan dan langsung mengerumuni beberapa stan pameran yang menyuguhkan makanan-makanan khas nusantara serta beragam koleksi budaya yang langsung dibawa dari Indonesia.

Puncak acara terjadi pukul 20.30. Berbagai aliran musik dan tarian daerah ditampilkan, drama Rama-Sinta juga menjadi sajian menarik bagi pengunjung. Menjelang berakhirnya acara muncul sejumlah penari Saman yang langsung mendapat sambutan lebih? dari? 1500 penonton yang memenuhi ruangan terbesar di graha budaya tersebut.

“Saya sangat surprise melihat kegiatan mahasiswa Indonesia di sini. Tahun depan jika kegiatan semacam ini akan diadakan lagi, kami siap memberikan dukungan penuh,” terang Rektor Uludag University, Prof Dr Yusuf Ulcay.

Persatuan Habib Jawa Timur

Pada kesempatan tersebut, Indonesia melalui KBRI Ankara juga menjalin kerjasama dengan Uluda? University dalam bidang pendidikan. Rencana ini meliputi kerjasama dengan 10 universitas besar di Indonesia serta pertukaran pelajar antarkampus. (M Mu’afi Himam/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Persatuan Habib Jawa Timur AlaNu, Kajian Sunnah, IMNU Persatuan Habib Jawa Timur

Persatuan Habib Jawa Timur

GP Ansor Trangkil Siapkan Reorganisasi Ranting-ranting

Pati, Persatuan Habib Jawa Timur

Pertemuan bulanan Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa Tengah memunculkan masukan agar pengurus setempat fokus melakukan reorganisasi di tiap-tiap ranting GP Ansor di Kecamatan Trangkil.

Forum rutin yang diikuti para alumni program Pendidikan Dan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser (Barisan Ansor Serbaguna) Kecamatan Trangkil tersebut juga menjadi ajang silaturahim, konsolidasi antaranggota, dan pembahasan beberapa hal.




GP Ansor Trangkil Siapkan Reorganisasi Ranting-ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Trangkil Siapkan Reorganisasi Ranting-ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Trangkil Siapkan Reorganisasi Ranting-ranting

“Kami menyadari, pengurus Ansor memang harus segera dibentuk pembaharuan kepengurusan untuk mengoptimalkan Gerakan Pemuda Ansor. Karena banyak pengurus yang umurnya lebih dari 40 tahun,” ujar ketua PAC GP Ansor Kecamatan Trangkil Abdul Rohim.

Persatuan Habib Jawa Timur

Pertemuan Ahad (20/3) malam itu juga menyinggung soal agenda pengajian di Desa Sambilawang, Kecamatan Trangkil, yang digelar hari ini, 22 Maret 2016. “Kami menempatkan 30 personel Banser untuk acara pengajian nanti,” ungkap ketua Satkoryon Banser Trangkil H Kholil Ismail.

Persatuan Habib Jawa Timur

Pertemuan kali ini juga dihadiri Wakil Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Pati A Itqonul Hakim. Dia mengapresiasi PAC Kecamatan Trangkil yang selalu aktif dalam kegiatan Ansor. Mulai dari pertemuan rutin, pelatihan pencak silat, hingga pelatihan pengelolaan sampah., Menurutnya, banyak instruktur pelatihan Diklatsar di tingkat cabang yang berasal dari PAC GP Ansor Trangkil.

“Trangkil menjadi PAC yang paling aktif organisasinya. Kami sangat antusias terhadap perkembangan di PAC Trangkil ini. Kami juga siap mendukung setiap kegiatan yang telah diprogramkan,” tutur A Itqonul Hakim. (Hasannudin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Persatuan Habib Jawa Timur AlaNu, Internasional, Tegal Persatuan Habib Jawa Timur

Sunday, January 21, 2018

Filosofi Kenyelenehan Gus Dur

Judul buku : Nyeleneh itu Indah

Penulis : Achmad Mufid AR

Penerbit : Kutub Yogyakarta

Cetakan : 1, 2010




Filosofi Kenyelenehan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Filosofi Kenyelenehan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Filosofi Kenyelenehan Gus Dur

Tebal : 112 halaman

Peresensi : Siti Muyassarotul Hafidzoh*


Persatuan Habib Jawa Timur

Kehebohan ini bermula dari kejadian sederhana. Saat itu, Gus Dur telah diwawancarai oleh majalah Amanah, edisi Mei, 1987, selama lima jam dalam bulan puasa. Gus Dur saat itu tanyai ihwal ide pribumisasi Islam yang dilontarkannya. Gus Dur mencontohkan idenya tersebut dengan bolehnya menggunakan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, sebagai ganti dari assalamu’alaikum.

Saat majalah Amanah tersebar di publik, suara miring langsung menyeruak untuk memojokkan Gus Dur. Bahkan para kiai sepuh di lingkungan nahdliyyin juga resah dengan ulah nakal cucu pendiri NU ini. Tidak tanggung-tanggung, para kiai yang resah dengan Gus Dur ini akhirnya menggelar “pengadilan” buat Gus Dur. Pada 8-9 Maret 1989, sekitar 200 kiai berkumpul di Pesantren Darut Tauhid Cirebon untuk mengadili pemikiran Gus Dur.

Persatuan Habib Jawa Timur

Sekitar 200 kiai tersebut menyusudutkan dan mendakwa Gus Dur dengan beragam sebutan. Berbagai pertanyaan diajukan para kiai dengan nada marah dan menggugat. Tetapi dengan santai dan percaya diri, Gus Dur saat itu menjelaskan bahwa apa yang dilakukan sebenarnya meniru Wali Songo. Gus Dur ingin mempertemukan antara budaya (al-‘adah) dan norma (syariah). Karena Wali Songo menjadi rujukan utama dalam dakwah NU, bagi Gus Dur, maka melanjutkan metode Wali Songo dalam berdakwah adalah tugas para kiai dan ulama’ di Nusantara.

Walaupun telah menjelaskan panjang lebar ihwal ide pribumisasi Islamnya, tetap saja Gus Dur menjadi tokoh yang terkadung mendapat cibiran dari sebagian kiai. Tak terkecuali kiai sepuh yang sangat disegani saat itu, yakni KH As’ad Samsul Arifin, dari Situbondo. Bahkan Kiai As’ad inilah yang melapangkan jalan Gus Dur menuju Ketua Umum PBNU saat Muktamar NU tahun 1984 di pesantrennya Kiai As’ad sendiri. Karena tidak sepakat dengan Gus Dur, Kiai As’ad menyebut Gus Dur saat itu sebagai kiai ketoprak. 

Peristiwa tersebut menjadi monumen penting untuk membaca Gus Dur sebagai sosok nyeleneh, alias kontroversial. Dan buku  ini berusaha membedah kenyelenehan Gus Dur tersebut dalam sebuah tafsir yang juga nyeleneh, karena kalau menggunakan logika positivistik, maka sulit sekali menemukan ritme gerak pemikiran yang diwacanakan Gus Dur. Kaca mata nyeleneh, namun kritis, menjadi perspektif paling menarik untuk membaca segala kenyelenehan Gus Dur.

Logika yang tidak linier yang digunakan penulis untuk membaca ragam kenyelenehan Gus Dur menjadi menarik, karena melihat Gus Dur bukan dengan tafsir sebagaimana selama ini digunakan publik seperti biasanya. Penulis mampu melihat Gus Dur sebagai sosok yang ingin membuka pencerahan, bukanlah dengan cara umumnya, karena masyarakat santri akan mengalami kelambanan dalam gerak mobilitas vertikalnya.

Beragam gerak nyeleneh Gus Dur kalau didalami dengan seksama, justru mengasyikkan dan menyenangkan. Karena pembaca akan menemukan sesuatu yang baru yang sulit menemukannya dalam berbagai fenomena social yang linier. Gus Dur membuka mata batin pemikiran kita agar tidak terjebak dalam simbolisme yang seringkali ambigu.

Kasus mengganti assalamu’alaikum dengan “selamat pagi” bukanlah keinginan Gus Dur untuk mengganti syariat, tetapi sebuah upaya Gus Dur yang sangat brilian karena berupaya mendekatkan syariat dengan tradisi. Gus Dur juga tidak menginginkan masyarakat terjebak dalam tafsir simbolik apa adanya. Gus Dur ingin menggugah kesadaran beragama umat agar kritis dan terbuka. Beragama bukanlah dengan terikat berlebihan dengan simbol. Karena yang jauh lebih penting adalah memahami substansi dari ajaran agama itu sendiri. Terjebak dalam symbol hanya akan membuat keberagamaan menjadi artifisial dan dangkal. Sedangkan kalau mampu memahami ajaran agama substansi ajaran, maka keberagamaan akan semakin jernih.

Gus Dur menginginkan masyarakat agar tidak terjebak dalam dangkalnya keberagamaan. Dalam sebuah ungkapan dijelaskan bahwa yang dianggap adalah yang substansi, bukan pada sisi luarnya (al-‘ibroh bil jauhar la bil madzhar). Gus Dur menginginkan mutiara (jauhar) dalam keberagamaan, bukan pada kulit luar (madzhar) yang seringkali menipu seseorang. Meneguhkan mutiara dalam bersikap di ruang kehidupan inilah yang selalu diasah Gus Dur dengan berbagai kontroversi pemikiran dan tindakan yang kerap kali tidak dipahami secara jernih oleh warga nahdliyyin maupun bangsa Indonesia .

Berbagai sikap kontroversial Gus Dur lahir mengalir begitu saja. Seperti menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKI), membukam malam puisi Yesus, bekerjasama dengan Israel, gabung dengan Institute Simon Peres, menolak hadirnya kaum sektarian (ICMI), hubungan antar agama, dan sbagainya. Semua gerak kontroversi ini lahir mengalir begitu saja, sehingga public menilainya pun dengan beragam tafsir. Ragam tafsir yang tidak searah dan sepihak itulah justru yang diharapkan Gus Dur, sehingga masyarakat tidak terjebak dalam tafsir tunggal yang absolute yang hegemonic.

Dengan berbagai uraian renyah dan kritis, Mufid menyajikan buku ini agar kita bisa melihat kontroversi Gus Dur bukan para aras yang serba salah dan serba disalahkan. Tetapi Mufid menginginkan agar kita terus membaca setiap jejak langkah, agar tak kabur dengan fenomena. Gus Dur hadir bukan untuk menggurui, tetapi untuk mengajak kita semua untuk bersikap kritis, teguh dengan prinsip, dan terbuka tanpa harus tersekat.

*Peresensi dalah peneliti Center for Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.Dari Nu Online: nu.or.id

Persatuan Habib Jawa Timur AlaNu, AlaSantri, Internasional Persatuan Habib Jawa Timur

Futsal Sarungan Awali Semarak Konferensi Pelajar NU Gebog

Kudus, Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw. Ratusan remaja memadati lapangan futsal dukuh Kauman desa Besito kecamatan Gebog, Kudus, Jumat (11/12) pagi. Remaja putra dan putri itu menyaksikan perlombaan futsal di mana pemainnya menggunakan sarung. Pertandingan melibatkan para pengurus Pimpinan Ranting IPNU di bawah Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU Gebog.




Futsal Sarungan Awali Semarak Konferensi Pelajar NU Gebog (Sumber Gambar : Nu Online)
Futsal Sarungan Awali Semarak Konferensi Pelajar NU Gebog (Sumber Gambar : Nu Online)

Futsal Sarungan Awali Semarak Konferensi Pelajar NU Gebog

Penampilan pemain yang bersarung memicu gelak tawa dan sorak semangat para pendukung baik anggota IPNU maupun IPPNU dari masing-masing ranting. Terdapat sembilan kelompok dari sembilan PR IPNU sekecamatan Gebog.

Menurut Sekretaris PAC IPNU Gebog Mahfudz Shiddiq, perlombaan ini merupakan hal yang inovatif dan mempererat persahabatan. "Ini kegiatan yang kami rasa sangat inovatif dan dapat mempererat jalinan keakraban antarsesama pengurus ranting IPNU se-Gebog. Terbukti keramaiannya luar biasa. Setiap ranting membawa pendukung yang tak sedikit jumlahnya. Bahkan ada juga mereka yang membawa tim marcing band," ungkap Mahfudz usai perlombaan.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Permaian berdurasi 2 x10 menit dengan sistem gugur yang akhirnya ini dimenangkan oleh tim dari PR IPNU Klumpit sebagai juara I. Kemudian disusul juara II oleh tim PR IPNU Besito, dan juara III diraih PR IPNU Getassrabi.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Lomba futsal ini adalah yang pertama dari segenap rangkaian acara memeriahkan Konferensi bersama MWCNU, Fatayat NU, IPNU dan IPPNU kecamatan Gebog. "Alhamdulillah, rangkaian konferensi anak cabang IPNU-IPPNU kecamatan Gebog berjalan lancar. Ini yang pertama, lomba futsal bersarung pengurus IPNU se-Gebog. Agenda ini kami kemas dalam satu istilah bertajuk Bulan Prestasi Pelajar dan Santri," terang Ketua IPNU Gebog Muhammad Noor Aris.

Aris berharap semangat di bidang olahraga di kalangan aktivis IPNU semakin berkembang. "Harapan besar kami dengan mengadakan futsal bersarung ini, semoga sportifitas para atlet IPNU se-Gebog senantiasa terjaga dan semakin bisa dikembangkan hingga menjadi atlet-atlet internasional," kata Aris.

Adapun konferensi rencananya akan diselenggarakan pada 27 Desember 2015 di MA-MTs NU Nurussalam, Gebog. (Istahiyyah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw AlaNu, Internasional, Jadwal Kajian Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Saturday, January 20, 2018

PMII Ancam Kerahkan Massa Jika Interpelasi Lapindo Gagal

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mendukung penuh rencana DPR RI yang akan menggelar Sidang Interpelasi dengan agenda meminta keterangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait kasus lumpur PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jawa Timur.

Karenanya, oganisasi berbasis massa mahasiswa NU itu mengancam akan mengerahkan massa sebesar-besarnya ke Gedung DPR-MPR di Senayan, Jakarta, jika ternyata sidang interpelasi yang diharapkan berhasil itu ternyata gagal di tengah jalan.

”Ini (Sidang Interpelasi Lapindo) adalah masalah kemanusiaan,” tandas Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PMII Hery Haryanto Azumi di Graha Mahbub Junaidi, Jalan Salemba Tengah, Jakarta, Kamis (21/6).




PMII Ancam Kerahkan Massa Jika Interpelasi Lapindo Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ancam Kerahkan Massa Jika Interpelasi Lapindo Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ancam Kerahkan Massa Jika Interpelasi Lapindo Gagal

Hery, mengatakan, masalah Lapindo tak boleh dipandang sebelah mata oleh pemerintah dan DPR. Hery mengaku tak kuasa melihat kondisi para korban Lapindo yang hingga kini belum mendapatkan kejelasan nasib. Padahal bencana itu telah melebihi satu tahun.

”Persoalannya, kalau DPR juga tidak peduli kepada nasib rakyat, ke mana lagi korban meminta pertolongan,” ungkapnya.

Sidanng Interpelasi, kata Hery, adalah pintu masuk bagi pemerintah dan DPR untuk berjalan bersama dalam rangka memberikan yang terbaik untuk korban Lapindo. Masalah ganti rugi yang hingga kini belum terpenuhi dan korban yang masih terlantar, katanya, bisa dibicarakan oleh pemerintah dan DPR melalui sidang interpelasi tersebut.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

“Saya kira sekarang telah masuk pada tahap darurat. Bayangkan saja, korban sudah banyak yang ingin bunuh diri karena merasa tidak kuat memikul beban hidup. Belum lagi dampak sosial lain yang jelas kelihatan di depan mata,” tutur Hery.

Karena itu, Hery meminta kepada DPR untuk tak ragu lagi dalam bersikap. Yang penting, katanya, interpelasi tersebut tidak hanya sekedar manuver politik DPR saja. Kepada Presiden Yudoyono, PMII berharap, orang nomor satu di Indonesia itu berani menghadapi interpelasi, karena inisiator interpelasi telah menjamin tidak akan menjatuhkan Presiden.

”Menurut kami, interpelasi bisa menghasilkan konsensus untuk mengatasi masalah Lapindo secara bersama-sama. PT Lapindo sendiri tak boleh melepaskan tanggung jawab,” ujarnya. (rif/amh)

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw Budaya, AlaNu Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Tuesday, January 16, 2018

Alissa Wahid: Isomil Langkah Proaktif NU Wujudkan Islam Ramah

Jakarta, Persatuan Habib Jawa Timur. Putri sulung Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid menyatakan bahwa Isomil (International Summit of The Moderate Islamic Leaders) yang diselenggarakan PBNU merupakan sikap dan langkah proaktif NU dalam mengampanyekan Islam ramah melalui karakter Islam Nusantara yang masih menjadi tema besarnya.

Hal ini disampaikan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian ini kepada Persatuan Habib Jawa Timur saat memenuhi undangan acara pembukaan Isomil, Senin (9/5) di Gedung Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta Pusat.




Alissa Wahid: Isomil Langkah Proaktif NU Wujudkan Islam Ramah (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid: Isomil Langkah Proaktif NU Wujudkan Islam Ramah (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid: Isomil Langkah Proaktif NU Wujudkan Islam Ramah

“Saat ini wajah Islam di dunia yang muncul wajah Islam yang marah. Sebab itu, karakter Islam Nusantara yang lentur dan inklusif sangat dibutuhkan di tengah kondisi dunia Islam khususnya di Timur Tengah yang dipenuhi dengan radikalisme dan tindakan terorisme,” jelas Alissa.

Dia menerangkan, tak sedikit penduduk dunia yang terkesan dengan cara beragama di Indonesia. Hal ini memberi dampak bahwa banyak warga dunia yang berharap pada Indonesia untuk terus memberikan inspirasi dan mendorong perdamaian dunia.

Persatuan Habib Jawa Timur

Perempuan yang kini aktif menjabat sebagai Sekretaris LKKNU ini juga menceritakan ketika beberapa minggu yang lalu dirinya memenuhi undangan pertemuan International di Berlin dan negara-negara muslim. Di sana, terang Alissa, yang muncul adalah wajah Islam yang bengis dalam menyikapi berbagai perbedaan.

“Sebab itu kemudian ketika mereka melihat keharmonisa Islam di Indonesia, mereka semacam mendapatkan oase di di tengah padang pasar yang panas dan gersang,” tutur anak pertama Gus Dur dari empat bersaudara ini.

Persatuan Habib Jawa Timur

Keharmonisan di Indonesia yang telah tumbuh dan teguh selama berabad-abad jangan sampai ternodai dengan perilaku beragama yang marah, keras, tertutup, dan anti-perbedaan. “Karena kalau sedikit-sedikit menolak perbedaan, pokoknya harus begini dan begitu, maka yang timbul pemahaman hitam putih yang mengarah pada radikalisme,” terang Alissa. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Persatuan Habib Jawa Timur AlaNu, Pondok Pesantren Persatuan Habib Jawa Timur